Istilah Otak Dalam Al-Qur'an : Nafs

Nafs

"Term selanjutnya yang sering Allah gunakan dalam Al-Quran yang berhubungan dengan otak manusia adalah kata nafs. Secara bahasa, kata nafs - bentuk jamaknya anfus dan nufus, berarti pribadi, diri, jiwa, hati, dan pikiran. Sebagian ahli kemudian berpendapat bahwa dari kata nafs inilah timbul kata “nafsu” dan “hawa nafsu”, yang memiliki konotasi yang berbeda dari arti kata nafs di atas.

Istilah Otak Dalam Al-Qur'an : Nafs


Di dalam Al-Quran, kata nafs dalam pengertian dan penggunaan yang beragam dengan perubahan tashrif (bentuk kata)nya tersebut sebanyak 295 kali, yang terdapat dalam 63 surat Al-Quran. Kata nafs disebut sebanyak 140 kali, kata nufus terulang sebanyak 2 kali, dan kata anfus terulang sebanyak 153 kali. Dari sekian banyak ayat, kata nafs atau anfus dan nufus lebih sering diarikan sebagai pribadi atau diri manusia secara utuh, dan juga diartikan sebagai sesuatu yang terdapat dalam diri manusia yang menghasilkan tingkah laku atau sikap baik dan buruk, serta nafs juga diartikan sebagai jiwa (pikiran dan kepribadian) seseorang.

Berikut ini kajian beberapa makna dari kata nafs atau anfus dalam beberapa ayat Al-Quran. Pertama, nafs yang berarti diri manusia secara utuh, misalnya:

Al-Quran surat Al-Baqarah (2) ayat 286:

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya ....

AI-Quran surat Al-Ma'idah (5) ayat 32:

Oleh karena itu, Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israel, bahwa: barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.

Al-Quran surat Al-A 'raf (7) ayat 42:

Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekadar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.

Al-Quran surat Al-A'raf (7) ayat 189:

Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya.

AI-Quran surat Al-Isra' (17) ayat 15 :

Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk dirinya sendiri ....

Al-Quran surat Al-Anbiya' (21) ayat 47.

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya, Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.

AI-Quran surat Lukman (31) ayat 28:

Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) seorang manusia saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat

Beberapa ayat di atas menunjukkan bahwa kata nafs dimaksudkan sebagai diri pribadi seorang manusia secara utuh, secara fisik biologis.

Kedua, kata nafs digunakan untuk menunjuk pada sisi dalam atau potensi yang ada dalam diri manusia. Ketika Allah telah mencipta manusia dengan organ tubuh yang sempurna, Dia juga memberi potensi kepada manusia untuk berbuat kebaikan dan keburukan melalui nafs-nya. Penegasan ini dapat dilihat dalam surat Asy-Syams (91) ayat 7-10:

Dan nafs serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada nafs itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan nafs itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Pada dasarnya Allah mencipta manusia secara biologis dalam kesempurnaan dan kefitrahan fisik yang sama. Hanya saja ketika manusia sudah mampu berpikir mandiri dan beranjak dewasa, maka nafs yang terdapat dalam dirinya senantiasa mendorong ia untuk berbuat sesuatu sesuai potensi yang telah diberikan kepadanya. Potensi mana yang akan dominan menguasai diri manusia sangat tergantung pada nafs-nya. Untuk itulah, Allah juga menerangkan kepada manusia melalui utusan-Nya dan orang-orang beriman tentang dua jalan kehidupan, yaitu jalan kebenaran dan jalan kesesatan.


Manusia yang berjalan pada jalan kebenaran adalah mereka yang didominasi oleh potensi takwanya, sedangkan manusia yang memilih berjalan pada jalan kesesatan adalah mereka yang didominasi oleh potensi jahatnya. Kalimat “Allah mengilhamkan” bermakna bahwa Dia telah memberi potensi agar manusia melalui nafs-nya dapat menangkap dan memahami nilai-nilai kebenaran dan kebatilan yang diajarkan-Nya. Untuk itu, beruntunglah mereka yang nafs-nya didominasi oleh nilai-nilai kebenaran, dan sebaliknya, merugilah mereka yang nafs-nya didominasi oleh nilai-nilai kebatilan atau kejahatan (setan).

Di kalangan kaum sufi, nafs diartikan sebagai sesuatu yang melahirkan sifat tercela dan perilaku buruk atau jahat. Pengertian ini secara bahasa sama dengan pengertian nafsu, yakni dorongan atau hasrat diri yang kuat untuk berbuat tidak baik. Sejatinya, Allah menginginkan potensi positif dalam diri manusia itu lebih dominan dan lebih kuat dari potensi negatifnya, akan tetapi daya tarik atau gravitasi keburukan itu secara naluri manusia selalu lebih kuat dari daya tarik kebaikan. Sifat dasar nafs ini secara tegas tertuang dalam Al-Quran surat Yusuf (12) ayat 53 berikut ini:

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafs itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafs yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.

Pada ayat ini sangat tegas dikatakan, bahwa nafs itu senantiasa mengarahkan manusia kepada hal-hal yang buruk, jahat, atau negatif bagi dirinya maupun bagi orang lain. Ng/s tersebut berada dalam diri manusia, bukan berada di luar diri manusia. Nafs-lah yang memerintah manusia melaksanakan hal-hal negatif.

Dalam bahasa wahyu, sesuatu atau kekuatan yang memerintahkan manusia berbuat jahat disebut juga dengan setan. Dengan demikian, nafs akan selalu menjadi setan dalam diri manusia apabila ia tidak mendapat rahmat dari Rabb (Pencipta)nya. Siapa pun dia, kekuatan jahat (setan: nafs a-ammarah) ada berdiam di dalam dirinya dan setiap saat akan menggerakkan potensi negatif manusia sehingga ia dapat menjadi manusia perusak, manusia yang lebih buas dari binatang buas, '


Ketika nafs al-ammarah (setan) telah menguasai kepribadun manusia, ketika ruh setan telah menjadi penggerak nufs manusia, maka ia akan menjelma menjadi manusia setan, manusia Iblis, Ia akan menjadi manusia yang haus akan kekuasaan, rakus akan harta, gila dengan prestise dunia, mabuk akan kehidupan seks bebas, dan menjadi manusia yang mudah terbakar emosinya karena kesombongannya. Pada akhirnya, ia menjadikan nafs atau hawa nafsunya sebagai ilah atau tuan pengendali hidupnya, ia menjadi budak dari nafs-nya,

Dari kata nafs timbul kata nafsu, hawa nafsu, dan nafsu syahwat, Secara harfiah, kata rafsu memiliki makna yang berbeda dengan rafs. Dalam kehidupan sehari-hari, kata nafsu itu bersifat netral, dapat digunakan pada hal yang positif dan yang negatif. Kata nafsu dipahami sebagai daya gerak yang terdapat dalam diri setiap manusia, Nafsu ini selalu dikaitkan dengan rasa dan emosi seseorang yang selalu mendorong manusia bertindak untuk memenuhi hasrat atau kepuasan tertentu atau yang sering disebut nafsu syahwat (libido), Ada yang berpendapat bahwa kata nafsu itu dirangkai dari dua kata, yakni nafs dan su atau rafs yang jahat.

Adapun syahwat menurut Al-Quran adalah sesuatu yang bersifat fitrah yang dimiliki oleh setiap manusia. Oleh karena itu, adalah manusiawi jika setiap manusia cinta terhadap syahwat (keinginan) yang bersifat duniawi (materiel). Hal ini Allah tegaskan dalam Al-Quran surat Ali Imran (3) ayat 14 berikut ini:

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: sex, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.

Allah tidak membenci manusia yang cinta kepada delapan jenis syahwat tersebut, selama ia memfungsikannya sesuai dengan yang

diperintahkan atau dikehendaki oleh-Nya, Setiap manusia memiliki syahwat atau cinta (emosi) yang berada dalam nafs-nya. Karena adanya nafs, manusia hidup dan karena adanya syahwat, manusia dapat berkembang biak dan berkreasi. Jika manusia tidak lagi memiliki syahwat atau cinta, maka tidak akan ada lagi kehidupan. Namun, kesenangan duniawi atau kehidupan materialis tersebut janganlah dijadikan visi hidup seseorang atau menjadi tujuan hidupnya.


Manusia harus tetap menjadi hamba yang taat kepada Sang Pencipta dirinya dan delapan faktor duniawi tersebut dijadikan sarana pengabdian kepada-Nya semata dan sekaligus menjadi alat uji atas kecintaan seseorang kepada Dia. Jika seseorang lebih mencintai dirinya dan delapan faktor duniawi tersebut, berarti ia menjadi manusia budak hawa nafs-nya, dan ia akan menjadi manusia setan atau Iblis yang jahat. Sebaliknya, jika seseorang lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya dibanding diri dan kesenangan duniawi tersebut, maka ia akan menjadi manusia malaikat, manusia berkat. Mereka inilah yang nafs-nya telah mendapat rahmat dari Allah (nafs al-marhamah), yakni nafs yang telah mendapat kasih sayang Allah berupa Ruhul Qudus atau ruh suci (firman Allah). Peringatan Allah tentang cinta tersebut juga disebutkan dalam surat At-Taubah (9) ayat 23-24 berikut ini:

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mencintai (mengutamakan) kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan,

perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”, Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasiq.

Selain kata safsu syahwat, kata yang memiliki makna yang serupa adalah hawa nafsu yang dalam bahasa Al-Quran disebut hawa atau al hawa, yang berarti hasrat, tingkat, hawa nafsu, atau kecenderungan dalam diri seseorang untuk bersikap. Kata hawa dalam Al-Quran terulang sebanyak tujuh belas kali. Dalam penggunaannya, kata hawa selalu menunjuk pada hal-hal yang menyimpang dari kebenaran.

Ketika hawa nafsu menjadi penggerak utama atau menjadi tujuan hidupnya, maka manusia telah menempatkan hawa nafsu menjadi ilah (tuan) dalam dirinya. Ia telah diperbudak oleh hawa nafsunya, oleh keinginan rendah dari nafsunya. Ketika nafsu telah menguasai diri manusia, akal sehatnya pun akan lumpuh dan mengubah kepribadiannya menjadi sama seperti binatang. Disamakan dengan binatang karena manusia tersebut tidak lagi mampu berpikir jernih (objektif) dan hanya mengikuti naluri primitif atau hasrat biologisnya semata. Perhatikan firman Allah dalam surat Al Furqan (25) ayat 43-44 berikut ini:

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka iru mendengar atau memahami, Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). 

Perhatikan pula surat Al-Jatsiyah (45) ayat 23:

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan qalbunya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

Bahkan bagi mereka yang cenderung mengikuti hawa nafsunya akan menjadi penghalang untuk mendapat rahmat Allah. Qalbu mereka telah dikunci oleh-Nya sehingga mereka tidak lagi dapat mendengar dan memahami peringatan yang disampaikan kepadanya.

Inilah yang disampaikan Allah dalam surat Muhammad (47) ayat 16:

Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu orang-orang berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan: “Apakah yang dikatakannya tadi?” Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati qalbu mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka.

Ketiga, kata nafs dan anfus yang berarti jiwa (pikiran atau kepribadian) seseorang, yang terkadang diartikan hati. Jiwa yang dimaksud adalah hal yang berpengaruh pada pikiran atau kepribadian seseorang atau sesuatu yang melekat pada pikiran manusia. Berikut beberapa ayat yang dimaksud:

Al-Quran surat Al-Baqarah (2) ayat 265:

Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.

Al.Quran surat Al-Baqarah (2) ayat 284:

Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam jiwamu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Al-Quran surat An-Nisa 14 ayat 63:

Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam qalbu mereka. Oleh karena itu, berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.

Al-Quran surat Qaf (50) ayat 16:

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.

Al-Quran surat Al-Fajr (89) ayat 27:

Hai jiwa yang tenang.

Keempat, selain tiga pengertian di atas, kata nafs juga diartikan oleh para mufassir dengan roh atau nyawa yang membuat manusia hidup. Menurut mereka, dengan adanya roh yang ditiupkan Allah ke dalam diri manusia saat masih dalam kandungan ibunya, maka manusia menjadi hidup, dan karenanya pula, setiap yang bernyawa atau yang memiliki roh pasti akan mati. Hal ini didasarkan pada pemahaman mereka yang keliru dari beberapa ayat berikut ini:

Al-Quran surat Ali Imran (3) ayat 145:

Sesuatu yang ber-nafs tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

AI-Quran surat Ali Imran (3) ayat 185:

Tiap-tiap yang ber-nafs akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia ita tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Al-Quran surat Al-Anbiya' (21) ayat 35:

Tiap-tiap yang ber-nafs akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.

Al-Quran surat Al-'Ankabut (29) ayat 57:

Tiap-tiap yang ber-nafs akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.

Pada ayat di atas dikatakan, bahwa setiap nafs (bukan nyawa atau roh) akan mati. Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa nafs itu adalah suatu daya hidup, daya kesadaran tentang aku. Manusia hidup secara biologis bukan karena adanya roh atau nyawa, tetapi karena ia memiliki nafs.

Manusia adalah makhluk dengan struktur biologis terbaik dan tercanggih, maka ia mampu berbicara, mendengar, melihat, berpikir, dan sebagainya karena adanya nafs. Diri itu adalah nafs, bukan nyawa atau roh. Manusia dikatakan wafat atau meninggal manakala sistem yang diciptakan Allah dalam tubuh manusia berhenti bekerja karena adanya gangguan atau kerusakan (matinya nafs).

Apa yang disebut roh oleh kaum agamis adalah penafsiran yang gagal paham dari kata ruh dalam Al-Quran (akan dijelaskan kemudian). Dengan demikian, jika mencerdasi dan mengkaji dengan objektif pengertian kata nafs atau anfus dalam Al-Quran, maka kata tersebut bisa dimaknai dalam dua dimensi, yakni nafs dalam dimensi fisik (lahiriah) yang merupakan diri manusia itu sendiri secara totalitas dan nafs dalam dimensi batiniah (sering disebut jiwa) yang merupakan daya hidup yang menggerakkan atau mendorong manusia berbuat jahat atau baik. Perbuatan yang mana yang akan dipilihnya, sangat ditentukan oleh ruh atau kekuatan apa yang mendominasi nafs seseorang, apakah ruh jahat (ruh setan) yang akan menjadikannya nafs al-ammarah (pribadi jahat) ataukah ruh Allah (Ruhul Qudus, firman) yang mendominasi nafs seseorang yang akan menjadikannya pribadi yang mantap atau stabil (nafs al-muthmainnah).

Sesuai dengan anatomi tubuh manusia, bahwa segala emosi dan syahwat manusia itu berada dan dikendalikan oleh otak manusia. Tegasnya, nafs dalam dimensi batiniah tersebut berada di dalam otak manusia atau pikiran manusia. Jika pengertian dan fungsi nafs tersebut dikaitkan dengan penjelasan tentang anatomi otak manusia, maka dapat diasumsikan bahwa yang dimaksud dengan nafs dalam Al-Quran adalah hipotalamus dalam sistem limbik otak manusia atau yang sering juga disebut sebagai bagian terpenting dari otak mamalia bahkan disebut sebagai otaknya otak manusia

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama