Istilah Otak dalam Al-Quran : Qalbu

Al-Quran adalah petunjuk bagi manusia dalam menjalani hidup dan kehidupannya di muka bumi. Karena manusia adalah makhluk yang berakal (berpikir rasional), Allah memberi Al-Quran sebagai Kitab Kebenaran yang bersifat ilmiah (rasional), bukan kitab dongeng (rasional). Bagaimanapun, untuk bisa memahami petunjuk Al-Quran dengan benar, hal yang paling mendasar yang harus dilakukan adalah memaksimalkan akal pikiran (otak). Untuk itulah, Allah seringkali menantang kemampuan nalar manusia dalam mengkaji dan merenungi beberapa fenomena alam dan fenomena sosial di masa lalu untuk dijadikan refleksi bagi kehidupannya pada masa datang.

Istilah Otak dalam Al-Quran : Qalbu

Dalam Islam, setiap manusia terlahir ke dunia dari perut ibunya dalam kondisi fitrah bak kertas putih yang masih bersih, tidak berilmu sedikit pun. Namun, Allah Sang Pencipta memberi potensi kepada manusia, baik potensi lahiriah maupun batiniah untuk belajar mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kreativitasnya demi kemaslahatan dirinya, ummat manusia, dan lingkungannya. Untuk melakukan aktivitas belajar tersebut, maka manusia harus memaksimalkan potensi yang dimilikinya dari organ-organ biologis yang penting, organ-organ fisio-psikisnya, yakni indra pendengar (telinga), ' indra penglihat (mata), dan otak yang akan mengolah semua informasi dari telinga dan mata menjadi
pengetahuan yang ilmiah atau sebuah: kebenaran yang diyakini.

Baca Juga : Apa Itu Musyrik ?

Berikut akan dikaji beberapa istilah di dalam Al-Quran yang berkaitan dengan akal manusia (otak). Setidaknya ada empat istilah yang digunakan Al-Quran terkait dengan kedudukan dan fungsi otak manusia, yaitu Qalbu, Fu'ad, Shudur, dan Nafs. Kali halaman ini kita membahas Istilah Qalbu dulu dan yang lainnya akan menyusul kemudian.

1) Qalbu

"Secara bahasa, kata qalbu berasal dari kata qalaba yang berarti membalik karena sifatnya yang seringkali berbolak-balik dan berubah-ubah. Terkadang gembira berganti sedih, sebentar senang lalu benci, dan seterusnya. Tidak ada jaminan qalbu itu akan selalu tetap atau konsisten. Jadi, qalbu manusia itu berpotensi untuk tidak konsisten, terlebih Allah juga yang Kuasa membolak-balik qalbu manusia. "Dalam ungkapan orang Arab dikatakan, “yusamma al-qalbu qalban li inqilabihi, qalbu dinamakan qalbu disebabkan perubahannya”,

Demikian sifat qalbu yang seringkali berbalik dan berganti, Itulah sebabnya sering dijumpai manusia yang inkonsisten, hari ini ia mendukung, esok hari ia menghujat. Hari ini berteman, esok hari sudah bermusuhan atau sebaliknya.


Dalam Al-Quran, kata qalb dan alqalb (bentuk tunggal) terulang sebanyak tujuh belas kali, sedangkan dalam bentuk jamaknya, qulub tertulis sebanyak seratus empat kali. Penyebutan qalb dan qulub yang begitu banyak dapat dikaitkan dengan fungsinya secara lahir dan fungsinya secara batin.

Dalam terjemah Al-Quran ke bahasa Indonesia, kata qalbu selalu diartikan dengan hati, satu kata yang ambigu dan salah kaprah. Secara biologis, hati (liver) adalah organ tubuh yang berwarna kemerah-merahan terletak di bagian kanan atas rongga perut yang berfungsi untuk mengambil sari-sari makanan dan menghasilkan empedu, Bagi mereka yang mengartikan qalbu dengan hati nonbiologis, mengatakan bahwa hati yang dimaksud adalah sesuatu yang halus, bersifat batiniah dan bersifat rabbaniyah (ketuhanan).

Mengartikan qalbu dengan hati adalah sesuatu yang tidak Imiah karena menjadikan qalbu manusia kehilangan objeknya. Jika ditanyakan, di mana letak qalbu itu, maka ada yang menunjuk ke dada tengah, jantung, dan liver. Padahal, ketiga organ yang ditunjuk tersebut tidak satu pun yang mempunyai fungsi mental (batiniah). Satu-satunya organ tubuh manusia yang terkait dengan fungsi mental adalah otak. Qalb (qalbu) adalah organ yang berada di dalam tubuh manusia yang memiliki fungsi tertentu. Jika melihat beberapa fungsi qalbu dalam Al-Quran, baik fungsinya secara lahir maupun fungsinya secara batin, maka kata qalbu lebih tepat diartikan sebagai otak (akal) manusia.

Dalam kaitan jasmani (biologis), maka fungsi qalbu (otak) adalah untuk memikirkan sesuatu, memahami sesuatu, memutuskan sesuatu, atau memilih sesuatu. Di antara ayat Al-Quran yang terkait dengan fungsi qalbu (otak) manusia adalah sebagai berikut:

AI-Quran surat Al-A'raf (7) ayat 179:

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai qalbu, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Pada ayat di atas, ada dua hal mendasar yang perlu dicatat terkait dengan fungsi qulub (jamak dari qalb). Pertama, ayat tersebut menegaskan tentang tiga organ penting yang dimiliki manusia dan jin berikut fungsinya. Qalbu yang berfungsi untuk memahami sesuatu, mata yang berfungsi untuk melihat, dan telinga yang berfungsi untuk mendengar sesuatu, yang dalam konteks ayat ini adalah mendengar, melihat, dan memahami ayat-ayat Allah (kauniyah dan qauliyah). Tentu saja, satu-satunya organ tubuh manusia yang memiliki fungsi untuk memahami, menganalisis, atau memikirkan sesuatu adalah otak, bukan jantung atau liver. Otak manusia akan dapat berfungsi maksimal manakala mendapat input dari telinga dan mata.


Kedua, ayat ini juga menegaskan bahwa hal yang membedakan manusia dengan binatang ternak dan binatang lainnya adalah karena manusia memiliki qalbu dan mampu mensyukurinya (memfungsikannya) sesuai dengan keinginan dari Sang Penciptanya. Jika manusia tidak menggunakan qalbu (otak)nya untuk berpikir dan memahami ayat-ayat Allah, maka derajatnya sama dengan binatang ternak, bahkan lebih hina dari binatang buas atau binatang melata. Jadi, qalbu (otak) adalah organ pembeda antara manusia dan binatang, bukan organ jantung (heart) atau hati (iver).

Al-Quran surat Qaf (50) ayat 37:

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai qalbu atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.

Ayat ini menegaskan tentang peringatan Allah terhadap orang-orang yang memiliki qalbu dan pendengaran atas kejadian yang menimpa beberapa ummat pada zaman dahulu. Dengan peringatan Allah tersebut, diharapkan agar manusia mau mendengar dan memahaminya. Tentu saja yang dimaksud qalbu manusia di sini adalah otak sebagai alat berpikir atau alat untuk memahami peringatan-peringatan Allah. Hanya mereka yang memaksimalkan akal pikiran (qalbu)-nya yang dapat mengambil pelajaran dari kisah ummat terdahulu.

Al-Quran surat Al-Anam (6) ayat 25:

Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan)mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas qalbu mereka sehingga mereka tidak memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jika pun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga, apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: “Al-Quran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu”.

A1-Quran surat At-Taubah (9) ayat 87:

Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak berperang, dan qalbu mereka telah dikunci mati maka mereka tidak mengetahui.

AI-Quran surat At-Taubah (9) ayat 127:

Dan apabila diturunkan satu surat, sebagian mereka memandang kepada yang lain (sambil berkata): “Adakah seorang dari (orang-orang muslimin) yang melihat kamu?” Sesudah itu mereka pun pergi. Allah telah memalingkan qalbu mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti.

Al-Quran surat Al-Munafiqun 63 ayat 3:

Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu qalbu mereka dikunci mati, karena itu mereka tidak dapat mengerti.

Pada keempat ayat di atas, Allah lagi-lagi mengaitkan hubungan qalbu (otak) manusia dengan aktivitas memahami atau mengetahui sesuatu yang merupakan fungsi dari otak, bukan jantung, dada, atau hati (liver). Jika pada ayat-ayat di atas Allah menghubungkan kata qalbu atau qulub dengan kata kerja yaf qahu (memahami), pada ayat-ayat yang lain disandingkan dengan kata kerja yang lain tetapi masih dalam konteks fungsi otak sebagai alat berpikir. Misalnya, pada beberapa ayat berikut ini:

Al-Quran surat Al-Hajj (22) ayat 46:

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai qalbu yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah qalbu yang di dalam dada.

Al-Quran surat Ar-Rum (30) ayat 59:

Demikianlah Allah mengunci mati qalbu orang-orang yang tidak mau memahami.

Al-Quran surat Muhammad (47) ayat 24:

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ataukah qalbu mereka terkunci?

Selain berkaitan dengan fungsi qalbu sebagai alat berpikir atau memahami sesuatu, kata qalb atau qulub juga Allah gunakan sebagai wadah atau sarana akan hal-hal yang terkait dengan keimanan dan pengajaran Ruhul Qudus (wahyu), serta hal-hal yang terkait dengan kekufuran atau kemusyrikan. Beberapa ayat Al-Quran yang menghubungkan kata qalb dengan persoalan keimanan dan Ruhul Qudus adalah sebagai berikut:

Al-Quran surat Ali Imran (3) ayat 8:

(Mereka berdoa): “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan qalbu kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kesada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia)”.

Al-Quran surat Ar-Ra'd (13) ayat 28:

(yaitu) orang-orang yang beriman dan qalbu mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah qalbu menjadi tenteram.

Al-Quran surat An-Nahl (16) ayat 106:

Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal qalbunya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.

Al-Quran surat Asy-Syu'ara (26) ayat 193-194:

Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin ke dalam qalbumu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.

Al-Quran surat Al-Jatsiyah (45) ayat 23:

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengarannya dan qalbunya serta meletakkan tutupan ses atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah membiarkannyaat. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

Al-Quran surat Al-Fath (48) ayat 4:

Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam qalbu orang-orang mu'min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana.

Al.Quran surat Al-Hadid (57) ayat 27:

Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam, dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam qalbu orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang.

AI-Quran surat At-Taghabun (64) ayat 11:

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah, dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada qalbunya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Delapan ayat di atas (dan beberapa ayat lainnya) menunjukkan bahwa qalbu merupakan wadah atau sarana dari pengajaran ruh Allah, pusat ingatan (memori), keimanan, hidayah, dan kasih sayang. Bagaimanapun, untuk bisa mendapat hidayah-Nya dan menjadi orang beriman, manusia harus memaksimalkan qalbu (otak)nya. Akal menjadi sarana wajib dalam mempelajari ayat-ayat (firman) Allah. Tidak ada orang yang beriman tanpa menggunakan akalnya. Iman bukanlah barang yang dapat diwariskan atau sesuatu yang dimiliki berdasarkan sebuah perasaan. Perhatikan firman Allah dalam surat Yunus (10) ayat 100 berikut ini:

Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah, dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.

Keimanan adalah sesuatu yang harus dipelajari dan dipahami hingga betul-betul masuk ke dalam memori qalbu manusia dan berubah menjadi sebuah daya ingat dan daya pikir dalam menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Keimanan tidak bisa didasarkan pada perasaan subjektif seseorang, tanpa melalui proses transformasi keilmuan Ruhul Qudus (wahyu) ke dalam qalbu seseorang. Suatu ketika, Rasulullah Muhammad menolak pengakuan iman dari orang-orang Arab karena iman mereka baru sebatas lisan, belum bersemayam di dalam qalbunya. Hal ini ditegaskan dalam surat Al-Hujurat (49) ayat 14 berikut ini :

Orang-orang Arab itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah “kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam qalbumu, dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun ganjaran perbuatanmu, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. 

Masalah qalbu ini juga pernah ditegaskan oleh Rasulullah Muhammad dalam sabdanya: “Ala wa inna Fil jasadi mudhghatan, idza shalahat shalahal jasadu kulluhu, wa idza fasadat fasadal jasadu kulluhu, ala wahiyal qalbu, Ketahuilah bahwasanya pada setiap tubuh (manusia) ada segumpal organ lunak, jika organ lunak itu baik, akan baiklah seluruh anggota tubuhnya. Namun, jika ia rusak maka akan rusak pula seluruh anggota tubuhnya. Ketahuilah bahwasanya organ lunak itu adalah qalbu.”

Sabda tersebut yang juga telah dinyatakan dalam beberapa ayat di atas, menegaskan posisi penting qalbu dalam tubuh manusia. Qalbu adalah organ tubuh yang mengendalikan seluruh anggota tubuh manusia. Sudah sangat jelas bahwa yang dimaksud dengan qalbu adalah otak manusia, bukan liver, jantung, atau dada manusia.

Bahkan ada sebagian ahli agama yang mengatakan bahwa qalbu itu berada di bagian dari jantung manusia. Bagi mereka, beriman atau kurang berimannya seseorang dapat diketahui dari gemetar atau tidaknya jantung seseorang saat mendengar nama Allah disebut atau saat firman-firman Allah dibacakan. Jadi, getaran-getaran jantung seseorang adalah representasi dari perubahan-perubahan emosional yang terjadi secara batiniah sekaligus sebagai gejala spiritualitas seseorang. Hal ini mereka dasari dari firman-Nya dalam surat Al-Anfal (8) ayat 2:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah dan apabila gemetarlah hati (qalbu) mereka, dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabb semesta alamlah mereka bertawakkal.

Kata wajilal pada ayat di atas kurang tepat jika diartikan dengan gemetarlah hati (qalbu) mereka, tetapi lebih tepat jika diartikan bergerarlah hati (qalbu) mereka lantaran dibacakan firman-firman Allah, terlebih ketika orang-orang beriman “menggenapi” ayat yang telah dibacakan kepada mereka dalam perjalanan dakwah dan jihad di jalan Allah. Kata gemetar bermakna negatif, sedangkan kata bergetar lebih bersifat positif.


Jika yang dimaksud qalbu adalah jantung atau hati (liver), lalu bagaimana dengan mereka yang mengalami kerusakan jantung atau liver. Apakah mereka juga mengalami kerusakan iman? Bagaimana pula dengan mereka yang telah melakukan transplantasi jantung atau liver? Demikian juga dengan mereka yang mengalami gangguan jiwa, maka yang terganggu adalah otaknya, bukan hati atau jantung mereka. Secara biologis dan medis, jantung bukanlah organ tubuh yang mengendalikan seluruh organ tubuh manusia, demikian pula dengan hati (liver). Yang bertugas menjalankan fungsi berpikir, menganalisis, dan memutuskan sesuatu adalah otak manusia. Otakmanusialah yang mengendalikan seluruh gerak dari organ tubuh yang lainnya.

Dari penjelasan singkat tentang qalbu di atas dapat disimpulkan bahwa ciri dan fungsi dari qalbu menurut Al-Quran adalah sebagai berikut:
  1. Organ pembeda manusia dari binatang atau hewan mamalia,
  2. Organ yang sangat penting dalam tubuh manusia,
  3. Organ tubuh yang sistem kerjanya selalu bolak-balik (qalaba qalbu). Semakin cepat proses bolak-baliknya, semakin cerdas seseorang.
  4. Alat untuk memahami sesuatu atau sebagai alat berpikir manusia (fungsi kognitif),
  5. Alat yang digunakan manusia untuk menimbang-nimbang dan memutuskan sesuatu: dan
  6. Wadah bersemayamnya Ruhul Qudus (wahyu) dan keimanan seseorang.
Dengan demikian, jika disandingkan dengan anatomi Otak manusia sebagaimana dijelaskan oleh para ahli sebelumnya dapat diasumsikan bahwa qalbu yang dimaksud oleh Al-Quran adalah cerebrum (otak besar) atau neorortex atau cerebral cortex dari otak manusia.




Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama