Mengambil Pelajaran Dari Sultan Mehmed II Sang Penakluk Konstantinopel

Mengambil Pelajaran dari Sultan Mehmed II Sang Penakluk Konstantinopel

Sultan Mehmed II lebih masyur dikenal dengan nama Muhammad Al-Fatih adalah Sultan ke-7 Kerajaan Utsmani, sebutan orang arab (الفاتح, el-Fatih) “Sang Penakluk” disebabkan dizamannyalah penaklukan konstantinopel tergenapi 1453M, meski pernah dilakukan awal pada zaman Mu'awiyah bin Abi Sufyan 48 H atau tahun 669 M dan 674 M, pasukan Bani Umayah yang dipimpin Yazid bin Muawiyah, masa Sulaiman bin Abdul Malik (98 H) dikomandoi Maslamah bin Abdul Malik, masa Kekhalifahan Abbasiyah, Harun Ar-Rasyid pada tahun 165 H. 

Mengambil Pelajaran Dari Sultan Mehmed II Sang Penakluk Konstantinopel

Konstantinoper pernah takluk saat kerajaan Utsmani pada perang salib 4 Tahun 1204. Dibentuklah kekaisaran Romawi Timur Katolik/Kekaisaran Latin. Konstantinopel, kota yang didirikan Kaisar Romawi Konstantinus Agung pada 330 M, termasyur dan terdepan dari segi kebudayaan dan kesejahteraan, utamanya pada masa Wangsa Komnenos, berabad berikutnya kota Hagia Sophia menjadi tempat mabuk-mabukan, berbagai bangunan sekuler dan keagamaan (gereja dan biara) tidak luput dari pengrusakan, para biarawati diperkosa di biara mereka, dan orang-orang yang sekarat terbaring sampai mati di jalan-jalan. (Steven Runciman, A History of the Crusades, Cambridge 1966 [1954], vol 3, p.123.).

Muhammad AlFatih atau Mehmed II lahir di Edirne, Turki, pada 30 Maret 1432. Ia merupakan putra dari Sultan Murad II dan Huma Valide Hatun. Sejak kecil sudah dapat pendidikan spiritual, kepemimpinan, matematika, geografi, sejarah, bahasa bahkan ilmu militer. Menimba ilmu dari banyak guru termasuk Syaikh Muhammad Syamsuddin bin Hamzah yang masih merupakan keturunan Abu Bakar As-Siddiq, Syeikh Ahmad bin Ismail Alkawrani dan Molla Gurani.

Pada umur 11 Tahun Mehmed II berangkat ke Amasya diutus ayahnya Sultan Murad II untuk menggenapi tradisi Utsmani pada generasi cukup umur untuk memegang suatu wilayah sebagai cikal-bakal menjadi menjadi takhta.

Kerajaan Utsmani mengadakan perjanjian damai dengan Kadipaten Karaman di Anatolia pada 1444, setelah itu Sultan Murad II memberikan kepemimpinan kepada anaknya Mehmed II pada umur 12 tahun, hal ini sebabnya kerajaan banyak diambil alih oleh perdana Mentri Çandarlı Halil Pasya, berhasil menciptakan politik dinasti dalam negara. 

Çandarlı Halil Pasya adalah Perdana Menteri yang tidak senang dengan Syaikh Muhammad Syamsuddin, pasca penaklukan Konstantinopel Inilah peristiwa Wazir Agung pertama dihukum mati oleh Sultan.

Saat itu, pasukan Hongaria melanggar perjanjian dan menyerang Mehmed II karena dipengaruhi oleh utusan Paus Martinus V, yaitu Kardinal Julian Cesarini. Tidak siap menghadapi pasukan Hongaria, Muhammad Al Fatih memohon kepada ayahnya agar naik takhta kembali. 

Meski sempat menolak, Murad II kembali naik takhta pada 1446 dan memimpin hingga akhir hayatnya pada 1451. Sepeninggal Murad II, Mehmed II yang telah berusia 19 tahun, kembali memegang tampuk kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah.

Persiapan dan rencana penyerangan harus matang dan terukur, kekuatan Konstantinopel bukan hanya pada pasukan, tapi memang pada stuktur benteng, lokasi strategis, dukungan bangsa eropa dan senjata Yunani. Tembok Theodosia berlapis-lapis sulit untuk dijebol, Tembok setinggi 18 Meter sangat mudah mendeteksi musuh, pengamanan laut juga dibentangkan rantai besar diteluk tanduk emas sehingga kapal tidak bisa mendekat, senjata flamethrower juga tak bisa diacuhkan.

Mehmed II mempersiapkan diri secara diplomatik dan militer untuk merebut Konstantinopel. Ia menandatangani perjanjian damai yang menguntungkan Venesia dan Hungaria untuk tetap bersikap netral ketika ia menyerang Konstantinopel.

Sepanjang tahun 1452, Mehmed II menghabiskan waktunya membangun benteng-benteng untuk mengendalikan Laut Bosporus yang mengelilingi kota Konstantinopel.

Selain itu, Mehmed II juga mulai membangun armada sebesar 31 kapal perang galai serta puluhan kapal-kapal lainnya, dan menciptakan meriam baru dengan kaliber yang besar. Untuk ini, ia memanfaatkan bantuan dari ahli senjata Hungaria bernama Urban untuk menciptakan meriam dengan ukuran yang melampaui meriam-meriam di Eropa.

Pada 6 April 1453, Mehmed II mengumpulkan pasukan dengan jumlah besar, antara 80.000 sampai 200.000 orang, kereta api artileri. Mulailah proses pengepungan dari darat dan laut Konstantinopel, ada ucapan teguh seorang Muhammad Alfatih pada saat itu “Hai Konstantinopel! Antara saya menaklukan anda, atau anda menaklukan saya!”. 

Pada Tanggal 22 April 1453 Mehmed II menarik kapal perangnya ke darat, menaiki bukit di sekitar koloni Genova di Galata, dan ke pantai utara Tanduk Emas. Delapan puluh kapal diangkat dari Bosporus setelah membuka rute, kurang lebih satu mil, dengan kayu.

Konstantin XI Palaiologos menolak ultimatum Muhammad Al Fatih untuk menyerah. Konstantinopel dengan pasukan sebanyak 5000 hingga 7000 orang diserang oleh Turki Utsmaniyah. Meriam Turki yang besar ditembakkan ke arah dinding, namun waktu interval penggempuran meriam ini memberi kesempatan bagi pasukan Konstantinopel untuk memperbaiki dindingnya. Tapi setelah melihat kapal perang Mehmed II Bizantium mesti membagi pasukannya ditembok menuju arah laut, dan akhirnya tumbang juga.

Sesuai tradisi ghazi, Mehmed II mengizinkan penjarahan Konstantinopel selama 3 hari. Setelah hari ketiga ia masuk dan segera pergi ke Hagia Sophia, sebuah Gereja Ortodoks dan mengubahnya menjadi Masjid. Setelah menaklukan Konstantinopel, Mehmed II mendapatkan julukannya sebagai ‘Al Fatih’ yang memiliki arti ‘Sang Penakluk’. 

Dimasa Kejayaannya Sultan Muhammad AlFatih mengundang ilmuwan dan astronom, Seniman, humanis dan Cendikiawan untuk membangun kembali kota, disisi ini juga Ia belajar dengan mulai membuat syair-syair yang mengandung nilai spritual.

Sultan Muhammad AlFatih mangkat pada tanggal 3 Mei 1481 di usia 49 tahun. Menurut pendapat sejarawan Colin Heywood, Mehmed meninggal karena diracun putra tertuanya, Bayezid. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa dia diracun oleh dokter pribadinya, seorang mualaf berbangsa Yahudi.

Berita kematian Sultan Muhammad Al Fatih menggembirakan Eropa. Lonceng gereja didentangkan dan perayaan dihelat. Di Venesia, berita itu disebarkan dengan pernyataan, "La Grande Aquila è morta!" (Sang Elang Agung telah mati!).

Dari kisah ini kita dapat menerapkan kepada jiwa muda milenial yakni,

Keteguhan dan Keberaniannya memberikan contoh kepada pasukannya dengan turun langsung dibeberapa perang awal karirnya.

Keikhlasannya yang dapat dilihat dari warisan syair yang dibuatnya “Niatku: Taat kepada perintah Allah, “Dan Hendaklah kalian berjihad di jalan-Nya (Al-Maidah: 35) Wa Hamasi (semangatku): Adalah mengeluarkan semua upaya untuk mengabdi pada agamaku, agama Allah. ‘Azmi (tekadku): Saya akan buat orang-orang kafir bertekuk lutut dengan bala tentaraku, berkat kelembutan Allah. Jihadi (Jihadku): Adalah dengan jiwa raga dan harta benda.

Lalu apa makna dunia setelah ketaatan kepada perintah Allah. Wa Tafkiri (pusat pikiranku): Terpusat pada kemenangan yang datang dari rahmat Allah. Asywaqi (Kerinduanku): Perang dan perang ratusan ribu kali untuk mendapatkan ridha Allah. Wa Raja’I (Harapanku): Adalah pertolongan Allah, dan kemenangan negara inni atas musuh-musuh Allah”.

Disiplin dalam berilmu, sejak kecil di didik oleh guru yang mempunyai nilai spritual yang tinggi, sehingga ilmu yang lainnya akan mudah diserap, Sultan Muhammad Al-fatih, senang dan gemar membaca Al Quran dan Sejarah Pejuang Islam, tak pernah berhenti untuk selalu belajar. Hal ini menjadi penggenapan bagi pejuang yang handal harus mempunyai wawasan yang luas dan tubuh yang kuat.

Cerdas, merupakan efek dari disiplinnya dalam menerapkan ilmu kemiliteran, Sultan Muhammad AlFatih mengetahui Konstantinopel sudah berabad-abad sangat susah ditaklukkan maka dia harus menyiapkan ide dan solusi pada saat penyerangannya.

Gigih dan Ulet, ini harus tertanam dengan baik dalam tiap semua pejuang, 53 hari dalam pengepungan jelas butuh kemauan yang kuat dalam mencapai target dan mendapatkan hasil tujuan bersama, ini jelas tertular pada pasukan Sultan Muhammad Al-Fatih.




Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama