TIGA MASA KEGELAPAN?

Pejuang sejati bukanlah mereka yang melulu menghitung -hitung apa yang telah dikorbankannya dan meminta untuk dipuja dan dihargai.

TETAPI...

Pejuang sejati adalah mereka yang tulus ikhlas mengorbankan semua yang ada pada dirinya untuk kepentingan Allah, Rasul-Nya, dan Orang-orang beriman tanpa pamrih.

TIGA MASA KEGELAPAN?


TIGA MASA KEGELAPAN?

Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Rabb kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia: maka bagaimana kamu dapat dipalingkan? (QS. Az-Zumar (39): 6)

Sahabatku...

Renungan tentang “tiga kegelapan” atau “tiga masa kegelapan” ini sesungguhnya kelanjutan dari renungan sebelumnya yang terkait dengan proses penciptaan manusia, termasuk Adam as. Hal ini penting agar kita mendapatkan pemahaman yang utuh tentang proses penciptaan manusia, baik secara fisik biologis maupun secara ruh spiritual. Dua tahapan kelahiran yang harusnya ditempuh oleh mereka yang ingin menjadi manusia sempurna, yakni mu'min sejati.


Selain itu, satu pertanyaan dasar yang mesti dijawab, “Untuk apa Allah mewahyukan kepada Rasulullah Muhammad proses penciptaan manusia tersebut? ”Apakah sebatas memberi informasi ilmiah kepada manusia yang saat Itu masih terbatas secara ilmu pengetahuan dan teknologi? lalu apa nilainya bagi beliau dalam menjalankan tugas utamanya menegakkan sistem hukum Allah? Penjelasan di bawah ini berusaha untuk membuka tabir wahyu ilahi tersebut, khususnya terkait dengan istilah “tiga kegelapan”.

Saat menjelaskan tentang proses penciptaan manusia (kadang menggunakan istilah “al-insan” atau istilah “basyar”) di dalam Al-Quran, ada kalanya disebut secara parsial dan ada kalanya disebut secara berurutan, tahap demi tahap. Ketika melihat ayat-ayat yang menjelaskannya secara parsial, maka akan terkesan kontradiktif. Namun sesungguhnya, tidaklah bertentangan. Misalnya, Allah menyebut manusia tercipta dari 'alaq, tercipta dari tanah, tercipta dari air yang hina, atau tercipta dari saripati tanah.

Kalau kita ingin mengurai keempat istilah tersebut, sesungguhnya merupakan satu mata rantai proses penciptaan yang berkesinambungan. Tanah adalah tempat dimana tumbuhan dan hewan hidup serta berdiam. Tanaman, buah-buahan, dan hewan kemudian dimakan oleh manusia, dimana di dalamnya mengandung saripati tanah. Kemudian makanan (tumbuhan, buah, dan hewan) tersebut diolah oleh tubuh manusia laki-laki menjadi sperma (mani) yang hina.


Saat hubungan suami-istri terjadi, sperma tersebut kemudian dipancarkan ke dalam rahim untuk membuahi ovum, hingga terjadilah proses 'alagah (proses bertemunya sel sperma dan sel ovum yang tergantung di dinding rahim). Ketika sel sperma tidak berhasil membuahi Ovum, maka kehamilan tidak terjadi dan proses penciptaan manusia biologis juga gagal. Sungguh proses penciptaan yang sangat ilmiah dan alamiah serta tidak bertentangan antara satu ayat dengan ayat lainnya.

Lalu apa yang dimaksud dengan istilah “delapan pasangan” dan “tiga kegelapan” dalam surat Az-Zumar (39) ayat 6 berikut ini:

Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu “delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak”. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam “tiga kegelapan”. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Rabb kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia, maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?

Mayoritas ahli menafsirkan, bahwa yang dimaksud dengan “wa angala lakum min al-an'am tsamaniyata agwaf” adalah Allah menurunkan “delapan pasang binatang ternak”. Sebuah penafsiran yang tekstual dan “gagal paham”, karena hal itu tidak terkait sedikit pun dengan proses penciptaan manusia. Bagaimana mungkin binatang ternak diturunkan kepada manusia? Dari mana binatang ternak tersebut diturunkan?


Secara fisik biologis, tubuh manusia pada dasarnya sama dengan binatang. Perbedaannya terletak pada akal pikirannya yang menjadi sub-struktur utama dari tubuh manusia. Secara biologis, tubuh manusia terdiri dari delapan Sistem atau sub-struktur biologis. Delapan sistem tubuh tersebut kemudian disusun sebagai satu kesatuan pasangan (tim) dalam tubuh manusia, yang sudah terbentuk sejak dalam kandungan. Delapan sub-sistem biologis itulah yang disebut dengan “delapan pasang binatang ternak” dalam ayat di atas.

Secara ilmiah, delapan sub-sistem biologis dalam tubuh manusia itu adalah:

1. Sistem Persyarafan (Nerve System), yakni otak (pusat) dan syaraf (tepi).

2. Sistem Perototan (Muscle System), yakni otot dan urat.

3. Sistem Peredaran Darah (Cardio System), yakni jantung, paru, pembuluh darah, dan ginjal.

4. Sistem Reproduksi (Regenerative System), yakni alat reproduksi dan rahim bagi perempuan.

5. Sistem Antibodi (Glandula System), yakni sistem keamanan dalam tubuh, seperti kelenjar limpa.

6. Sistem Pertulangan (Bone System), yakni tulang dan tulang rawan.

7. Sistem Metabolisme (Metabolic System), yakni gigi geligi, saluran cerna, pengolahan hingga pembuangan.

8. Sistem Indrawi (Sensoric System).

Kedelapan sub-sistem biologis tersebut telah dicipta (diturunkan) sejak manusia masih dalam kandungan ibu, tahap demi tahap. Tiga tahapan penciptaan dalam kandungan ibu itulah yang disebut dengan “tiga kegelapan”, yakni nuthjah (setetes mani), kemudian menjadi 'alagah (proses pembuahan sel sperma dan sel telur, yang selanjutnya membelah menjadi miliaran sel), kemudian menjadi segumpal daging yang sempurna (mudhgah) hingga siap untuk dilahirkan. Namun mayoritas ahli menafsirkan “tiga kegelapan” itu adalah kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim.

Secara ilmu pengetahuan, proses kejadian manusia menurut embriologi terbagi dalam tiga periode, yakni:

1. Periode Ovum: periode terjadinya pembuahan (fertilisasi) antara sel sperma dan sel ovum hingga membentuk zygote, yang selanjutnya membelah menjadi dua, empat, delapan, hingga miliaran sel. Selama masa pembuahan terjadi, zygote bergerak menuju kantong kehamilan kemudian masuk dan melekat di dinding rahim. Proses ini juga disebut dengan implantasi. Tahap ini juga dikenal dengan tahap germinal.

2. Periode Embrio: yakni masa pembentukan organ-organ. Terkadang ada organ yang sempurna dan ada juga yang tidak sempurna pembentukannya. Bahkan terkadang juga terjadi keguguran jika hasil pembelahan zygote tidak bergantung secara sempurna pada dinding rahim. Pada tahap ini, sistem dan organ dasar bayi mulai terbentuk dari susunan sel, seperti wajah, tangan, dan kaki.

3. Periode Fetus: yakni periode perkembangan dan penyempurnaan dari organ-organ tubuh janin yang terjadi secara bertahap hingga siap untuk dilahirkan. Pada periode fetus ini, berlangsung sekitar 30 minggu, mulai minggu ke delapan kehamilan sampai saat kelahiran. Pada tahap ini, tangan, wajah, dan kaki sudah mulai terlihat bentuknya. Selain itu, otak juga telah terbentuk dan mulai lebih kompleks dalam beberapa bulan.

Proses tiga tahapan atau tiga kegelapan ini dapat pula dilihat dalam surat Al-Hajj (22) ayat 5:

Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan, maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dani segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kamu kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bavi, kemudian dengan berangsur angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan ada pula di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh tumbuhan yang indah

Ayat ini menegaskan juga tahapan atau tiga masa kegelapan dari proses penciptaan manusia dalam rahim ibu sebelum dikeluarkan atau dilahirkan sebagai bayi (kelahiran biologis). Selanjutnya terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan secara fisik dan mental hingga mencapai umur dewasa. Penegasan yang sama juga disebut dalam surat Al-Mu min (40) ayat 67 berikut ini:

Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).

Secara umum, proses kehamilan seorang perempuan juga dibagi dalam tiga trimester. Trimester pertama, umur kandungan nol hari sampai 14 minggu. Trismester kedua, umur kandungan 14 sampai 30 minggu, dan trimester ketiga, umur kandungan 30 sampai lahir (38-42 minggu). AlOuran sendiri memberi isyarat bahwa umur kandungan itu minimal selama enam bulan, seperti yang diterangkan dalam surat Al-Ahgaf (46) ayat 15:

Dan Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula), Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Rabb ku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni'mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai, betilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".

Ada dua informasi penting yang diterangkan ayat di atas, perfama: masa mengandung (hamil) dan menyapih (putus menyusut) bagi seorang ibu adalah tiga puluh bulan. Pada ayat yang lain diterangkan bahwa masa menyusui yang ideal bagi seorang ibu itu adalah dua tahun penuh (dua puluh empat bulan). Silakan perhatikan surat Al-Baqarah (2) ayat 233 di bawah ini:

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lan, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Perhatikan pula surat Lukman (31) ayat 14:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambahtambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu

Dengan demikian, jika total tiga puluh bulan dikurangi masa menyusui, dua puluh empat bulan, maka masa mengandung seorang ibu minimal selama enam bulan atau masuk umur bulan ketujuh.

Kedua, surat Al-Ahqaf (46) ayat 15 di atas menegaskan bahwa umur kedewasaan seorang manusia adalah empat puluh tahun, Umur ini adalah masa dimana manusia pada umumnya telah mencapai kematangan biologis dan mental. Umur dimana manusia telah mampu menyadari dan mensyukuri ni'mat biologis ataupun ni'mat ruhany yang Allah berikan. Kedewasaan berpikir dan bersikap seringkal: dimulai pada saat umur empat puluh tahun, Itu sebabnya, sering dikatakan bahwa “hidup itu dimulai pada umur empat puluh tahun”.

Sahabatku...

Mari kita kaitkan kembali tiga tahapan atau tiga Mas, kegelapan dari proses penciptaan manusia dalam kandungan hingga lahir dan mencapai kedewasaan tersebut dengan surat Mu'miniun (23) ayat 12-14:

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. “Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Pada ayat di atas, khususnya pada ayat 14, diterangkan adanya enam tahap penciptaan manusia, yakni tiga tahapan terjadi di dalam kandungan (rahim) ibu yang dalam surat Az-Zumar (39) ayat 6 disebut dengan “tiga kegelapan” dalam perut ibu dan tiga tahapan lagi terjadi setelah lahir. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pada surat Al-Hajy (22) ayat 5, bahwa tiga tahapan tersebut adalah tahap nuthfah (sperma), “alagah (pembuahan), dan mudhgah (pembentukan daging) hingga siap untuk dilahirkan. Inilah yang disebut dengan kelahiran pertama, yakni kelahiran biologis yang pasti dialami setiap manusia.


Selanjutnya, setelah manusia dilahirkan (bayi), dia terus mengalami tumbuh kembang secara biologis seiring dengan pertumbuhan tulang dan bertambahnya daging (otot) manusia. Namun, pertumbuhan fisik tersebut harusnya diiringi pula oleh perkembangan mental dan pemikiran seseorang hingga ia sampai pada masa “kedewasaan berpikir dan bersikap”, yang disebut dalam ayat di atas dengan istilah “khalgan akhar”. Jadi, yang dimaksud “khalgan 3khar” di sini bukan manusia bayi tetapi manusia dewasa, yakni manusia yang terlahir kembali untuk kali kedua sebagai “manusia baru”, manusia yang berkarakter baru, yakni berkarakter “ruh gudus”. Kelahiran “manusia baru” inilah yang disebut dengan kelahiran kedua, kelahiran secara ruh (spiritual). Kelahiran ini tidak dialami oleh semua manusia, karena untuk dapat terlahir kembali untuk yang kedua kali, seorang manusia harus mampu memaksimalkan akal pikiran, pendengaran, dan penglihatannya dalam merenungi ayat-ayat Allah dan hubungan dirinya dengan Sang Pencipta.

Kelahiran kedua tersebut diawali dengan pernyataan iman (kesaksian) kepada Allah secara lisan disaksikan oleh orang-orang yang sudah lebih dulu terlahir kembali (mu'min). Inilah awal dari keberimanan seseorang dan awal ia menjadi hamba sejati, hamba yang hanya tunduk patuh kepada Sang TUAN, Pencipta alam semesta. Dengan demikian, kelahiran seseorang secara biologis (darah daging) barus diteruskan dengan kelahiran secara spiritual (kelahiran ruh, iman), Bagi mereka yang tidak dapat terlahir kembali untuk kali kedua karena banyaknya faktor yang menjadi “batu sandung”, maka mereka itulah manusia-manusia yang merugi, penghuni dari neraka jahannam. Perhatikan AlOuran surat Al-A'raf (7) ayat 176-179:

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat nya dengan avat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya d ulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya juga). Demikian itulah perumpamaan orang orang yang mendustakan ayat ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. "Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim. ""Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk: dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi. ""Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai qalbu (akal pikiran), tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Perhatikan pula surat Al-“Ashr (103 ayat 1-3:

Demi masa. ?Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, "kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.

Perhatikan penegasan yang sama dalam surat At-Tin (95) ayat 4

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka ganjaran yang tiada putus-putusnya.

Demikianlah renungan pelengkap kita tentang proses penciptaan manusia secara biologis yang sesuai dengan ilmu pengetahuan yang ada, dan selanjutnya harus diikuti oleh penciptaan (kelahiran) kedua secara ruhani sebagai hamba Allah yang beriman. Lalu apa nilai semua tahapan di atas dengan visi Rasulullah Muhammad dalam menegakkan Din al-Islam?

Sahabatku...

Sudah dijelaskan pada renungan tentang fungsi AlOuran, bahwa salah satu fungsinya adalah sebagai pedoman dalam menegakkan Khilafah Allah (Din al-Islam) di muka bumi. Sehingga dapat dikatakan bahwa, seluruh ayat AlOuran mengandung nilai petunjuk bagi Rasulullah Muhammad dalam mewujudkan Khilafah dan bagaimana tata cara hidup di dalamnya. Lalu bagaimana hubungannya dengan ayat-ayat tentang proses penciptaan manusia di atas?

Untuk menjawabnya, silakan perhatikan surat Lugman (31) ayat 28 berikut ini:

Tidaklah Allah menciptakan dan mena kalian itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Ayat ini menegaskan adanya kesamaan proses penciptaan dan kebangkitan sebuah ummat (Islam) dengan proses penciptaan dan perkembangan seorang manusia. Kebangkitan “kalian” di sini bukanlah kebangkitan ummat manusia dari kuburan, tetapi kebangkitan peradaban ummat Islam dari dunia kegelapan yang zalim, keluar menuju kehidupan dunia yang penuh dengan terang (nur, ilmu) Allah. Terbebasnya ummat yang berdosa lagi terjajah menjadi ummat yang merdeka lagi berkuasa.


Jika merujuk pada surat Mu'minun (23) ayat 14 di atas, maka setidaknya manusia melalui enam tahapan penciptaan dan kebangkitan (perkembangan) dirinya, tiga tahap sebelum lahir dan tiga tahap lainnya setelah lahir.

Keenam tahap tersebut adalah: 1) Nathfah (tahap ovum)j, 2) 'Alaqah (tahap embrio), 3) Mudhgah (tahap fetus): 4) Idzaman (tahap pertumbuhan tulang), 5) Lahman (tahap pembentukan otot), dan 6) Khalq Akhar (manusia dewasa).

Bila melihat sejarah perjuangan para Rasul Allah dalam memperjuangkan misi risalah-Nva, juga melalui enam tahapan perjuangan, yakni: 1) Tahap dakwah secara selektif: 2) Tahap dakwah secara terbuka, 3) Tahap hijrah atau eksodus, tahap yang juga disebut sebagai tahap kelahuran suatu umrnat yang baru, 4) Tahap jihad melawan serangan pasukan penguasa kafir-musynh, 5) Tahap Kemenangan, dan 6) Tahap Khulafah, yakru tegaknva Kekuasaan Allah di bumi sebagas sarana untuk menegakkan hukum Nya dalam seluruh aspck kchidupan ummat manusia. Inilah anugerah atau ni'mat yang Allah anugerahkan kepada mercka yang konsis melalu tahapan uman, hujrah, dan jihad di jalan Nya (shirathal mustaqim).

Perhatikan firman Allah dalam surat At Tawbah (9) ayat 20:

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda, dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah: dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

Jika enam tahap dari proses penciptaan manusia di atas melahirkan seorang “manusia baru”, yakni manusia dewasa yang beriman kepada Allah dan memiliki kepribadian baru yang berkarakter wahyu, maka enam tahap perjuangan Rasulullah di atas melahirkan “peradaban baru", yakni Kekuasaan baru yang akan menata dan mengatur durua dengan sistem hukum Allah, sehinga terwujud kehidupan negeri yang harmonis, adil, damai, dan sejahtera (Darussalam).


Enam tahapan perjuangan Rasulullah tersebut tertuang jelas dalam Al-Guran dan dapat dipahami dari sejarah mereka yang tersaji dalam bahasa wahyu yang sangat indah. Bila enam tahap tersebut disandingkan sejajar, maka didapatkan perbandingan yang sama antara kelahiran “manusia baru” dengan kebangkitan “peradaban baru” sebagai berikut:

Setiap manusia dewasa yang beriman harus melewati enam tahapan tersebut dan semua perjuangan Nabi dan Rasul Allah dalam menegakkan Khilafah-Nya di bumi juga harus melewati enam tahapan tersebut. Demikian itu adalah suatu tradisi Allah (swnnatullab) yang bersifat pasti dan tidak pernah berubah. Tidak ada satu pun manusia yang terlahir ke muka bumi tanpa melalui “tiga masa kegelapan” di dalam rahim ibunya. Demikian halnya, tidak akan pernah ada “ummat Allah” yang baru tanpa melalui tahapan dakwab dan hijrah. Hijrah adalah fase kelahiran dari sebuah ummat baru yang dipimpin oleh Rasul Nya.

Sahabatku...

Dalam tradisi para Rasul-Nya, tidak ada hijrah tanpa dakwah, tidak ada jihad tanpa hijrah, tidak ada kemenangan tanpa jihad, dan tidak akan ada khilafah tanpa kemenangan. Sunnah Rasul ini harus dilaksanakan tahap demi tahap secara berurutan, tidak boleh acak atau sesuai selera nafs manusia. Siapa pun atau kelompok apa pun yang ingin berjuang menegakkan Khilafah, tetapi tidak mengikuti sunnah para Rasul-Nya, maka pasti perjuangannya akan gagal dan sia-sia belaka. Mereka hanya akan menciptakan teror dan pertumpahan darah yang sia-sia, bahkan membuat masyarakat dunia semakin anti-Islam atau fobia Khilafah. Allah hanya cinta kepada mereka yang berjuang di jalan-Nya dan dengan metode yang telah digariskan oleh-Nya.

Kiranya renungan ini semakin menyempurnakan tenungan sebelumnya, dan semakin menambah keyakinan sahabat akan kebenaran seluruh wahyu-Nya, dan kebenaran janji-janji Allah kepada mereka yang beriman dan beramal saleh. Tetap semangat!

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama