Merangkai Jejak Islam Di Bumi Nusantara

BAGIAN TAK TERPISAHKAN

Islam telah menjadi bagian dari bangsa Nusantara yang bahkan menjadi agama dengan jumlah penganut terbanyak di Negara Kesatuan Republik Indonesia.



Sejarah mencatat bahwa perjalanan panjang bangsa sejak era pra kemerdekaan hingga hari ini tidak terlepas dari peran pergerakan para tokoh dan kelompok-kelompok Islam, baik yang hanya bersifat spirituil maupun politik.

Namun meskipun demikian, sejak kapan keberadaan Islam pada awal mulanya masuk dan menetap di bumi Nusantara secara pasti masih menjadi misteri yang tidak pernah diperdebatkan atau didiskusikan kebenaran sejarahnya.

4 TEORI PENYEBARAN
  1. TEORI GUJARAT. J. PIJNAPPLE (1822-1901). PROF. DR. C. SNOUCK HURGRONJE (1857-1936), JEAN PIERRE MOOUETTE (1856-1927), THOMAS W. ARNOLD (1864-1930)
  2. TEORI ARAB. CRAWFURD (1820), KEYZER (1859), NIEMANN (1861), DE HOLLANDER (1861). PJ. VETH (1878)
  3. TEORI CINA. SQ FATIMI
  4. TEORI MARITIM N.A.BALOCH
ANALISIS

Semua teori tentang penyebaran Islam di Nusantara pada umumnya memiliki persamaan pada metode Islamisasi . Nusantara tersebut, yaitu melalui jalur perdagangan dimana dalam proses penyebarannya para pedagang membangun interaksi sosial dengan penduduk pribumi Nusantara dengan cara damai.

Jika melihat perjalanan Rasulullah Muhammad SAW, orang yang paling paham tentang Din Al Islam dan yang mengenalkannya pertama kali di masanya, justru dalam proses menyebarkan paham tersebut tidak semudah apa yang dilakukan oleh para pedagang yang disebutkan 1 pada keempat teori tersebut.

JALUR

Berpijak pada fakta-fakta pergerakan Rasulullah Muhammad SAW, maka penyebaran Islam di Nusantara yang menggunakan jalur perdagangan dan dengan cara damai ' patut dipertanyakan. 

Jalur politik dengan cara berafiliasi yang mengedepankan diplomasi dan penaklukan dengan berperang sebagai upaya terakhir adalah cara yang paling masuk akal dalam meyebarkan visi dan misi Islam sebagai rahmatan lil alamin. Oleh sebab itu perlu kiranya konstruksi bangunan sejarah penyebaran Islam di Nusantara perlu untuk disusun kembali berdasarkan data dan fakta paling masuk akal dan paling mungkin terjadi dengan menyingkirkan mitos-mitos sejarah yang dapat mengaburkan peristiwa yang sebenarnya.

INTRUMEN POLITIK

Banyak yang menentang dan menolak ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW. Bahkan dalam menjalankan misi risalah menegakkan Din Al Islam, tercatat Rasulullah Muhammad SAW setidaknya 70 kali mengangkat. senjata yang mana perjuangan beliau diteruskan oleh para pengikutnya sepeninggalan beliau hingga panji-panji Islam tegak di muka bumi dengan hadirnya khilafah sebagai instrumen politik untuk memberlakukan Din Al-Islam sebagai sistem hukum universal.

PROBILITAS

Masuknya Islam di Nusantara yang paling mungkin terjadi adalah melalui afiliasi politik. Hal ini berdasarkan sebuah naskah Tiongkok kuno yang berjudul "Chiu T'Hang Shu”, yang mana dalam naskah tersebut menyatakan bahwa pada rentang tahun 651-654 M (31-35 H semasa pemerintahan khalifah Ustman Bin Affan (644-656 M) telah mengutus Muawiyyah bin Abu Sufyan ke tanah Jawa yaitu ke Jepara (pada saat itu bernama Kalingga) menemui raja Jaya Shima. Selain itu fakta lain adalah pandangan Buya Hamka (1908-1981) bahwa pada tahun 717 M raja Sriwijaya, Sri Indavarman pernah bersurat kepada khalifah Umar Bin Abdul Azis (717-720 M) dari dinasti Ummayyah.

CATATAN

Yang perlu disadari adalah bahwa Nusantara di masa lampau adalah bangsa besar dengan peradaban yang tinggi, baik dalam bidang tekhnologi maupun spiritual yang keberadaannya merupakan bagian dari dunia secara global bukan bangsa primitif penganut paganisme yang. tak beradab seperti gambaran para penjajah yang menyusun sejarah sesuai kepentingan mereka.

Hal ini dapat terlihat dari peninggalan artefak dan literatur kuno yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara. Sehingga wajar Jika pada masa Khilafahi Islamiyah yang dibangun Rasulullah Muhammad SAW mendunia di abad ke-7, kiranya Nusantara sebagai salah satu kekuatan penting global kala itu sangat layak untuk dirangkul dalam mensukseskan visi Islam, yaitu menyatukan dan mendamai sejahterakan semesta.

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama