Ratu Adil Bagian 3

Teodisi: Kereta Kencana Sang Ratu Adil ada di Nusantara, mari kita rujuk dari Sang Bapak Para Nabi yakni Abraham/Ibrahim, dahulu namanya dikenal Abram atau Abraham adalah salah satu tokoh sentral dalam sejarah peradaban di wilayah Timur Tengah. Abraham (Arab: Ibrahim) memiliki nama asli Abram (Ibrani) atau Avram (Tiberias) yang berarti bapak yang terpuji atau bapak yang dimuliakan. Abraham adalah seorang patriark terkemuka, sosok teladan, dan pewarta ajaran kebenaran universal, dan seorang monoteis sejati. Darinya, lahirlah tiga agama besar dunia yang hari ini diyakini.

Ratu Adil

Pada ranah spiritual, terhampar nilai-nilai monoteis yang sejalan dengan jalan hidup Abraham. Dari catatan sejarah peniaga Cina dari Abad V Masehi dikatakan bahwa “Agama Brahman” sangat berkembang di Nusantara. Dalam beberapa hal, entitas Abraham dan Brahma memang berkaitan erat. Salah satu istri Abraham bernama Sarah, sementara Brahma memiliki pasangan bernama Saraswati.

Bahkan, menurut studi filologi pun Abraham atau Brahma berasal dari akar kata yang sama dan pada kenyataannya dua nama itu melekat pada satu orang yang sama.

Kisah-kisah yang serupa dengan perjalanan spiritual Abraham terdapat juga dalam sumber-sumber kitab keagamaan di dunia. Kitab Rig Veda, misalnya, yang merupakan kitab tertua di antara keempat Kitab Veda memiliki kemiripan dengan kisah Raja-raja Babilon atau Sumeria. Kisah-kisah Mahabharata di dalam Upanishad juga dikatakan berasal dari kitab-kitab Babilon Purba.

Satu hal yang utama, baik Abraham maupun Brahma sama-sama mengajarkan ajaran atau keyakinan yang sama, yakni ajaran tauhid atau monoteisme, bahwa hanya ada satu tuan yang berhak diabdi, Dialah Allah, Sanghyang Widhi.

Keyakinan dengan corak monoteisme tersebut memiliki penyebutan yang berbeda-beda, di antaranya: Kapitayan, Sunda Wiwitan, Kejawen, Kaharingan, Tjilik Riwut, Ugamo Malim atau nama apa pun yang disematkan (paksa) kepada mereka. Para penjajah, dengan seenak perutnya sendiri, melabeli bahkan membatasi apa yang harus bangsa Nusantara percaya dan yakini. Sekalipun mereka percaya dan iman kepada Keesaan Tuhan, tetapi jika mereka tidak “memeluk” agama resmi yang telah disediakan, mereka akan dikatakan sebagai kelompok penghayat kepercayaan yang seolah-olah tidak mengenal ajaran tauhid. Bahkan, penyebutan “agama asli” atau “agama lokal” Nusantara sebagai praktik penyembah berhala (animisme-dinamisme) disematkan secara paksa. Oleh karena itu, artefak dan lelaku bangsa Nusantara yang sejatinya menggambarkan (simbol) keyakinan tauhid dikatakan sebagai berhala.

Sejatinya, manusia adalah makhluk simbol. Dalam perspektif semiotika atau ilmu simbol, manusia dan alam semesta secara prinsip pun adalah bagian dari simbol atas eksistensi Sang Pencipta. Kemiripan simbol-simbol–baik itu berupa objek visual, tulisan, tuturan atau bahasa, perilaku budaya, maupun objek materiel (bentuk bangunan atau patung) dapat disajikan sebagai objek utama dalam kajian semiotika terkait hubungan antara Abraham dan Brahma di Nusantara.

Dalam ajaran leluhur bangsa Nusantara, Abraham atau Brahma merupakan sandi-kala; time-code; atau penanda masa dalam pribadi manusia, peradaban manusia, dan peradaban semesta. Siklus kehidupan bumi yang diakibatkan oleh pergeseran waktu pun dapat dibaca melalui pola sandi-kala tersebut. Perhitungan kehancuran bumi yang dilakukan para leluhur Nusantara, misalnya, sudah berulangkali terjadi dalam sejarah peradaban umat manusia. Kemampuan “meramal” (melihat sesuatu yang belum terjadi atau ghaib) bangsa Nusantara bukanlah hasil imajinasi tanpa dasar ilmu, melainkan kemampuan membaca pola pergiliran peradaban yang sudah pernah terjadi dan akan terus terulang kembali. Dalam konteks itulah kata Brahma (dalam sandi lain disebut juga daksina; selatan; atau merah) digunakan sebagai penanda peradaban manusia, dari awal hingga akhir (puncak)-nya.

Dalam konteks yang sama, Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa–dialah Raja Kediri yang lebih dikenal dengan Prabu Jayabaya, menuliskan ramalannya tentang periodisasi peradaban yang dibaginya dalam tiga babak. Menurut bacaannya, Nusantara akan tiba pada masa keemasan (kalasuba) setelah melewati masa permulaan (kalawisesa) dan masa kekacauan (kalabendu).

Ramalan Jayabaya banyak dijadikan referensi pijakan oleh para pengusung gerakan mesianik di Nusantara, salah satunya Soekarno. Dalam salah satu pidatonya, Sang Proklamator itu berkata, “Tuan-tuan Hakim,

apakah sebabnya rakyat senantiasa percaya dan menunggu-nunggu datangnya “Ratu Adil”, apakah sebabnya sabda Prabu Jayabaya sampai hari ini masih terus menyalakan harapan rakyat? Tak lain ialah karena hati rakyat yang menangis itu, tak habis-habisnya menunggu-nunggu, mengharap-harapkan datangnya pertolongan. Sebagaimana orang yang dalam kegelapan, tak berhenti-berhentinya menunggu-nunggu dan mengharap-harap ‘Kapan, kapankah Matahari terbit?’.”

Masa Keemasan/KalaSuba Nusantara bukanlah pepesan kosong, Pasang surut pergerakan mesianik di Nusantara–dengan penamaan dan kulturnya masing-masing, tidak pernah benar-benar padam. Betapa pun represifnya penguasa terhadap gerakan pembebasan rakyat, maka akan berlaku patah tumbuh hilang berganti.

Keutamaan jalan hidup (millah) Abraham adalah nilai-nilai kebenaran universal. Nilai-nilai tersebut Allah bahasakan dengan bahasa amsal dan personifikasi untuk memudahkan para pencari kebenaran sejati dalam memahaminya. Dengan demikian, petunjuk akan nilai-nilai kebenaran sejati dapat dipahami dan bahkan ditulis ulang menurut budaya dan bahasa dari bangsa manusia itu berasal. Wajar jika kemudian ditemukan nilai-nilai yang serupa tersebar di berbagai belahan dunia dalam bentuknya masing-masing.

Kisah-kisah yang senapas dengan Abraham atau Brahma dapat dijumpai dalam beberapa literatur bangsa-bangsa yang memiliki peradaban maju pada masa lampau. Ilmu dan kebijaksanaan dalam membaca sejarah dan menatap masa depan kehidupan umat manusia menjadi salah satu kelebihan yang juga Allah anugerahkan kepada manusia yang mempergunakan akal pikiranya.

Menatap masa depan atau melihat suatu peristiwa yang belum terjadi (ghaib) juga menjadi hal yang lumrah dilakukan oleh para leluhur bangsa Nusantara yang sudah sejak lama mengenal Abraham dalam penamaan Brahma, Brahman, atau Bromo. Para leluhur tersebut dalam historiografi Nusantara disebutkan di antaranya; Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabaya (Raja Kediri; abad XII), Sabda Palon-Naya Genggong (abad XV), dan

Prabu Siliwangi alias Sri Baduga Maharaja Jayadewata (Raja Pajajaran Nagara; abad XVI). Ketiga tokoh tersebut disebutkan sebagai tokoh sentral dalam kitab Musarar Jayabaya, Serat Darmagandhul, dan Uga Wangsit Siliwangi.

Bacaan masa depan dari para leluhur Nusantara itu sudah banyak ditafsirkan dan ditarik kesimpulannya sesuai dengan kepentingan suku, agama, ras, dan golongannya masing-masing. Meskipun demikian, keseluruhan ramalan tersebut secara garis besar menceritakan degradasi perjalanan kehidupan bangsa Nusantara sejak invasi bangsa Mongol, kolonisasi bangsa Barat, dan pergantian kepemimpinan nasional yang zalim hingga munculnya Satrio Piningit, Ratu Adil, Budak Angon, Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu–atau apa pun sebutannya–untuk membebaskan bangsa Nusantara dari perbudakan negara-negara bangsa yang datang silih berganti.

Penglihatan atau mimpi para leluhur tentang kejayaan kembali Nusantara sebagai mercusuar dunia tidak lahir dari ruang yang hampa. Sejarah panjang yang membentuk demografi dan geopolitik Nusantara memiliki porsi yang besar dalam mengondisikan Nusantara sebagai wilayah yang paling berpotensi dan layak menjadi tempat berlakunya sistem hukum Allah, Tuan Semesta Alam. Berdirinya entitas kekuasaan yang berdasarkan hukum kebenaran universal yang akan menyudahi segala bentuk penjajahan dan kezaliman di muka bumi.

Satu bentuk kekuasaan politik yang berdaulat negara, kerajaan, keratuan (keraton), kesultanan, kingdom, atau khilafah–menjadi wajib keberadaannya ketika sekelompok manusia ingin mewujudkan mimpinya bersama. Sejak masa revolusi agraria pada 12.000 tahun lalu yang membawa manusia-manusia bijak kepada masa-masa pembentukan civilization–setelah masa-masa hunting and gathering, sistem sosial politik yang kompleks dipandang urgensinya.

Nusantara, negara kepulauan atau negara maritim, sejak sebelum Indonesia lahir, memiliki peradaban yang adiluhung. Kerajaan-kerajaan yang berjajar dari ujung timur hingga ujung barat berkumpul dalam satu imperium

yang sungguh disegani masyarakat dunia kala itu. Bentuk negara dan pemerintahan bisa jadi berubah-ubah menyesuaikan zaman dan bangsanya, tetapi satu format Keratuan (pemerintahan) yang adil dan Ratu Adil wajib adanya.

Kiranya, satu tujuan atau mimpi besar tidak akan dapat terwujud apabila tidak dikerjakan oleh manusia-manusia yang memiliki tekad yang besar pula. Mimpi yang besar itu, hingga hari ini salah satunya, masih tersirat pada gelar raja Kerajaan Islam Mataram, yakni Khalifatullah ing Tanah Jawa atau lebih lengkapnya bergelar Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sunuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati in Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping Sadasa ing Ngayogyakarta Hadiningrat.

Secara bebas, gelar itu dapat diartikan sebari berikut: Ngarsa Dalem, yang dijanjikan junjungan, pemuka atau pembesar; Sampeyan Dalem, yang diikuti langkahnya, dijadikan teladan; Ingkang Sinuwun, yang dimuliakan, dimohonkan jasa baiknya; Kangjeng, yang dihormati; Sultan, penguasa; Hamengku Buwono, mengedepankan kepentingan orang lain daripada diri sendiri, lebih banyak memberi manfaat daripada meminta; Senapati-Ing-Ngalaga, panglima besar jihad melawan keterbelakangan, kebodohan, dan kezaliman; Ngabdurrachman, hamba Tuan Yang Maha Pengasih yang semua tugas dilakukan sebagai pengabdian kepada-Nya; Sayyidin Panatagama, bendara, penghulu, pembesar (yang dipertuan Agung) dalam menata kehidupan budi pekerti; Khalifatullah, wakil (petugas) Allah yang mengemban amanat-Nya; Ing Ngayogyakarta, di tempat Suci yang terhormat, wibawa dan mulia serta penuh sejahtera; dan Hadiningrat, yang indah penuh dengan berkat dan rahmat Yang Mahakuasa.

Kendati demikian, apalah arti dan pengaruh gelar kebesaran bagi seorang raja yang tak bermahkota dan berdaulat dalam mewujudkan kehidupan gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja?

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama

Saran dan Masukan