Istilah Otak Dalam Al-Qur'an : Shudur

Term ketiga yang sering Allah gunakan dalam Al-Quran yang Jika dikaji dengan cermat juga menunjuk pada organ otak manusia, yaitu kata shudur, tetapi umumnya diartikan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi dada atau hati. Jadi, di samping kata qalb dan fu’ad, kata shudur juga sering diartikan hati.

Istilah Otak Dalam Al-Qur'an : Shudur


Secara bahasa, kata shudur adalah bentuk jamak dari kata shadr yang berarti kesadaran, pemikiran, dan dada. Kata shadr (bentuk tunggal) dalam Al-Quran diulang sebanyak sepuluh kali, sedangkan kata shudur (bentuk jamak) disebut sebanyak tiga puluh empat kali. Meskipun dalam keseharian, kata shadr atau shudur diartikan dada atau hari, tetapi jika mencerdasi beberapa ayat di dalam Al-Quran yang memakai kata shudur atau shadr, tidaklah tepat jika diartikan dada atau hati.

Kata shadr atau shudur lebih tepat dan objektif bila diartikan dengan kesadaran yang secara biologis merupakan fungsi dari otak, yakni sebagai pusat kesadaran manusia. Sebagai contoh, kata shudur pada surat An-Nas (114) ayat 5 berikut ini:

Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam kesadaran manusia.

Para ahli menafsirkan kata shuduir an-nas dengan dada manusia. “Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia” yang dilakukan oleh golongan jin dan manusia, yakni setan dari golongan jin dan setan manusia. Setan inilah yang selalu mendampingi manusia dan selalu ingin menyesatkannya melalui bisikan dan godaannya. Pertanyaannya, apakah dalam mendengar bisikan “manusia setan” dilakukan melalui dada? Tentu tidak.

Pada dasarnya manusia-manusia jahat atau setan yang berwujud manusia tersebut selalu ingin mengajak orang lain untuk juga melakukan kejahatan dengan berbagai macam cara, di antaranya dengan menyebarkan berita-berita palsu atau hoaks agar dapat menarik orang lain atau menyebarkan isu yang dapat mengubah pola pikir manusia. Dengan demikian, ayat di atas lebih tepat jika diartikan, “yang menyebarkan isu-isu (desas desus) pada kesadaran manusia”, Sesuai dengan cara kerja otak manusia, bahwa segala informasi yang diterima oleh pendengaran manusia, akan diolah oleh otak manusia, bukan oleh dada manusia. Dada tidak memiliki fungsi biologis yang terkait dengan mental spiritual atau batiniah manusia.

Beberapa ayat lainnya yang mendukung makna shadr atav shudur (kesadaran) di atas yang dikaitkan dengan fungsi otak sebagai pusat kesadaran manusia, khususnya dalam mencari kebenaran Ilahi, di antaranya:

Al-Quran Al-An'am (6) ayat 125:

Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan kesadarannya untuk Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan kesadarannya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.

Al-Quran surat Al-A'raf (7) ayat 43:

Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam kesadaran mereka: mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Rabb kami, membawa kebenaran”. Dan diserukan kepada mereka: “Itulah surga yang diwariskan kepadamu,'disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan”

Al-Quran Yunus (10) ayat 57:

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam kesadaran dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Al-Quran surat Al-Hijr (15) ayat 47:

Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam kesadaran mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.

Al-Quran surat Thaha (20) ayat 25 - 28:

Berkata Musa: “Ya Rabbku, lapangkanlah untukku kesadaranku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, & supaya mereka mengerti perkataanku.

Al-Quran surat Al-Hajj (22) ayat 46:

... Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah qalbu yang di dalam shudur.

Al-Quran surat Az-Zumar (39 ayat 22:

Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah kesadarann untuk (menerima) Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu qalbunya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu qalbunya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.

Dari beberapa ayat di atas, kata shadr atau shudur umumnya diartikan oleh para ahli sebagai dada dan ada juga yang diartikan hati.

Namun, jika dikaji lebih teliti, kata shadr dan shudur pada ayat-ayat di atas (dan beberapa ayat lainnya) lebih tepat dan logis jika diartikan kesadaran atau pemikiran yang merujuk pada aktivitas otak manusia, baik yang terkait dengan pengetahuan umum maupun keimanan (mental spiritual). Misalnya, surat Yunus (10) ayat 57 di atas yang menegaskan bahwa ayat-ayat Al-Quran berfungsi sebagai obat bagi penyakit-penyakit yang ada di dalam kesadaran (pikiran) manusia karena semua penyakit batin (ruhani) seperti dengki, suka berdusta, menipu, dan semacamnya adalah perilaku atau karakter buruk yang ada dalam kesadaran (pikiran) manusia. Jika shudur diartikan dada, penyakit apa yang berada di dada manusia yang dapat disembuhkan oleh Al-Quran? Apakah Al-Quran dapat menyembuhkan penyakit fisik seperti jantung dan paru-paru? Tentu tidak.

Danah Zohar dan Ian Marshall (2000) mengatakan bahwa krisis penyakit spiritual pada masyarakat yang bodoh secara spiritual udak dapat diobati dengan kemampuan manusia dalam mengekspresikan kecerdasan intelektual dan tidak pula dengan kecerdasan emosional. Penyakit spiritual manusia itu, tambahnya, hanya bisa disembuhkan dengan Spiritual Quotient (SQ) atau kecerdasan spiritual. Dasar pemikiran SQ itu bertumpu kepada adanya satu titik khusus pada otak yang diberinya nama God Spot yang berfungsi sebagai pusat mekanisme aktivitas SQ.

Istilah God Spot sebenarnya merujuk pada temuan ilmiah dari penelitian Prof. V.S. Ramachandran, seorang neurolog (ahli syaraf) dan Direktur Center for Brain and Cognition di Universitas California, San Diego. Danah Zohar menyatakan bahwa God Spot adalah bagian dari lobus temporal yang berkaitan dengan pengalaman religius atau Spiritual. Lobus temporal - bagian otak manusia yang terletak di pelipis merupakan pondasi dalam konsep kecerdasan spiritual (Danah Zohar dan Ian Marshall, 2000:10). Taufik Pasiak (2002:377) mengemukakan pendapat yang senada, bahwa lobus temporal merupakan area yang bertanggung jawab terhadap respons-respons spiritual dan mistis pada manusia, sehingga disebut God Spot.

Spekulasi para ilmuwan terkait God Spot yang berada pada satu titik khusus dan bertanggung jawab atas aktivitas spiritual manusia ditegaskan oleh para peneliti dari Universitas Missouri. Hasil penelitian yang dimuat dalam International Journal of the Psychology of Religion (2012) tersebut menunjukkan bahwa spiritualitas manusia adalah fenomena yang kompleks dan melibatkan banyak area otak dalam proses terjadinya, bukan terletak pada satu titik tertentu di dalam otak.

Demikianlah sekilas gambaran Al-Quran dan dukungan disiplin keilmuan terkait yang menjelaskan fungsi shudur bagi manusia yang seluruhnya mengarah pada otak manusia sebagai pusat kesadaran (daya sadar). Jika dikaitkan dengan anatomi otak manusia sebagaimana dijelaskan oleh para ahli. Sebelumnya dapat diasumsikan bahwa yang dimaksud dengan istilah shudur dalam Al-Quran terkait dengan korteks limbik dan lobus temporal dari otak manusia. Selanjutnya, diperlukan penelitian lebih lanjut terkait titik khusus dari shudur dalam anatomi otak manusia.

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama