Ratu Adil Bagian Dua

RATU ADIL sudah sering terdengar bahkan sejak zaman kolonialis, ini juga banter dikalangan penggagas dan pendiri bangsa kita. Pangeran Dipanegara juga malah pernah disebut dengan istilah Ratu Adil, dan ditiap adanya istilah ini muncul dapat ditandai dengan kondisi masyarakat yang penuh ketidakadilan, kecemasan, putus asa dan kepasrahan akan tindakan penjajah. Kedatangan Ratu Adil ini memupuk harapan rakyat akan hidup dalam damai dan sejahtera. 


ratu adil


Kalau kita melihat sejarah masapemberontakan dahulu zaman Soekarno ketika Westerling, seorang Belanda yang memecah-belah kesatuan Republik Indonesia, menggunakan nama Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) untuk meraih dukungan rakyat. 

Meskipun tujuannya salah tapi dia menggunakan nama Ratu Adil untuk mengecoh rakyat karena nama ini menjadi elu-elukan ketika banyak terjadi ketimpangan sosial dan ketidakadilan. Intinya masyarakat jika sudah terjadi masa itu dan sudah menjadi titik nadir, maka akan diharapkan adalah kehidupan yang damai, adil dan sejahtera.

Bangsa Nusantara sejak dahulu kala sudah menjadi persimpangan strategis dan menjadi titik temu antarbangsa-bangsa besar di dunia. Karenanya, bangsa yang sudah kaya ini makin kaya akan nilai-nilai peradaban, dari Barat, Timur, dan Timur Tengah yang kesemuanya memiliki benang merah sebab pada dasarnya sumber kebenaran hanyalah satu.  

Wacana tentang pembawa keselamatan hidup bertemu pada titik kesepakatan bahwa ia membawa satu ajaran “agama budi”, kawruh budi, atau akhlak mulia, yang akan membebaskan manusia dari penindasan. Namun, sesuatu yang mulia itu akan membawa umat manusia kepada kemuliaan apabila ia disematkan pada satu gerakan komunitas yang mulia pula. 

Dengan demikian, Ratu Adil sejatinya merupakan personifikasi dari satu komunitas yang mampu menyatukan umat manusia dan mengeluarkannya dari zaman kegelapan menuju zaman terang. Dialah yang akan memimpin umat manusia dan menghapuskan berbagai penindasan, ketidakadilan, dan kesengsaraan. Ratu Adil adalah solusi kepemimpinan umat. 

Selain Ratu Adil, berbagai sebutan bagi sosok pemimpin yang jujur, adil, bijak, dan bestari di antaranya Satria Piningit, Al Mahdi, Imam Mahdi, Almasih, Avatar, Millenarian, Sang Juru Selamat, Mashiach, Messiah, Kristos, dan Mesias. Ratu Adil juga disebut sebagai Herucakra, yakni payung mustika sebagai perlambang atas perlindungan, pengayoman, persaudaraan, atau pelayanan. Ratu Adil atau yang juga bisa disebut Mesias adalah tokoh pembebas dan pencerah bangsa Nusantara.

Seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan spiritual, emosional, dan spiritual. Satria Piningit dan Ratu Adil akan hadir sebagai pemimpin dan kepemimpinan yang piawai dalam memerintah dan mendamaisejahterakan dunia. Sosok pemimpin inilah yang dalam beberapa budaya bangsa disebut sebagai mesias, dan gerakannya disebut dengan mesianik.

Begitu banyak nama tokoh antagonis menyebut dirinya penyelamat, bahkan berhasil meyakinkan orang banyak untuk ikut berperang dan mati dalam nama suku, bangsa, negara, dan bahkan untuk namanya pribadi. Konsep mesianik pada hakikatnya adalah sebuah konsep pembebasan. Konsep ini percaya bahwa Ratu Adil akan membawa rakyat atau umat kepada arah yang lebih baik, kehidupan surgawi di bumi. 

Konsep tetap akan tinggal di ruang hampa jika tidak ada satu pun seorang anak manusia dan kelompoknya yang berusaha dengan sungguh-sungguh melakukan pekerjaan-pekerjaan mesianik. Pada dasarnya, siapa saja berhak untuk mengaku diri sebagai Ratu Adil. Akan tetapi, benar atau tidaknya pengakuan itu dapat kita saksikan bersama melalui pekerjaan-pekerjaan yang dilakukannya.  

Satria Piningit atau Mesias sebagai pembawa kehidupan zaman terang (siang) itu kehadirannya dibenci, tetapi sesungguhnya ia dirindukan. Ia muncul di muka bumi dengan membawa nilai kebangkitan peradaban umat manusia. Nilai-nilai yang diajarkan Mesias di sepanjang zaman selalu berasaskan kebenaran universal, sarat akan norma-norma peradaban yang penuh cinta dan kasih sayang serta akhlak manusia.

Dengan konsepsi kebenaran universal itu, Mesias akan membawa manusia kepada tingkatan kesadaran tertingginya, yakni sebagai manusia paripurna; hamba sejati dari Sang Pencipta. Manusia-manusia bentukan Mesias itulah yang akan menjadi motor kebangkitan peradaban umat manusia di bumi Nusantara. Hanya saja, motor tidak akan dapat melaju kencang jika tidak diisi dengan bahan bakar yang benar. 

Manusia-manusia paripurna itu harus benar-benar memahami tentang ajaran kebenaran universal dan bagaimana para pendahulunya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan mesianik hingga berujung pada kemenangan dan terwujudnya kehidupan damai sejahtera. Oleh karena itu, proyeksi Ratu Adil dan kebangkitan peradaban umat manusia di Nusantara tidak dapat dilepaskan dari tradisi mesianik pada masa lampau di penjuru bumi yang lain, yang bukan di barat dan bukan pula di timur. 

Nabi Muhammad, Yesus, dan Musa adalah tiga tokoh fenomenal dalam sejarah yang tidak dapat disangkal kebesarannya. Suka ataupun tidak, cahaya (ajaran) yang dahulu mereka sampaikan hari ini masih berpendar-pendar di setiap jengkal tanah di bumi, termasuk dominasinya di Nusantara. Ketiga nama besar tersebut sebenarnya hanya mencontoh dan mengikuti jalan hidup (millah) yang dahulu Nabi Ibrahim, Bapak para Nabi, ajarkan. 

Jadi, jika bangsa Nusantara ini ingin mendamaisejahterakan umat manusia, menguasai dunia, dan menjadi mercusuar dunia, caranya mudah: Ikutilah millah Abraham yang benar, niscaya ia akan membawamu kepada kehidupan rahmatan lil ‘ālamīn.

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama