TUJUH YANG BERULANG-ULANG

Tahukah Anda bahwa

Visi Misi para Rasul Allah itu adalah sama, yakni berjuang memenangkan dan menegakkan Din al-Islam di atas segala ideologi bangsa-hangsa pada setiap zamannya masing-masing



TUJUH YANG BERULANG-ULANG

TUJUH YANG BERULANG-ULANG


Sahabatku...

Judul dari renungan kita kali ini, “Tujuh Yang Berulang-Ulang” mungkin masih terasa asing di benak sahabat. Wajar, karena istilah ini adalah istilah yang digunakan dalam Al-Quran, sehingga terasa asing di kalangan ummat Islam yang belum pernah mempelajari ilmu tafsir atau ilmu ushul tafsir.


Dalam bahasa Al-Quran, tujuh yang berulang-ulang disebut dengan “sab'an min al-matsaniy”, yang sering diterjemahkan dengan “tujuh ayat yang dibaca berulangulang”. Tentu saja ini adalah terjemahan bebas, bukan seperti apa yang tersurat. Secara harfiah, lebih tepat diartikan “tujuh yang berulang-ulang”, karena tidak ada kata “ayat” (yang dibaca) pada istilah tersebut. Karena diterjemahkan dan ditafsirkan dengan “tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang”, maka para ulama tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “sab'an min al-matsanif” adalah surat Al-Fatihah (1) yang memiliki tujuh ayat. Sebagian ahli tafsir lainnya mengatakan tujuh surat-surat panjang dalam Al-Quran, yakni surat Al-Fatihah (1), Ali Imran (3), An-Nisa (4), Al-Maidah (5), Al-An'am (6), Al-A'raf (7), Al-Anfal (8), dan At-Tawbah (9).

Mari kita cerdasi istilah “saban min al-matsaniy” tersebut menurut pandangan Al-Quran. Kita akan menggunakan metode “penafsiran ayat dengan ayat-ayat lainnya”. Apa betul yang dimaksud dengan “tujuh yang berulang-ulang” atau “tujuh ayat yang dibaca berulang” adalah surat Al-Fatihah?

Jika dikatakan bahwa surat Al-Fatihah adalah tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dalam shalat, itu betul. Tetapi yang dituju oleh istilah “sab'an min al-matsaniy” itu bukan dalam hal pelaksanaan shalat, tetapi dalam hubungannya dengan isi Kitab Al-Quran, seperti yang tertulis dalam surat Al-Hijr (15) ayat 87:

Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Quran yang agung.

Istilah “sab'an min al-matsaniy” ini hanya disebut sekali dalam Al-Quran, sehingga membutuhkan ketelitian dan kesucian pikir untuk memahami maknanya yang sejati. Kalaupun surat Al-Fatihah memiliki tujuh ayat, namun ketujuh ayat tersebut tidak diulang-ulang (lebih dari dua kali) dalam surat-surat lainnya. Kalau yang dimaksud adalah kandungan dari surat Al-Fatihah, maka hal itu adalah wajar karena ia adalah ummu alkitab (induk Al-Quran), mengandung seluruh pembahasan dalam Al-Quran. Tapi yang dimaksud oleh istilah tersebut, bukanlah soal kandungan ayat yang berulang-ulang, tetapi 7 cerita (kisah) atau ayat itu sendiri yang disebut berulang-ulang secara tekstual dalam Al-Quran.


Untuk memahami istilah “sab'an min almatsanty” di . atas, ada dua hal yang dapat membantu memahaminya. Pertama, di dalam surat Al-Hijr (15) tersebut, sebelum Allah berbicara tentang istilah tersebut, Dia berbicara dahulu tentang beberapa kisah bangsa-bangsa yang telah kedatangan misi risalah Allah yang disampaikan oleh para Nabi dan Rasul-Nya. Bangsa-bangsa tersebut adalah bangsabangsa yang menentang dan mendustai para Rasul-Nya, sehingga bangsa-bangsa tersebut diazab dan dibinasakan oleh-Nya. Jika kita menghimpun cerita atau kisah bangsabangsa tersebut dari zaman Nabi Adam hingga datangnya Rasulullah Muhammad, maka jumlah bangsa-bangsa tersebut ada tujuh. Kisah ketujuh bangsa tersebut selalu diceritakan berulang-ulang oleh Allah di dalam Al-Quran.

Kedua, penjelasan Allah dalam surat Az-Zumar (37) ayat 23 yang berbunyi:

Allah telah menurunkan perkataan (cerita) yang paling baik (yaitu) Al-Quran yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan galbu mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpin pun.

Ayat di atas menegaskan bahwa Kitab. Al-Quran adalah hadits yang terbaik, yakni perkataan atau cerita terbaik yang menjadi pelajaran dan petunjuk bagi yang dikehendaki-Nya. Hadits (perkataan, cerita) terbaik tersebut selalu diulang-ulang di dalam Al-Quran. Dan cerita yang selalu diulang-ulang tersebut adalah cerita atau kisah (hadits) tentang tujuh bangsa-bangsa besar yang telah mendustakan Rasul-Rasul Allah, sehingga mereka semua diazab dan dibinasakan oleh-Nya. Lalu bangsa mana saja yang termasuk dalam “sab'an min al-matsani” tersebut?


Dari dua puluh lima Nabi dan Rasul yang diceritakan di dalam Al-Quran, tidak semua dari mereka dikisahkan secara panjang dan berulang-ulang, khususnya bila dikaitkan dengan bangsa yang menjadi obyek dakwah mereka. Sudah menjadi sannah-Nya bahwa setiap kedatangan misi risalah Allah melalui para Rasul-Nya, maka dunia sedang mengalami zaman kegelapan (ghulummat) yang dikuasai oleh penguasa atau raja-raja bangsa yang zalim. Kedatangan para Rasul Allah dalam rangka memberi kabar gembira dan ancaman, yakni mengajak mereka untuk kembali mengabdi hanya kepada Dia dan meninggalkan segala bentuk pengabdian selain kepada-Nya. Jika mereka menolaknya, maka pada saatnya tiba, Dia akan mengazab dan membinasakan kekuasaan bangsa-bangsa tersebut.

Baca Juga : Islam Bukan Agama ?

Tujuh bangsa yang selalu dikisahkan (hadits). berulang-ulang dan dijadikan ingatan bagi generasi mu'min di zaman Rasulullah Muhammad dan tentu saja generasi mu'min di zaman ini yang terdapat dalam Al-Quran, adalah:

1) Bangsa atau kaum Nabi Nuh. Kata “Nuh” setidaknya terulang dalam empat puluh tiga ayat Al-Quran, dan sembilan belas ayat diantaranya terkait dengan bangsa dan keluarganya. Kisah Nabi Nuh dan bangsanya dalam Al-Quran, misalnya, dalam surat Hud (11) ayat 25-49, surat Asy-Syu'ara (26) ayat 105-122, dan surat Nuh (71) ayat 1-28.

2) Bangsa atau kaum Nabi Hud yang sering disebut dengan Bangsa “Aad. Cerita tentang Bangsa “Aad terulang sebanyak 24 kali dalam Al-Quran. Kisah Nabi Hud beserta bangsanya dalam Al-Quran, misalnya, dalam surat Al-A'raf (7) ayat 65-72, Hud (11) ayat 50-60, dan Asy-Syw'ara (26) ayat 123-140.

3) Bangsa atau Kaum Nabi Saleh yang sering disebut bangsa Tsamud atau Al-Hijr. Cerita tentang Bangsa Isamud terulang sebanyak 16 kali dalam Al-Quran. Diantaranya, dalam surat Hud (11) ayat 61-68, surat AlHjijr (15) ayat 80-86, dan surat AsySyu'ara (26) ayat 141-159.

4) Bangsa atau Kaum Nabi Ibrahim. Kata “Ibrahim” terulang dalam 69 ayat Al-Quran dan 10 diantaranya menunjuk langsung kepada bangsanya. Kisah Nabi Ibrahim dan bangsanya dalam Al-Guran, misalnya, dalam surat Hud (11) ayat 69-76, surat Al-Hijr (15) ayat 51-58, dan AsySyw'ara (26) ayat 69-104.

5) Bangsa atau kaum Nabi Luth. Kata “Luth” dalam AlOuran terulang sebanyak 17 kali, dan 14 ayat diantaranya menunjuk pada bangsa dan pengikutnya. Kisah Nabi Luth beserta bangsanya dalam Al-Quran, misalnya, dalam surat Hud (11) ayat 77-83, surat Al-Hijr (15) ayat 59-77, dan Asy-Syw'ara (26) ayat 160-175.

6) Bangsa atau Kaum Nabi Sywaib yang sering disebut Bangsa Madyan atau Bangsa Aikah. Kisah tentang Bangsa Madyan disebut sebanyak 10 kali dan Bangsa Aikah sebanyak 4 kali. Sedangkana kata “Syw'aib” sendiri disebut sebanyak 11 kali dalam Al-Guran. Kisah mereka dapat dilihat, misalnya, dalam surat Hud (11) ayat 84-95, Al-Hijr (15) ayat 78-79, dan AsySyw'ara (26) ayat 176191.

7) Bangsa atau Kaum Nabi Musa dan Harun, yang dikenal dengan Bangsa Firaun. Adapun para pengikut Nabi Musa mayoritas dari kalangan Bani Israel. Baik Bangsa Firaun maupun Bani Israel menjadi kisah yang selalu diceritakan berulang-ulang dalam Al-Quran. Bahkan Bani Israel menjadi nama surat ke-17 dalam Al-Quran. Dalam kisah kehancuran kekuasaan bangsanya, nama Fir'aun dan Musa selalu menjadi tokoh utamanya. Kata “Firaun” terulang sebanyak 74 kali dan kata “Musa” terulang sebanyak 136 kali dalam Al-Guran. Begitu banyak kisah tentang Bangsa Firaun dan Bani Israel lebih sering diulang dibanding kisah bangsa-bangsa lainnya. Hal ini dapat dipahami, karena sejak masa awal turunnya wahyu, Allah telah menegaskan bahwa perjalanan risalah Rasulullah Muhammad itu serupa dengan perjalanan Rasulullah Musa as. Silakan perhatikan surat Al-Muzammil (73) ayat 15:

Sesungguhnya Kamu telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Mckah) seorang Rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaumana Kami telah mengutus (dahulu) seorang Rasul kepada Fir'aun.

Di antara kisah dari Nabi Musa dan Bangsa Firaun dalam Al-Quran dapat dilihat dalam surat Yunus (10) ayat 75-93, surat Hud (11) ayat 96-99, dan surat Thaha (20) ayat 9-90 yang menceritakan hadits tentang Nabi Musa, Fir'aun, Bani Israel hingga kasus Samiri.


Demikianlah tujuh bangsa-bangsa besar yang selalu dikisahkan secara berulang-ulang (sab'an min al-matsaniy) dalam Al-Quran, baik dikisahkan secara sendiri-sendiri ataupun dikisahkan berurutan dengan bangsa-bangsa lainnya. Dimana inti dari kisah-kisah tersebut adalah tentang bangsa-bangsa besar yang dibinasakan atau diazab oleh Allah karena mereka telah berani mendustakan para pembawa risalah-Nya, yakni para Nabi dan Rasul-Nya serta Orang-orang beriman pada zamannya masing-masin . Tentu

saja kisah tersebut harus bisa menjadi alat pengingat (peringatan) dan petunjuk bagi mereka yang hari ini mengimani Al-Quran sebagai wahyu (firman) Allah.

Sebagai pelengkap dari penjelasan di atas, silakan perhatikan dan renungkan beberapa ayat di bawah ini:

Al-Quran surat At-Taubah (9) ayat 70:

Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, “Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.

Al-Quran surat Shad (38) ayat 12-14:

Telah mendustakan (rasul-rasul pula) sebelum mereka itu kaum Nuh, “Aad, Fir'aun yang mempunyai tentara yang banyak, "dan Tsamud, kaum Luth dan penduduk Aikah. Mereka itulah golongan-golongan yang bersekutu (menentang rasul-rasul). “Semua mereka itu tidak lain hanyalah mendustakan rasul-rasul, maka pastilah (bagi mereka) azab-Ku.

Al-Quran surat Hud (11) ayat 100-104:

itu adalah sebahagian dan berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah. "Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena itu tiadalah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Rabb-mu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka. '”Dan begitulah azab Rabb-mu, apabila Dis mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras. “Sesungguhnya pada yang demikian itu benarbenar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat, Hari kiamat itu adalah suatu hari yang — semua manusia dikumpulkan — untuk (menghadapijnya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk). "Dan Kami wadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu.

Al-Quran surat Yusuf (12) ayat 111:

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. AlOuran itu bukanlah centa yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Sahabatku...

Jika Anda sudah mampu memahami isyarat-isyarat wahyu dari kisah “tujuh bangsa-bangsa yang disebut berulang-ulang” dalam Al-Quran, maka Anda akan memperoleh “penglihatan” spiritual tentang kondisi bangsa bangsa dunia hari ini dan kondisi dunia beberapa saat ke depan. Berbahagialah!

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama