Merenungi Makna Idul Fitri

 

Merenungi Makna Idul Fitri

 

Teodisi.com : Sebuah kesyukuran amat besar bagi mereka yang mendapati dan merasakan ramadhan yang hakiki dalam hidupnya terkhusus umat islam yang telah ditinggalkan RasulNya jika dihitung juni 2021 nanti berarti sudah 1389 tahun yang lalu. Syukurnya disebabkan dia akan merasakan perjuangan sebagaimana seorang beriman sejati.

 

Malam ini adalah malam ganjil terakhir, apakah ada yang mengaku mendapatkan lailatul qadar, sesuai ciri yang nabi sabdakan? Diperkotaan tak akan anda dapati malam yg tenang sebab lebih banyak mereka sibuk berburu diskon pakaian untuk mereka pakai lebaran nanti, masjid sunyi tapi pasar murah dan mall akan ramai diiringi lantunan takbir. Inilah ciri khas islam indonesia.

 

Merenungi Makna Idul Fitri

Warisan para nenek moyang yang mengajarkan takbir keliling kota ataupun desa sebagai ucap syukurpun digeluti. Dahulu memakai bedug sekarang memakai loudspeaker besar diatas mobil. Kebanyakan dari mereka tak mengerti apa yang menjadi lantunan Takbir tersebut. Mungkin tak satupun dari mereka merasakan kemenangan yang hakiki.


Baca Juga : Sejak Kapan Anda Beriman 


Dahulu perjuangan Rasulullah Muhammad dan orang beriman bermula atas turunnya Wahyu kepada Rasulullah itulah awal dipilihnya seorang Rasul lalu mengajarkan juga kepada orang beriman sehingga dapat melewati segala tantangan, hambatan dan ujian dari Sang Maha Kuasa. Rasulullah dan orang beriman harus mampu menahan diri (berpuasa) untuk tidak membalas seluruh perbuatan orang kafir, musrik bahkan munafik dengan membenci, mencerca, mencemooh, menzalimi bahkan mengusir dari tanah Mekkah tapi justru membalasnya dengan kebaikan, itulah cikal bakal manusia dapat mulia disisiNya.

 

Saat Islam belum tegak atau masih diperjuangkan saat inilah yang dinamakan fase makkiyah/zaman kegelapan/malam, dimana cahaya petunjuk Allah hanya kepada orang yang bersama RasulNya. Orang beriman sudah mendapatkan kemuliaan dengan hidup mengabdikan diri kepada ilahi dan berjuang bersama RasulNya menegakkan islam. Sebab tak semua manusia diberi kesempatan seperti itu, Itulah lailatul qadar yang hakiki.

 

Awal dakwah memang masih kecil hanya sebatas keluarga dekat lalu membesar hingga ribuan, namun ketika perjuangan Rasulullah tiba kepada fase Hijrah, maka seluruh umatnya berpindah teritori dari Mekkah ke Yastrib lalu berubah nama menjadi Madinah. Disinilah sejarah awal Rasulullah menegakkan secara de facto Islam sebagai aturan hidup orang beriman. Islam baru hidup ketika sudah hijrah, perjuangan itu semuanya dibangun atas dasar keimanan atas janji Sang Maha Kuasa, apa yang pernah disampaikan atau didakwahkan Rasul bukan lagi masalah konsep tapi sudah menjadi hukum yang akan dan siap disebarluaskan melalui penguasaan teritori. Sebab islam tak dibatasi seperti negara, karena misinya adalah rahmatan lil alamin, dunia.


Baca Juga : Apa itu Musyrik ?

 

Diawali peristiwa paling fenomenal perang badar dan perang mut'ah, misi kerasulan seakan tak pernah gagal meski selalu kalah jumlah dalam peperangan. Terhitung ada 70 kali peperangan hingga menuju kemenangan. Hingga tibalah momen 3 bulan sebelum wafatnya Rasul pada tahun 10 H, Haji Wada yakni Rasulullah menyampaikan berbagai ketetapan Allah dan kesempunaan ajaran Islam. Beliau juga menyampaikan penjagaan Allah terhadap umat Muslim dari gangguan orang-orang kafir, sehingga pada hari itu hilanglah kekhawatiran umat Muslim.

 

Jika ajaran Islam masih sempurna sejak perkataan Beliau, maka umat islam tak ada kekhawatiran dengan orang kafir. Perhatikan surah Al Maidah ayat 3 yang juga merupakan ayat terakhir yang diturunkan,

 

..... ۗ اَلْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ دِيْـنِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَا خْشَوْنِ ۗ اَ لْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَـكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَ تْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَـكُمُ الْاِ سْلَا مَ دِيْنًا....

 

....,al-yauma ya`isallaziina kafaruu ming diinikum fa laa takhsyauhum wakhsyauun, al-yauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu 'alaikum ni'matii wa rodhiitu lakumul-islaama diinaa, .....

 

".... Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai Sistem AturanMu. ....

(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 3)

 

Tapi sayangnya kenyataannya sudah berubah, justru umat islam takut kepada orang kafir, hampir semua negara islam di timur tengah diporak poranda oleh kaum kafir, tapi tak ada gerak persatuan yang mampu melawan, persatuannya hanya kegeraman menghiasi media sosial. Terlebih lagi akhir ini kota suci, Masjid Al Aqsa diserang bahkan dirusak pihak yang tidak bertanggungjawab, apa tindakan umat islam? Jadi islam yang dahulunya ditakuti Romawi dan Persia secara faktual tak ada lagi, yang ada hanyalah islam kepingan yang berserakan.


Baca Juga : Ujian Sahabat Orang Beriman

 

Lalu siapakah yang mampu menyatukannya kembali? Kebangkitan islam inilah yang sebenarnya ditakuti kaum kafir musyrik, mereka sengaja memutar arah perjuangan Rasul menjadi agama, membelokkan sejarah, ini justru meninabobokan islam dengan terus mengajarkan mengejar saja pahala dunia, lalu masuk sorga, biarkan orang kafir dibalas nanti diakhirat. Statemen inilah yang mereka sangat sukai agar tak ada yang mampu menggantikan mereka berkuasa dibumi. Jika islam ingin berjaya kembali syaratnya tak boleh berpecahbelah, harus tauhid, bersatu.

 

Kata Idul Fitri berasal dari 2 suku kata yakni  dari kata id [arab: عيد] dan al-fitri [arab: الفطر].

Id secara bahasa berasal dari kata aada – ya’uudu [arab: عاد – يعود], yang artinya kembali.

Kata fitri berasal dari kata afthara – yufthiru [arab: أفطر – يفطر], yang artinya berbuka.

 

Saat kemenangan islam dapat berulang kembali sejak misi risalah kerasulan sebelumnya, tak boleh ada lagi menahan diri/puasa atas kekhawatiran dan ketakutan atas penindasan serta kezaliman kepada kaum kafir. Islam menjadi ajaran yang terbuka untuk seluruh manusia bagi yang menyambutnya, tetapi tetap mengayomi yang tidak mengimani, sebab islam tak mengajarkan paksaan dalam mengimani, tapi mereka juga tunduk pada aturan hukum islam. Lalu semua momen itu dirangkum dalam sebuah syariat puasa ramadhan dan berujung idul fitri yang mempunyai makna perjuangan yang hakiki.

 

Ada juga penafsir yang berdasarkan hadis tidak setuju dengan kata "kembali fitrah" adalah idul fitri. Ini disebabkan memahami fitrah itu hanya menyangkut lahiriyyah manusia bukan melihat islam sebagai din/aturan hidup. Padahal redaksinya jelas bahwa Allah menciptakan manusia fitrahnya adalah hidup dalam din ciptaanNya. Bukan melihat atau melirik pada aturan hidup selain itu, itulah sebabnya ayat tersebut disuruh hadapkan wajah kepada din yang fitrah, namun banyak manusia yang tidak hidup dalam din itu, sehingga mereka hidup berdasarkan kepentingan diri, golongan dan hawa nafsunya.

Perhatikan Surah Ar-Rum ayat 30 berikut:

 

فَاَ قِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا ۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّا سَ عَلَيْهَا ۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَـلْقِ اللّٰهِ ۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ۙ وَلٰـكِنَّ اَكْثَرَ النَّا سِ لَا يَعْلَمُوْنَ ۙ

fa aqim waj-haka lid-diini haniifaa, fithrotallohillatii fathoron-naasa 'alaihaa, laa tabdiila likholqillaah, zaalikad-diinul qoyyimu wa laakinna aksaron-naasi laa ya'lamuun

 

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada din (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) din yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,"

 

Umat beragama islam seantero dunia sebentar lagi akan menjumpai momen ditunggu-tunggu, mengapa? Karena penghujung ramadhan adalah hari yang paling ditunggu umat islam. Tak ada yang salah kalimat dengan itu, sebab umat islam sangat menantikan kemenangan, saat islam sebagai sistem hidup manusia yang fitrah digunakan sebagai aturan hidup dan hukum yang adil.

 

Banyak lantunan keagungan menggema, sahut menyahut dimalam kemenangan, itulah yang dirasakan para mujahid ketika itu. Perjuangan selama 23 tahun menahan tempaan ujian dari Sang Maha Kuasa sudah terbayarkan dengan kemenangan, iman yang dahulunya hanya sekedar konsep meyakini, menjadi kenyataan, momen kembali kepada fitrah, hidup kembali di tata dan diatur oleh hukumNya itulah makna idul fitri yang hakiki.

 

Idul Fitri juga biasa dilanjutkan dengan kalimat minal aidin wal faizin yang biasanya dimaknai kebanyakan adalah mohon maaf lahir dan batin, ini adalah makna yang salah, yang benar adalah Dari kembalinya Din Allah atau kembali tegaknya Din Allah sehingga pada saat Din Allah tegaknya maka manusia kembali fitrah (idul fitri)


Baca Juga : Apakah Anda Seorang Muslim ?

 

Kalau kita perhatikan dengan baik dan seksama seruan lantunan tasbih, takbir, tahmid dan tahlil ini syarat akan aroma perjuangan yang telah berhasil mewujudkan kemenangan sistem aturan Allah diatas segala sistem hidup buatan manusia.

 

"Allaahu akbar, (3X)Laa illaa haillallah-huwaallaahuakbar, Allaahu akbar walillaahil hamd'.“

 

Allah maha besar Allah, Tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah.

 

"Allaahu akbar kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa,  Wasubhaanallaahi bukrataw wa ashiillaa. Laa ilaaha illallallahu walaa na’budu illaa iyyaahu mukhlishiina lahuddiin, Walau karihal kaafiruun, walau karihal musyrikun, walau karihal munafiqun. Laa ilaaha illallaahu wahdah, shodaqa wa’dah, wanashara ‘abdah, wa a’azza jundahu wahazamal ahzaaba wahdah. Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar walillaahil hamd.

 

Allah Maha Besar,  Segala pujian yang banyak hanya bagi-Nya dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan sore. Tiada Tuhan selain Allah dan tiada yang kami abdi selain kepada-Nya, Kami memurnikan sistem Islam meskipun orang kafir, musrik, dan munafik membencinya. Tiada Tuhan selain Allah dengan ke-esaan-Nya. Dia Maha menepati janji. Dan menolong hamba-hamba-Nya, Memuliakan bala tentara-Nya dan menghancurkan musuh-musuh dengan ke Esaan-Nya. Tiada Tuhan selain Allah. Dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan Segala Puji hanya bagi Allah."

 

Seruan diatas sangat jelas dan fakta sejarah bahwa tujuan diutusnya Rasulullah Muhammad telah terwujud, sewaktu masa perjuangan beliau orang musrik dan kafirlah yang membencinya.

Perhatikan Surah At-Taubah ayat 33 dan Surah As Shaf ayat 9; yang bunyinya sama persis.

 

هُوَ الَّذِيْۤ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِا لْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖ ۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ

huwallaziii arsala rosuulahuu bil-hudaa wa diinil-haqqi liyuzh-hirohuu 'alad-diini kullihii walau karihal-musyrikuun

 

"Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur'an) dan aturan yang benar untuk diunggulkan atas segala aturan, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai."

(QS. At-Taubah 9: Ayat 33)

 

Allah, Sang Maha Kuasa mempunyai kehendak dan rencanaNya tak ada makhluk dimuka bumi yg luput dariNya, kepunyaanNyalah langit dan bumi lalu kepadaNya kita akan kembali, baik dalam kehidupan alam akhirat maupun kehidupan dibumi semua telah digariskan sesuai ketetapanNya.

 

Tafakkur Lail

11 Mei 2021

RP

 

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama