AL-QUR'AN SEBAGAI "KITAB SEJARAH" BAGIAN II

AL-QUR'AN SEBAGAI "KITAB SEJARAH" BAGIAN II


Sahabatku..

Sebelumnya Kita sudah bahas beberapa hal tentang fungsi Al-qur'an sekarang kita akan melanjutkan tulisan ini dengan judul Al-Qur'an Sebagai Kitab Sejarah Bagian II sebagai berikut:

e. Sebagai Mushaddiq Bagi Kitab-Kitab Sebelumnya)

Salah satu fungsi utama dari Kitab Al-Qur’an adalah sebagai mushaddiq, yakni pembenar dan pelurus dari Kitab-kitab sebelumnya (Taurat dan Injil). Al-Qur’an sebagai pembenar atau membenarkan Kitab-kitab sebelumnya dimaksudkan untuk mempertegas dan memperkuat informasi kewahyuan yang ada di dalam Taurat dan Injil. Hal ini dapat dimaklumi karena misi risalah yang diemban oleh Rasulullah Muhammad adalah misi risalah yang sama dengan apa yang diemban oleh Rasulullah Musa dan Isa as. Mereka adalah para Utusan Allah yang mendapat tugas kerasulan yang sama meski berbeda tempat dan zaman. Mereka hanyalah manusia-manusia pilihan Allah untuk memegang estafeta misi risalah-Nya. Dengan demikian, adalah logis jika Kitab yang datang kemudian selalu membenarkan isi Kitab sebelumnya.


Di samping berfungsi sebagai pembenar atau membenarkan kitab-kitab sebelumnya, Al-Qur’an juga berfungsi sebagai pelurus atau meluruskan hal-hal yang telah disimpangkan atau yang salah dari Kitab-kitab sebelumnya. Kenapa demikian? Karena Kitab tersebut ditulis oleh manusia dan mereka telah melakukan banyak perubahan dan penyimpangan dari Taurat dan Injil yang asli. Kitab Taurat yang dikenal saat ini adalah Kitab yang ditulis dan disusun jauh setelah Nabi Musa wafat (di zaman Nabi Ezra). Demikian halnya dengan Injil yang dikenal saat ini adalah sesuatu yang ditulis jauh setelah Nabi Isa as. wafat.

Perlu sahabat ingat, bahwa tidak ada Rasul Allah yang menulis wahyu atau kitabnya sendiri. Semua kitab ditulis dan disusun setelah mereka wafat. Selain itu, faktor penguasa dan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya masih juga menaruh dendam, sehingga turut berperan di dalam mengubah kitab yang ada dan sepakat menyatakan bahwa kitab yang mereka buat adalah karya orisinil dari Sang Pemilik Ruhul Qudus. Allah tidak perlu menurunkan wahyu Al-Qur’an, manakala tulisan wahyu yang ada di dalam Kitab Taurat dan Injil saat ini masih orisinil. Untuk itulah, Al-Qur’an juga berfungsi untuk meluruskan atau menjadi pelurus dari apa yang sengaja dibengkokkan oleh para penguasa dan Ahli Kitab. Penegasan mengenai fungsi Al-Qur’an sebagai mushaddiq ini dapat dilihat dalam ayat-ayat berikut Ini:

Al-Qur’an surat Ali Imran (3) ayat 3:

Dia menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil.

Al-Qur’an surat Al-Bagarah (2) ayat 97:

Katakanlah: "Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam qalbumu dengan seizin Allah: membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelum-nya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.

Al-Qur’an surat Al-Maidah (5) ayat 48:

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.

Al-Qur’an surat Al-An'am (6) ayat 92:

Dan ini (Al-Qur’an) adalah kitab yang telah Kamu turunkan yang diberkahi, membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhurat tentu beriman kepadanya (Al Qur’an) dan mereka selalu memelihara shalatnya

Al-Qur’an surat Fathir (35) ayat 31:

Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.

f. Sebagai Sumber Kebenaran dan Ilmu Pengetahuan

Sejak awal turunnya wahyu Al-Qur’an, Allah sudah memerintahkan kepada Nabi Muhammad dan ummat manusia untuk membaca, membaca ayat-ayat Allah yang ada di alam semesta dan yang ada pada alam sosial manusia (ayat-ayat kauniyah), dan membaca ayat-ayat yang difirmankan oleh-Nya (ayat-ayat qauliyah).

Kenapa harus membaca? Karena dengan membaca (mengkaji dan meneliti) ayat-ayat Allah, maka manusia akan mampu mengenal Sang Pencipta dan mendapatkan kebenaran. Kebenaran Sejati itu berasal dari Rabb Yang Maha Benar. Alam semesta dan wahyu Allah merupakan wujud kebenaran Dia. Wahyu adalah ilmu Allah yang difirmankan dan alam semesta adalah ilmu Allah yang faktual. Alam semesta dan wahyu Al-Qur’an merupakan sumber dari ilmu, sumber kebenaran. Olehnya itu, wahyu dan alam semesta tidak mungkin bertentangan kebenarannya. Keduanya menjadi barometer kebenaran ilahi. Tugas manusia beriman (berakal) adalah mengkaji dan meneliti terus menerus sumber ilmu tersebut.


Begitu banyak informasi yang manusia dapatkan dari wahyu Al-Qur’an yang terkait dengan ilmu pengetahuan yang terus mengalami perkembangan. Meski demikian, informasi wahyu selalu benar dan menjadi rujukan ilmu pengetahuan. Tidak heran jika Allah senantiasa meminta manusia untuk terus berpikir dan merenung, serta menghargai mereka yang berilmu (menggunakan akal pikirannya). Sebaliknya, Dia begitu benci kepada mereka yang tidak mau berpikir dan memaksimalkan akal pikirannya.

Sebagai contoh dari fungsi Al-Qur’an sebagai sumber kebenaran dan ilmu pengetahuan dapat dilihat dari beberapa ayat di bawah ini. Misalnya, pengetahuan tentang proses penciptaan manusia, padahal saat itu ilmu kedokteran belumlah secanggih saat ini. Namun Allah telah menginformasikannya dalam surat Mu'minin (23) ayat 12-14:


Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani Itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Begitu pula dengan sistem hukum (din) yang hagg yang telah diciptakan-Nya, maka manusia dapat melakukan perhitungan penanggalan Syamsiah dan Qamariah dari peredaran matahari dan bulan seperti diinformasikan dalam surat Yunus (10) ayat 5:

”Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) — kepada orang-orang yang mengetahui.

Selain itu, awalnya para ahli berpendapat bahwa matahari itu tidak beredar (tetap di tempat) dan hanya bumilah yang beredar di sekeliling matahari, namun AlQur’an menyatakan bahwa matahari juga berjalan (beredar), seperti yang ditegaskan dalam surat Yasin (36) ayat 38 berikut ini:

Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Demikian beberapa ayat yang terkait langsung dengan ilmu pengetahuan. Masih banyak lagi cabang ilmu pengetahuan yang dapat dikaji dari Al-Qur’an dan tentu saja dari alam semesta sebagai obyek dari wahyu itu sendiri, Bahkan Allah sendiri menantang manusia untuk senantiasa mengkaji dan mengembangkan ilmu pengetahuan lewat observasi pada alam. Alam sebagai sumber ilmu tidak akan pernah tuntas untuk diteliti dan pengetahuan manusia terhadap alam (makro dan mikro) akan terus berkembang mengikuti kemajuan zaman dan teknologi. Silakan renungkan firman Allah dalam surat Lugman (31) ayat 27 berikut ini:

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Ilmu pengetahuan tidak akan pernah mengalami kemunduran, dia akan terus mengalami perkembangan dan kemajuan dari masa ke masa. Inilah rahmat dari ilmu (Nur) Allah yang selalu menghiasi kehidupan ummat manusia.

Satu hal yang perlu diingat, meskipun ilmu pengetahuan akan terus berkembang, namun sistem hukum (din) Allah yang mengatur hidup dan kehidupan alam semesta dan ummat manusia tidak akan pernah berubah dan berganti. Renungkan firman Allah dalam surat Ar-Rum (30) ayat 30 berikut ini:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada din Allah, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) din yang lurus: tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

g. Sebagai “Kitab Sejarah”

Dalam hal ini para ahli berbeda pendapat, ada yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu bukan Kitab Sejarah dan ada yang berpendapat sebaliknya. Namun yang penulis maksudkan di sini, bukan ingin menyamakan Al-Qur’an dengan Kitab Sejarah yang ada, melainkan mengajak sahabat untuk merenungi ayat-ayat yang berisi tentang sejarah (sunnah) yang terjadi pada ummat terdahulu.

Diyakini bahwa Al-Qur’an adalah wahyu yang jelas kebenaran informasinya dari Allah, berbeda dengan buku-buku sejarah yang ditulis oleh manusia yang subyektif dan masih diperdebatkan kebenarannya. Jika membedah isi dari Al-Qur’an, maka ditemukan sekitar 2/3 isinya berbicara tentang kisah ummat terdahulu dan kisah perjalanan perjuangan Nabi Muhammad. Dengan kata lain, Al-Qur’an berisi tentang sejarah ummat terdahulu, dari Nabi Adam as. hingga Nabi Isa as. dan juga sejarah di masa Nabi Muhammad saw. 


Namun demikian, pada saat Rasulullah “ Muhammad menceritakan kisah-kisah para Nabi dan Rasul Allah beserta kaumnya, seringkali informasi ilahiyah (wahyu) tersebut dijadikan bahan tertawaan oleh orang-orang kafir-musyrik. Mereka menganggap apa yang disampaikan oleh beliau hanyalah sebuah dongeng belaka. Kisah dongeng yang tidak punya manfaat sedikit pun bagi keimanan dan kehidupan mereka. Mereka tetap saja menyombongkan diri dan berbuat dosa (syirik). Mereka tidak mengimani kisah-kisah para Nabi dan orang-orang yang menentangnya sebagai sunnah (tradisi) yang akan terulang pada diri mereka. Bagi mereka, AlQur’an hanyalah kitab dongeng belaka.

Sikap kufur dan sombong orang-orang kafirmusyrik tersebut ditegaskan dalam Al-Qur’an, misalnya, dalam surat Al-An'am (6) ayat 25 berikut ini:

Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan)mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas galbhu mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jikapun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka darang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: "Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu",

Perhatikan pula surat Al-Anfal (8) ayat 31:

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata: "Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah dongeng-dongengan orang-orang purbakala".

Sikap orang-orang musyrik Arab tersebut sesungguhnya hanyalah pengulangan sejarah dari orangorang musyrik di setiap kedatangan Rasul Allah. Misalnya, sikap orang-orang musyrik Mesir (Bani Israel) yang menghina dakwah Nabi Musa yang tertuang dalam surat Al-Oashash (28) ayat 36:

Maka tatkala Musa datang kepada mereka dengan (membawa) mukjizat-mukjizat Kami yang nyata, mereka berkata: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang dibuat-buat dan kami belum pernah mendengar (seruan yang seperti) ini pada nenek moyang kami dahulu".

Lalu bagaimana sikap Anda sendiri terhadap sejarah atau kisah-kisah ummat terdahulu yang begitu banyak di dalam Al-Qur’an? Apakah kisah-kisah mereka menjadi pembelajaran? Apakah sejarah para Nabi dan Rasul Allah tersebut mampu menambah keyakinan Anda atau tidak? Atau Anda pun menilainya sebagai dongeng semata?


Sebagai manusia beriman, sudah seharusnya berpikir dan merenungi sejarah ummat terdahulu tersebut. Untuk apa Allah mewahyukan kisah-kisah ummat terdahulu kepada Nabi Muhammad dan apa faedahnya untuk ummat manusia hari ini? Mari kita renungi bersama!

Pertama: Al-Qur’an adalah Kitab Petunjuk, sehingga tidak ada satu pun ayat di dalamnya yang tidak mengandung nilai petunjuk. Semua kisah di dalam Al-Quran adalah kisah sejarah yang bersifat faktual informatif dan tentu saja dapat dijadikan pedoman ata petunjuk hidup. 

Kalau kembali kepada surat Al-Fatihah (1) sebagai surat pembuka Al-Qur’an, di dalamnya ditegaskan adanya dua jalan yang menjadi pilihan manusia, yaitu jalan yang lurus (jalan kebenaran) yang merupakan jalan orang-orang terdahulu yang telah mendapat ni'mat (karunia) dari Allah dan jalan yang sesat yang dimurkai oleh-Nya. Jika kita bedah lebih jauh isi kisah-kisah Al-Qur’an, maka sesungguhnya menceritakan dua hal di atas:

(1) Kisah tentang para Nabi dan Rasul Allah beserta orang-orang beriman di zaman dahulu yang ditimpa berbagai macam ujian (musibah) keimanan hingga mereka mendapat ni'mat dari Allah, yakni kehidupan surgawi (jannah) di bawah satu kekuasaan (khilafah). Inilah anugerah yang Dia berikan kepada mereka yang beriman dan beramal saleh pada zamannya masing-masing. Kisah orang-orang yang berjalan pada jalan Allah di bawah pimpinan para Nabi dan Rasul Allah dengan berbagai macam tantangan dan rintangannya, mulai dari fase dakwah kepada bangsanya, fase hijrah (eksodus) dari kampung halamannya, fase jihad (berperang) melawan serangan penguasa zalim dan pasukan kafir musyrik, hingga mereka diberi kemenangan dan kekuasaan politik (khilafah) oleh Allah Yang Maha Kuasa. Silakan renungi ulang surat An-Nur (24) ayat 55:

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka din yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap mengabdi kepada-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

(2) Kisah para penguasa kafir dan bangsanya yang musyrik dan menentang misi risalah Allah yang disampaikan oleh para Nabi dan Rasul Allah. Kisah ummat dahulu yang berjalan pada jalan kesesatan (jalan setan) yang menjadi musuh Allah dan RasulNya, hingga pada saatnya tiba, Dia mengirimkan azab kepada mereka yang kafir-zalimdan musyrik tersebut. Setidaknya ada dua puluh lima Nabi dan Rasul Allah yang dikisahkan di dalam Al-Qur’an beserta penentangnya, mulai dari kisah Iblis beserta kaumnya yang menentang kekuasaan Adam as. hingga kisah bangsa Israel dan penguasa Romawi yang menentang misi risalah-Nya yang dibawa oleh Nabi Isa as. Kisah para Nabi dan penentangnya di dalam Al-Qur’an tersebut adalah sejarah yang telah terjadi di zaman dahulu, bukan kisah dongeng atau hayalan belaka.

Kedua: Al-Qur’an adalah ilmu (»yr) Allah yang harus menjadi sumber penerang dan sumber ilmu. Tentu saja semua kisah yang ada di dalam Al-Qur’an, baik yang berjalan pada jalan kebenaran maupun yang berjalan pada jalan kesesatan mengandung nilai penerang atau pelajaran bagi mereka yang iman kepada kitab Al-Qur’an. Tiap-tiap kisah mereka memiliki nilai dan pelajaran tersendiri bagi Nabi Muhammad, juga harusnya menjadi pelajaran dan teladan bagi generasi orang-orang beriman di zaman ini. Penegasan ini dapat dilihat dalam surat Yusuf (12) ayat 111:

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Pertanyaan selanjutnya dari penjelasan di atas adalah, “Apa nilai atau pelajaran utama yang dapat diambil dari kisah-kisah para Nabi dan Rasul di dalam Al-Qur’an?” Untuk menjawabnya, harus dikembalikan dahulu pada satu pertanyaan dasar, “Apa yang menjadi tugas pokok dari Rasulullah Muhammad?”. Tentu saja tugas pokok beliau sama dengan para Rasul Allah sebelumnya, yakni:

1) Tugas pokok awal beliau adalah mengembalikan manusia kepada fitrahnya yang sejati sebagai hamba dan meninggalkan segala bentuk kemusyrikan. Dalam bahasa lain, menjadikan manusia sebagai hamba beriman yang bertauhid. Perhatikan firman Allah dalam surat Al-Anbiya (21) ayat 25 berikut ini:

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka abdilah olehmu sekalian akan Aku".

Perhatikan pula surat An-Nahl (16) ayat 36:

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan): "Abdilah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara ummat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

Jadi, visi awal seorang Rasul Allah adalah “membebaskan manusia dari perbudakan”, yakni Melepaskan manusia dari segala bentuk perbudakan (kemusyrikan), mulai dari perbudakan manusia oleh hawa nafsunya, perbudakan manusia oleh manusia lainnya hingga perbudakan bangsa oleh bangsa lainnya. Dalam kehidupan ini, manusia selalu tidak sadar jika dirinya sedang diperbudak. Apa yang manusia lakukan sehari-hari sesungguhnya dalam rangka memenuhi tuntutan atau keinginan hawa nafsu belaka, sehingga manusia menjadi budak hawa nafsunya. 


Miliaran manusia bersedia diperbudak oleh manusia lainnya, demi memenuhi kebutuhan dan keinginan hawa nafsunya hanya karena orang lain tersebut lebih pintar, lebih kuat, lebih kaya, atau lebih berkuasa dari dirinya. Dalam skala yang lebih besar, suatu bangsa bersedia menjadi boneka atau budak dari bangsa lainnya demi memenuhi kebutuhan dan keinginan hawa nafsu dari penguasa (pemimpin) bangsanya. Inilah jenis perbudakan yang harus dibebaskan oleh setiap Rasul Allah, perbudakan individu, perbudakan sosial, dan perbudakan bangsa-bangsa.

Tugas pokok akhir dari setiap Rasul Allah adalah menegakkan sistem hukum (dinh Allah dalam kehidupan manusia. Dalam bahasa lain, memenangkan Din Allah yang hak di atas semua jenis din buatan manusia. Perhatikan penegasan akan visi Rasul Allah tersebut dalam surat Ash-Shaf (61) ayat 9 berikut ini:

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan din yang benar agar Dia memenangkannya atas segala din meskipun orang musyrik membenci.
Perhatikan pula surat Al-Fath (48) ayat 28:

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan din yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua din. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.

Demikian pula surat At-Tawbah (9) ayat 33:

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan din yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala din, walaupun orangorang musyrik tidak menyukai.
Kesimpulannya, visi akhir dari semua Rasul Allah adalah menegakkan sistem hukum Allah (Din al-Hag, Din al-Islam) dalam kehidupan manusia. Tentu saja, sistem hukum Allah dapat ditegakkan apabila Rasul Allah telah memiliki Khilafah politik, yakni Dar akSalam (Negeri yang damai) sebagai wilayah dari kekuasaan Allah.

Dengan demikian, kisah para Rasul Allah di dalam Al-Qur’an sesungguhnya adalah kisah bagaimana perjuangan mereka di dalam menegakkan Khilafah Allah (Kerajaan Allah) di muka bumi. Inilah pelajaran utama di balik kisah-kisah tersebut.

h. Sebagai Pedoman Menegakkan Khilafah

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, bahwa visi dari seorang Rasul Allah adalah menegakkan Khilafah Allah di muka bumi. Sehingga kisah-kisah para Rasul di dalam Al-Qur’an sesungguhnya bermuara pada dianugerahkannya Khilafah (kekuasaan) kepada Rasul Allah dan orang-orang beriman. Dengan kata lain, kisahkisah mereka adalah kisah bagaimana cara Allah menjadikan para Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai Khalifah (penguasa) di muka bumi.

Namun demikian, mengapa kisah-kisah para Nabi dan Rasul Allah itu sering dianggap dongeng oleh orang-orang kafir atau beberapa ahli? Karena bahasa wahyu yang Allah gunakan dalam mengisahkan perjalanan mereka selalu menggunakan bahasa mutasyabihat, bahasa alegoriss bahasa perumpamaan, bahasa simbolik dan bahasa isyarat. Oleh karenanya, hanya dapat dimengerti atau diambil pelajarannya oleh orang-orang yang cerdas (ulu albah) dan orang-orang yang berpikiran suci.


Bagi mereka yang tidak ingin memaksimalkan rasionya dan masih bergelimang dengan kemusyrikan (masih najis) tidak akan diberi paham oleh Sang Pemilik Kalam (wahyu). Kisah-kisah para Nabi akan dilihat seperti kisah dongeng yang bersifat fiksi dan tidak ynasuk akal. Wajar jika saat mereka membaca Al-Qur’an seperti membaca buku dongeng. Baginya, Al-Qur’an hanyalah kitab dongeng orang-orang terdahulu. Misalnya saja, kisah Nabi Adam yang memakan buah khuldi sehingga menyebabkan dirinya telanjang. Kisah Nabi Nuh yang membuat kapal di atas bukit dan tenggelamnya dunia. Kisah Nabi Musa dengan tongkat saktinya. Kisah Nabi Sulaiman dengan istana megahnya dan pasukan binatangnya. Kisah Nabi Isa yang menjadi “dukun” sakti, dan kisah Nabi Muhammad yang berjalan dari Masjidil Haram ke Masjidil Agsha dalam waktu semalam saja, dan yang lainnya.

Jika membaca kisah-kisah mereka secara tersurat saja, maka sulit untuk tidak mengatakan bahwa kisah mereka serupa dengan kisah dongeng. Hanya sebatas cerita hayalan yang jauh dari realita sQSial, sehingga sulit dan tidak mungkin dapat dicontoh. Padahal di antara fungsi para Rasul Allah adalah untuk menjadi teladan yang baik (uswatun hasanah) bagi ummatnya dan generasi berikutnya. Lagi-lagi para ahli agama akan berlindung di balik doktrin “mukjizat” para Nabi dan Rasul Allah. Itu semua terjadi sebagai suatu keistimewaan tersendiri yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa kepada para Nabi dan Rasul-Nya.

Kembali kepada tugas utama seorang Nabi dan Rasul Allah adalah membawa misi risalah Allah dan menyampaikan firman Allah kepada ummat manusia, bukan adu kesaktian. Yang diimani dari seorang Rasul Allah adalah apa yang disabdakan olehnya sebagai firman (wahyu) Allah. Bagi mereka yang mengimani perkataan Rasul Allah, maka mereka harus mengikuti apa yang diperintahkan atau yang dilarang oleh RasulNya. Begitu pula mengikuti apa yang dicontohkan oleh Rasul Allah.


Adalah hal yang tidak lazim, jika dalam menyampaikan misi risalah-Nya, seorang Nabi atau Rasul Allah meyakinkan kaumnya atau musuhnya dengan cara “demo kesaktian” atau “adu kesaktian”. Jika Seperti itu, mereka seperti tukang obat di pasar tradisional. Demi mendapat pengunjung dan pembeli, tukang obat melakukan demo kesaktian atau atraksi sulap untuk meyakinkan para pengunjung. Padahal atraksi yang dilakukannya tidak ada kaitan dengan obat yang dijualnya. Selain itu, segala perbuatan para Nabi dan Rasul Allah yang diyakini sebagai perbuatan “mukjizat” adalah sesuatu yang bertentangan dengan logika dan dengan hukum Allah yang ada di alam (hukum alam). Bagaimana mungkin Dia mengkhianati hukum-Nya sendiri? Tentu tidak demikian. Semua yang disebut sebagai mukjizat adalah tanda kerasulan yang diungkap oleh Allah dalam bahasa mutasyabihar (perumpamaan). Bukankah dakwah itu harus disampaikan dengan cara yang hikmah, nasihat yang baik, dan debat yang terbaik.

Sahabatku ...

Bila Anda mengkaji kisah-kisah para Rasul Allah dalam Al-Qur’an, maka sejatinya pola dan metode perjuangan dakwah dan jihad mereka untuk menegakkan misi risalah-Nya atau memperjuangkan tegaknya sistem hukum (din) Allah dalam satu wilayah kekuasaan (Khilafah) adalah sama. Mereka membawa visi misi yang sama karena mereka adalah utusan-utusan dari Allah yang sama. Metode perjuangan dakwah dan jihadnya pun sama karena mereka selalu mencontoh perjuangan Nabi dan Rasul Allah sebelumnya. Begitu pula dengan pola perlawanan yang dilakukan oleh musuh-musuh risalah Allah adalah sama. Dengan kata lain, perjalanan para Nabi dan Rasul Allah di jalan kebenaran-Nya adalah tradisi (sunnah) yang terus berulang dan tidak akan pernah berubah dan berganti. Perjuangan para Rasul Allah dalam memperjuangkan tegaknya misi risalah Allah dalam bentuk di-anugerahkannya Khilafah (kekuasaan) negeri yang damai dan sejahtera itulah yang disebut dengan Sunnah Rasul.

Renungkan firman Allah dalam surat Fathir (35) ayat 43-45 berikut ini:

Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nantinantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu. “Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tiada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. "Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu, maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.
Dengan demikian, dapat dipahami mengapa Allah mewahyukan kisah-kisah para Rasul Allah sebelumnya kepada Rasulullah Muhammad. Kisah-kisah tersebut adalah contoh terbaik bagi Rasulullah Muhammad dalam memperjuangkan tegaknya Khilafah Allah di Negeri Madinah, tempat berlakunya hukum Allah bagi ummat manusia. Karena kisah-kisah tersebut memiliki nilai strategis bagi perjuangan Rasulullah, maka Allah menggunakan bahasa mutasyabihat, bahasa yang sulit dimengerti oleh musuh-musuh-Nya. Jika menggunakan bahasa Arab yang muhkam (tegas dan jelas), maka strategi perjuangan beliau akan dengan mudah dipatahkan oleh Abu Jahal dan sekutunya.


Hari ini, jika ada komunitas yang ingin menegakkan Khilafah, maka Al-Qur’an adalah Kitab Suci yang secara lengkap telah menjelaskan strategi dan metode perjuangan menegakkan Khilafah. Perjalanan Rasulullah selama hampir 23 tahun, mulai dari periode makkiyah hingga periode madaniyah adalah sunnah rasul yang mencontoh para Rasul Allah sebelumnya. Perjalanan Rasulullah Muhammad adalah kompilasi dari perjalanan para Rasul Allah, dari Adam as. hingga Isa as. Dalam bahasa wahyu, diibaratkan perjalanan dari Masjidil Haram hingga Masjidil Agsha.

Kesimpulannya, Al-Qur’an adalah Kitab Petunjuk dan Pedoman dalam menegakkan Khilafah Allah di muka bumi. Sejarah membuktikan, bahwa tidak satu pun Khilafah (kekuasaan) Allah yang pernah ada tanpa dipimpin oleh seorang Rasul Allah (Khalifah Allah). Siapa pun hari ini yang ingin berjuang menegakkan Khilafah tanpa dipimpin oleh seorang Rasul Allah dan tidak mencontoh sunnah para Rasul-Nya, maka perjuangan tersebut adalah batil, tidak akan pernah berhasil.

Semoga tafakkur (renungan) yang lumayan panjang ini dapat membuka cara pandang dan sikap spiritual sahabat terhadap Al Qur’an. Jadikan Al-Qur'an sebagai Kitab Petunjuk bukan kitab dongeng. Fungsikan Al Qur’an dalam kehidupan Anda dan jangan biarkan dia menjadi bacaan dan pajangan semata. Lakukan dari sekarang, jangan suka menunda Waktu. Bacalah! Baca, pahami, dan laksanakan.

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama