Esensialisme Seorang Rasul: Menyampaikan Kabar Gembira dan Peringatan

Ada kejadian besar yang sedang berlangsung di awal milenium ketiga ini. Suatu kejadian yang sangat didambakan oleh setiap manusia yang pernah dilahirkan ke bumi.

Walaupun kejadian itu telah dinubuwahkan oleh juru bicara-Nya lebih dari empat belas abad yang lalu. Namun sayang sekali sebahagian besar manusia tidak mengetahuinya. Memang demikianlah kehendak Allah sesuai dengan rancangan pasti yang telah ditetapkanNya.



Tiada kejadian yang lebih besar selain dari pada turunnya Ruh Allah kepada Anak Manusia yang akan membangkitkan manusia dari kematiannya dan menghidupkannya dengan Ruhul Qudus sehingga mencapai puncak kesempurnaan penciptaan dirinya.

Yang akan merubah kehidupan ummat manusia dari kehidupan antagonistis yang mematikan nilai-nilai kemanusiaan menjadi kehidupan harmonis yang penuh dengan kenikmatan.

Kebangkitan Rasul Allah adalah kejadian terbesar sepanjang sejarah kehidupan ummat manusia. Dan sungguh merupakan karunia yang sangat besar bagi kita karena Anak Manusia itu kini telah hadir diantara kita? Seorang Juru Selamat yang akan memimpin dan mewujudkan kehidupan damai sejahtera.

Tugas dan Fungsi Rasul

Suatu hal penting yang harus selalu kita ingat, bahwasanya setiap kebangkitan rasul, merupakan masa-masa yang sangat berat bagi penduduk bumi.

Setiap kali Rasul diutus oleh Allah pada setiap kaum, tugasnva adalah sebagai mubasyirin wa mundzirin.

Menghibur atau memberikan kabar gembira kepada manusia yang mengimani dan memberikan peringatan keras kepada mereka yang menolak kedatangan Rasul tersebut.

Sebenarnya diutusnya Rasul untuk memberikan peringatan, sekaligus menjatuhkan azab kepada suatu bangsa yang sudah sekian lama berbuat zholim terhadap dirinya maupun orang lain.

Tetapi kenapa, suatu bangsa atau ummat manusia berbuat zholim, hukumannya tidak langsung dijatuhkan oleh Allah? Seolah-olah Allah membiarkan saja mereka berbuat zholim. Setiap bangsa membuat dewa-dewa sesembahan, mengapa Allah terkesan membiarkannya saja?

Sebenarnya tidak demikian, Allah tidak membiarkan kezholiman terjadi begitu saja. Allah masih memberikan kesempatan kepada manusia untuk kembali menjadi orang-orang yang mengimani-Nya.

Peringatan dari Allah

Sebelum waktu yang telah ditentukan-Nya datang, maka Allah tidak akan menjatuhkan azab-Nya itu. Dibiarkan saja manusia atau bangsa itu bergelimang dalam kezholimannya.

Tetapi kalau ajal atau sa'ahnya sudah datang sesuai dengan ketetapan Allah, maka sebelum Dia menjatuhkan azab, terlebih dahulu dibangkitkannya seorang Rasul kepada bangsa itu, yang memberikan peringatan untuk bertobat kepada Allah.

Bagi mereka yang sadar akan kezholimannya selama itu, maka mereka akan diampuni kesalahannya. Akan tetapi apabila sampai batas waktu yang telah ditetapkan oleh Rasul-Nya mereka belum juga menyatakan keimanannya maka bangsa atau kekuasaan itu akan ditenggelamkan oleh Allah.

Inilah karakteristik dari sifat Allah yang berlangsung secara periodik dari generasi ke generasi. Maka iman itu kepada yang ghoib atau kepada hal yang belum terwujud.

Logis bahwa iman itu kepada yang ghoib, apabila sudah datang azab baru kemudian beriman, itu bukan iman tetapi berserah diri, menyerah atau taslim. Jadi ketika batas waktu telah lewat maka iman seseorang akan ditolak.

Contohnva Fir'aun Ketika kekuasaannya sudah kandas dan hampir tenggelam maka dia sadar akan perbuatannya, namun imannya sudah ditolak karena batas waktu yang telah ditentukan sudah lewat.

Rasul memberi peringatan ada batas waktunva. Jikalau batas waktu itu sudah terlampaui maka permohonan ampun manusia ditolak oleh Allah dan hukuman akan dijatuhkan kepada mereka.

Di dalam ayat AlQuran dikatakan -wa-yuahirkum ilaa ajalim musamma- Allah memberikan tenggang waktu sampai kepada batas waktu tertentu, dan kalau sudah sampai batas waktu yang ditentukan Allah itu, maka semua permohonan ampun manusia ditolak.

Berarti mereka akan dihukum dan diazab oleh Allah melalui pengadilan yang ditegakkan oleh para Rasul-Nya.

Inilah sebenarnya esensi dari seorang rasul, bahwa tujuan diutusnya adalah bentuk kasih sayang Allah kepada manusia sebelum azab dijatuhkan.

Sebesar apapun dosa manusia, namun apabila datang rasul untuk memberi peringatan dan orang itu menggunakan kesempatan untuk menerima dan beriman kepada berita-berita ghoib yang disampaikan, maka semua kezholiman manusia maupun bangsa tersebut akan diampuni.

Inilah salah satu sunnah atau tradisi Allah yang harus kita pahami, sebagai bentuk Rahman dan Rahim-Nya. Kita harus tahu dan memahami irama kehidupan ini.

Sunnahtullah Kehidupan

Siang tidak selamanya siang, malampun demikian. Tatkala kita memahami irama kehidupan yang bersifat -ikhtilaf- pergantian terang dan gelap, antara nur dan zhulumat.

Pergantian antara haq dan bathil, maka kita harus menyesuaikan diri dengan irama kehidupan itu. Inilah sebenarnya esensi diutusnya seorang Rasul ke muka Bumi yang harus kita pahami.

Maka dari itu marilah kita mencontoh seorang Rasul yang memberi kabar gembira sekaligus peringatan. Dengan demikian barulah kita menjadi manusia yang terberkati oleh dan dari Dia yang Maha Kasih.


Rewriting dan parafrase: Andi Zulfitriadi (Founder Teodisi)

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama