MALIN KUNDANG MILLENNIUM

Teodisi: Malin kundang adalah cerita rakyat yang berasal dari Sumatera barat. Sebuah kisah tentang seorang pemuda yang sukses dalam perantauan dengan menjadi nahkoda kapal orang lain dan bahkan menikah dengan anak perempuan pemilik kapal tersebut namun ketika kembali ke kampung halamannya menolak mengakui ibunya kandungnya sendiri lalu meninggalkannya untuk kembali berlayar mengarungi lautan yang berakhir si pemuda itu menjadi batu akibat kutukan ibunya. Suatu kisah sederhana yang harusnya mengandung nilai-nilai pelajaran lebih yang tidak sesederhana kisah tersebut. Sayangnya, hanya sedikit nilai pelajaran dari pesan moral yang tersirat dalam kisah tersebut yang dapat kita petik.

MALIN KUNDANG MILLENNIUM

Sejauh ini, nilai pesan moral yang mampu ditangkap pada kisah Malin Kundang hanya sebatas nasihat agar manusia tidak menjadi anak yang durhaka terhadap orang tua, terutama kepada ibu yang mengandung dan melahirkannya. Padahal jika mau mencermati lebih jauh kisah ini dengan melihat kondisi hidup kekinian dan pendekatan berbeda yang lebih tepat dalam memaknai unsur-unsur yang terlibat dalam kisah tersebut, mungkin kita dapat menangkap pesan yang coba disampaikan dengan benar dan utuh.

Dalam kisah Malin Kundang ada beberapa unsur yang menjadi bagian dari kisah ini. Baik itu berupa tokoh, benda atau tempat yang merupakan gambaran yang mewakili situasi dan kondisi dari suatu peristiwa sebenarnya yang terjadi. Adapun pendekatan berbeda guna menangkap makna yang lebih tepat dan relevan dari unsur-unsur yang ada dalam kisah tersebut adalah:

  1. Ibu Malin Kundang: Ibu adalah orang yang melahirkan dan mengasuh seorang anak. Dari rahim seorang ibulah awal perjalanan kehidupan seorang manusia bermula. Pada kisah ini dapat kita artikan bahwa ibu adalah simbol dari Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa, yang menciptakan segala yang ada termasuk hidup dan kehidupan.
  2. Malin Kundang: tokoh utama dalam kisah ini merupakan simbol dari umat manusia
  3. Istri Malin Kundang: Perempuan pasangan hidup atau teman hidup dalam menjalani hidup yang dipilih atas dasar suka adalah simbol dari ideologi yang rentan hasil karya manusia yang dipilih sesuai dengan selera masing-masing.
  4. Kapal: Sarana untuk berkendara di lautan yang berombak adalah simbol peradaban dalam kehidupan umat manusia.
  5. Batu: benda keras yang tidak bergerak, akan hancur jika saling berbenturan dan tenggelam jika berada di dalam air. Objek ini merupakan gambaran kondisi kehidupan yang tidak menggunakan hukum-hukum Tuhan.

Dari hasil uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya kisah Malin Kundang adalah kisah pengkhianatan manusia terhadap Sang Pencipta, Tuan Semesta Alam, dengan mengabaikan hukum-hukum-Nya yang telah berlaku bagi semesta alam raya dan mencoba membangun peradaban dengan menggunakan ideologi hasil karya sendiri yang pastinya hanya berakhir pada kehancuran manusia itu sendiri.

Inilah gambaran terkini dalam kehidupan manusia di era millennium ini. Manusia telah meninggalkan Tuan Semesta Alam dan saling berkompetisi memaksakan faham masing-masing guna “membangun kehancuran perababan”. Demikianlah gambaran para Malin Kundang Millennium.

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama