SETAN ITU MAKHLUK YANG NYATA?

Sudah menjadi watak manusia selalu berkeluh kerah manakala ditimpa kesusahan, dan lupa diri atau kikir bila sedang memperoleh keberuntungan. Di antara manusia juga ada yang saat ditimpa kesempitan, bencana atau penderitaan hidup, mereka menyangka bahwa Allah sedang menguji mereka dan menerimanya sebagai musibah, Mereka lupa jika musibah itu DIA berikan hanya kepada orang-orang yang beriman sebagai batu ujian. Jangan sampai Anda hanyalah orang yang merasa diri telah beriman, padahal sesungguhnya Anda masih belum memenuhi syarat disebut orang beriman, dan karenanya pula, Dia tidak akan memberi musibah apa pun kepada Anda, selain azab-Nya.

SETAN ITU MAKHLUK YANG NYATA?

SETAN ITU MAKHLUK YANG NYATA?

Sahabatku...

Ketika mendengar kata “syaitan” (setan), maka Anda akan langsung berpikir tentang makhluk halus yang menyeramkan —dengan gambaran fisik yang menakutkan, seperti yang sering divisualisasikan dalam sinetron atau film horor. Pemahaman ini diperkuat oleh paham nenek moyang yang ada di tengah masyarakat. Kuburan, rumah angker, pohon besar, dan tempat-tempat angker lainnya dipandang sebagai “sarang” setan. Demikian sedikit gambaran tentang setan yang dipahami dalam kesadaran masyarakat.


Renungan kali ini ingin mengkritisi term “setan” yang ada di dalam Al-Quran yang begitu banyak. Setidaknya kata “setan” terulang sebanyak 88 kali dalam Al-Quran, baik dalam bentuk tunggal maupun jamak. Apakah setan yang dimaksud dalam Al-Quran. sama dengan setan yang dipahami dalam budaya masyarakat dan doktrin agama? Satu hal yang paling prinsip dalam pemahaman tersebut, bahwa setan itu adalah makhluk yang berbeda dengan manusia yang kasar. Setan adalah makhluk gaib yang tak nampak seperti halnya jin dan malaikat. Lalu sepert apa penjelasan Al-Quran sebagai Kitab Petunjuk tentang setan tersebut?

Satu hal yang perlu digarisbawahi kembali, bahwa Al-Quran adalah Kitab Petunjuk yang ditujukan untuk manusia, bukan untuk makhluk yang lan di luar manusia. Selain itu, semua petunjuk Al-Quran adalah untuk kepentingan hidup dan kehidupan manusia di muka bumi, bukan untuk kehidupan setelah mati. Kehidupan manusia setelah mati sangat ditentukan oleh sikap hidupnya selama ia berada di muka bumi. Ketika Allah banyak memperingatkan manusia tentang setan, maka hal tersebut juga untuk kepentingan manusia selama hidupnya di muka bumi, khususnya bagi orang orang beriman.

Apakah betul setan itu makhluk yang berbeda dengan manusia dan udak dapat dilihat dengan mata fisik? Mari kita cerdasi beberapa firman Allah berikut ini:

a. Al-Quran surat Al-Baqarah (2) ayat 168-170:

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. "'Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?"

Beberapa petunjuk yang dapat diambil dari penegasan ayat di atas adalah:

1) Perintah kepada manusia untuk makan makanan yang halal dan bergizi. Ada banyak makanan di bumi ini yang halal namun tidak baik atau tidak bergizi, sehingga tidak baik bagi tubuh manusia. Untuk itu, di samping makanan itu harus halal (diperoleh dengan cara yang tidak melanggar hukum), juga harus sehat dan bergizi bagi tubuh manusia. Secara Spiritual, manusia juga harus mencari makanan qalbu dari sumber yang halal, bukan dari sumber yang haram atau najis. Isme, ajaran atau ideologi yang musyrik adalah “makanan” yang najis bagi ruhani manusia, khususnya orang-orang beriman. Makanan ruhani yang harus dikonsumsi manusia adalah firman Allah (wahyu). Istilah lain yang biasa digunakan dalam Al-Quran tentang makanan ruhani ini adalah “rezeki dari langit”,


2) Allah melarang manusia untuk mengikuti Langkah-langkah setan yang merupakan musuh yang nyata bagi manusia. Jika setan yang dimaksud adalah makhluk halus (gaib), bagaimana mungkin kita dapat mengikuti atau tidak mengikuti langkah-langkahnya —yang tak terlihat secara fisik. Satu-satunya makhluk yang dapat diikuti oleh manusia adalah manusia lainnya. Bukankah setan itu musuh yang nyata? Artinya, dapat dilihat bentuknya dan dirasakan akibat perbuatannya. Bagaimana mungkin manusia yang kasar dapat bermusuhan dengan makhluk halus? Jika demikian, manusia tidak akan pernah menang. Sehingga, yang dimaksud setan itu adalah manusia juga, yakni manusia yang memiliki pemikiran atau kesadaran jahat yang najis (musyrik), Dan yang dimaksud dengan “langkah-langkah” setan adalah jalan hidup atau program hidup manusia setan yang bertentangan dengan Jalan Allah dan program-program wahyu-Nya. Hal inilah yang tidak boleh dukut atau dituruti.

3) Hal ini dipertegas dengan ayat 169, dimana setan itu selalu memerintah atau menyuruh manusia berbuat jahat dan keji. Jadi, setan itu hanyalah penamaan bagi mereka yang selalu memerintah atau menyuruh manusia lainnya berbuat jahat dan keji, karena qalbunya tidak dipenuhi oleh wahyu Allah, melainkan oleh keinginan (syahwat) dirinya. Segala sesuatu yang diperbuat oleh manusia adalah hasil perintah dan apa yang ada dalam kesadaran akal pikirannya. Keuka pikran manusia dipenuhi oleh ruh jahar (setan), maka ta akan selalu berbuat jahat dan keji. Sebaliknya, keuka pikiran manusia dipenuhi oleh Ruh Qudus (Wahyu Allah), maka ia akan selahu berbuat benar dan baik.


Jika Anda pernah mendengar bahwa Nabi Isa as. mampu mengusir setan dari din seseorang, maka yang dimaksud bukan setan yang menakutkan dan menyeramkan seperti yang ada dalam doktrin nenek moyang, tetapi Nabi Isa mampu mengusir ruh jahat - (kesadaran musyrik) dalam diri seseorang dengan cara mengajarkannya ruh qudus (firman Allah). Ketika kesadaran jahat atau syirik itu menjadi ruh bagi seseorang, maka ia dapat mengajak atau menggoda atau memerintah orang lain melakukan kejahatan atau kebatilan. Orang-orang yang belum memiliki “ruh Allah” itulah yang menjadi obyek dakwah para Nabi dan Rasul-Nya. Namun demikian, mayoritas mereka yang didakwahkan firman-firman Allah selalu memilih untuk tetap pada kesadaran dan keyakinan yang telah diajarkan oleh nenek moyang mereka. Mereka lebih senang mengikuti tradisi dan ideologi bangsanya, meskipun tidak memiliki dasar ilmu yang sah. Dan mereka itu tentu saja manusia, bukan makhluk halus yang menolak dakwah para Nabi dan Rasul Allah. Inilah yang digambarkan oleh Allah pada ayat 170 di atas. Sebuah jalan hidup atau keyakinan yang harus ditinggalkan dan jangan diikuti.

b. Al-Quran surat Al-Baqarah (2) ayat 208:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.

Bila ayat sebelumnya diperuntukkan bagi manusia pada umumnya, maka ayat ini khusus diperuntukkan bagi mereka yang telah beriman. Perintahnya ada dua hal:

1) Perintah untuk menjalankan Din al-Islam secara menyeluruh, tidak parsial. Artinya, orang-orang

beriman harus dapat menjalankan sistem hukum Allah (Din al-Islam) dalam segala lini kehidupan manusia, bukan sebatas urusan keyakinan dan ritual. Ayat ini juga meluruskan paham agamis, bahwa seseorang terlebih dahulu menjadi muslim (masuk Islam) kemudian menjadi mu'min (orang beriman). Ayat ini justru mempertegas bahwa untuk menjalani Din al-Islam terlebih dahulu harus menjadi mu'min. Iman dahulu kemudian Islam. Tidak akan ada ummat Islam tanpa ada orang-orang beriman. Hal ini bisa dipahami karena di dalam satu kepemimpinan atau kekuasaan Allah, orang-orang beriman adalah mereka yang bertugas menjaga dan menegakkan Din al-Islam yang dipatuhi oleh orang-orang muslim dan kafir dzimmy.


2) Perintah untuk tidak mengikui “langkah-langkah setan” yang menjadi musuh yang nyata bagi orang-orang beriman. Tentu saja yang menjadi musuh orang-orang beriman adalah orang-orang kafir musyrik, baik para pemimpinnya maupun masyarakat bangsa yang dipimpinnya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kesadaran musyrik atau ideologi nasionalis-pluralis yang menjadi warisan ideologi nenek moyang mereka.

c. Al-Quran surat Al-An'am (6) ayat 112:

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabb-mu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

Ayat ini menguatkan penegasan ayat sebelumnya, bahwa setan itu adalah musuh bagi orang-orang beriman dan tentu saja menjadi musuh para Nabi dan Rasul Allah juga. Bahkan ayat ini semakin memperjelas, bahwa setan yang menjadi musuh para Nabi itu adalah dari kelompok manusia (masyarakat biasa) dan jin (para pemimpin). Mereka inilah yang selalu menipu manusia lainnya untuk mengikuti “langkah-langkah” atau “program-program” dengan iming-iming atau mimpi-mimpi indah yang bersifat materiil atau duniawi semata. Sesuatu yang harus ditinggalkan oleh orang-orang beriman.

Baca Juga : Islam Bukan Agama?

Secara faktual, yang menjadi musuh-musuh para Nabi bukanlah makhluk halus seperti hantu, kuntilanak atau genderuwo, tetapi para pemimpin atau penguasa kafir-musyrik beserta masyarakat bangsanya. Yang menjadi musuh para Nabi dalam peperangan bukanlah makhluk halus, tetapi para jin (pemimpin, penguasa) dan pasukan pengikutnya. Musuh Nabi Adam adalah Iblis dan pengikutnya. Musuh Nabi Nuh adalah Raja Kanaan dan pengikutnya. Musuh Nabi Ibrahim adalah Raja Namrud beserta masyarakatnya. Musuh Nabi Musa adalah Raja Firaun beserta masyarakat bangsanya. Musuh Nabi Isa adalah Raja Herodes dan Pilatus beserta masyarakat bangsanya, dan musuh Nabi Muhammad adalah Abu Jahal beserta masyarakat bangsa Arab. Tidak ada sejarahnya para Nabi berdakwah kepada makhluk halus (gaib) ataupun berperang melawan mereka. Misalnya, penegasan Allah bahwa Iblis itu musuh bagi Adam (sebagai Khalifah) dan pasangannya (ummatnya) dalam surat Thaha (20) ayat 116-117:

“Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam", maka mereka sujud kecuali Iblis. Ia membangkang. "Maka Kami berkata: "Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi pasangan (ummat)mu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari jannah, yang menyebabkan kamu menjadi celaka”.

d. Al-Quran surat Al-A'raf (7) ayat 27:

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari jannah, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.
Yang menjadi penegasan ulang dari ayat di atas adalah kalimat penutup dari ayat ini, “Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan ita pemimpin-pemimpin bagi orang orang yang tidak beriman”. Iblis, Raja Kanaan, Raja Namrud, Raja Firaun (Ramses), Raja Herodes, dan Abu Jahal adalah para pemimpin dari mereka yang menolak dan tidak mengimani misi risalah Allah yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul-Nya. Merekalah yang memusuhi, mengintai, dan memerangi para Nabi dan Rasul-Nya, beserta para pengikutnya bukan makhluk gaib yang tidak bisa dilihat wujudnya. Tegasnya, setan itu adalah setiap manusia yang menolak dan menjadi musuh dari misi risalah Allah.


Selain menggunakan kata “setan”, Allah juga menggunakan kata “thaghut” dalam Al-Quran yang sering diartikan dengan “setan”. Setidaknya kata “thaghut” ini terulang delapan kali di dalam Al-Quran. Al-Quran seringkali menempatkan “thaghut” sebagai lawan dari Allah, baik sebagai pelindung ataupun yang ditaati oleh manusia. Sehingga “thaghut” dapat berbentuk “manusia”, “penguasa” atau “ideologi” yang diikuti, ditaati, dan yang dijadikan “berhala” oleh manusia. Mari renungkan firman Allah dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 256-257 di bawah ini:

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) din (Islam): sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. “'Allah Pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah thaghut (setan), yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

Yang dimaksud oleh Allah, “Tidak ada paksaan dalam din” adalah paksaan dalam hal aqidah (iman). Seseorang tidak boleh memaksa orang lain untuk mengimani apa yang diimaninya. Begitu pula dalam mengimani Allah sebagai Ilah Yang Esa. Yang pasti, Dia telah menjelaskan firman-firman-Nya melalui utusan-Nya, sehingga jelas mana jalan kebenaran dan mana jalan kesesatan. Jika Anda memilih beriman kepada Allah, maka Anda harus mengafiri (menolak) haghut (pemimpin: penguasa, ideologi yang musyrik).

Pada ayat 257 dijelaskan, bahwa “thaghut” adalah pemimpin atau pelindung dari orang-orang kafir seperti Firaun, Herodes, dan Abu Jahal. Mereka itulah yang disebut thaghut atau setan, manusia yang kasar bukan makhluk halus. Ayat ini senada dengan firman Allah dalam surat An-Nahl (16) ayat 36:

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan): "Abdilah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara ummat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)

Penegasan “thaghut” itu sama dengan “Syaitan” (setan) juga dapat dilihat dalam surat An-Nisa (4) ayat 60 dan 76 di bawah ini:

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.

"Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.

Sahabatku...

Dari beberapa renungan ayat di atas, semakin menegaskan bahwa sesungguhnya apa yang disebut syaitan (thaghut) oleh Allah dalam Al-Quran sangat berbeda dengan doktrin atau pemahaman budaya dan agama yang ada di tengah masyarakat, yakni makhluk halus (gaib) yang menakutkan. Kesimpulannya, setan yang ditegaskan dalam Al-Quran adalah manusia yang memiliki kesadaran ruh atau ideologi yang syirik sehingga selalu memerintah dirinya dan manusia lainnya untuk berbuat jahat dan keji. Manusia setan adalah manusia yang dikuasai nafs-nya. Karena sifat dasar nafs ammarah selalu memerintahkan hal-hal yang buruk. Nafs inilah yang sejatinya menjadi “setan” dalam diri setiap insan. Nafs-lah yang menggerakkan manusia untuk berbuat jahat atau berbuat baik, tergantung pada ruh apa yang bersemayam di dalam nafs tersebut, ruh jahat atau ruh suci (ruh qudus, firman Allah).


Karakter dasar dari nafs selalu mengarahkan manusia pada kejahatan dan keburukan, sehingga nafs selalu lebih dominan dibanding akal pikiran manusia. Ketika manusia sudah dikuasai oleh nafs-nya, maka akal sehat manusia selalu terkalahkan. Satu-satunya yang dapat mengendalikan nafs (setan) tersebut adalah rahmat Allah, yakni rub qudus (wahyu). Ketika nafs manusia diberi ruh qudus (ruh suci), maka keinginan jahat dan buruk seseorang akan terkendali. Nafs ammarah akan berubah menjadi naft muthmainnah. Silakan perhatikan firman Allah dalam surat Yusuf (12) ayat 53 berikut ini:

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbyu. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Perhatikan pula penegasan-Nya dalam surat AlMaidah (5) ayat 90:

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

Tidak ada faktanya setan (makhluk halus) minum khamar dan berjudi. Semua itu adalah perbuatan manusia yang telah dikuasai oleh ruh jahat (setan) dalam dirinya. Inilah wujud nafsu ammarah (setan) yang menguasai diri manusia. Hanya ruh qudus yang dapat mengubah karakter setan pada diri manusia. Caranya, tinggalkan dahulu segala jenis kemusyrikan yang ada dan berjanji setia (iman dan taat) hanya kepada-Nya kemudian mulai memasukkan ruh qudus (wahyu) secara tartil (perlahan-lahan) dalam kesadaran ga/bu. Niscaya ruh qudus (wahyu) tersebut akan menjadi obat pembersih dan penyembuh penyakit-penyakit syirik (karakter jahat) yang ada dalam diri manusia.

Anda pun dapat mengubahnya, sehingga semua karakter jahat dalam diri Anda secara perlahan akann berubah menjadi karakter terpuji seperti karakter Sang Pencipta. “Takhalgi bbi akhlagi Allah: Berakhlaklah kamu Seperti akhlak (karakter) Allah”. Silakan mencoba!

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama