Membaca Ayat-Ayat Makkiyah dan Madaniyah (Bagian 1)

ilustrasi canva.com

Katakanlah. Terangkanlah kepadaku Jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus-menerus sampai hari kiamat. Siapa Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan Sinar terang kepadamu Maka apakah kamu tidak mendengar? Katakanlah: Terangkanlah kepadaku Jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Dan karena rahmat-Nya, Dia Jadikan untukmu malam dan siang supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. [QS Al-Qashash (28) 71-73]

Sahabatku...

Perbedaan mendasar dalam membaca ayat-ayat Al-Quran dengan membaca lainnya adalah adanya tuntutan kepada si pembaca untuk memahami apa yang dibacanya dan selanjutnya diaplikasikan dalam kehidupannya sehari-hari.

Berbeda dengan bacaan lainnya yang tidak menuntut apa pun. Jika anda membaca ayat Allah dan belum dapat memahaminya, maka ia belum bisa menjadi petunjuk bagi hidup Anda.

Jika anda sudah membaca dan memahaminya maka anda harus melaksanakannya.

Pertanyaannya adalah, Dari mana kita harus memulai membaca dan memahami ayat-ayat Al-Quran? Begitu banyak perintah dan larangan dalam Al-Quran, lalu ayat yang mana lebih dahulu yang harus kita kerjakan?

Baca juga: Prasangka Itu Pintu Dosa 

Manusia tidak akan sanggup mengerjakan semua perintah dan larangan-Nya secara sekaligus, dan untuk itulah ayat-ayat Al-Quran diturunkan dan dibacakan oleh Rasulullah Muhammad kepada umatnya secara berangsur-angsur tidak sekaligus.

Para ulama sepakat bawah periodisasi turunnya ayat-ayat Al-Quran dibagi dalam dua periode, yakni periode Makkiyah dan madaniyah.

Namun mereka berbeda pendapat soal apa yang dimaksud ayat Makkiyah dan Apa yang dimaksud Madaniyah itu.

Kesimpulannya, ayat-ayat Makkiyah adalah ayat-ayat yang diwahyukan (diturunkan) sebelum Rasulullah Muhammad Hijrah, dan ayat-ayat Madaniyah adalah ayat-ayat yang diwahyukan (diturunkan) pasca Rasulullah hijrah, meskipun ayat itu turunnya di Mekah, seperti surah An-Nasr (110).

Baca juga: Apakah Anda Seorang Muslim?

Lalu apa nilai yang dapat dijadikan pelajaran dan petunjuk dari periodisasi tersebut, khususnya dalam misi penegakan kembali Din Al-Islam di muka bumi?

Seharusnya orang menyadari bahwa Al-Quran itu adalah petunjuk atau pedoman tentang bagaimana cara menegakkan kembali Din Allah atau sistem pengabdian kepada-Nya secara sistematis, sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-Furqan (25) ayat 32-33:

Berkatalah orang-orang yang kafir: Mengapa Al-Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja ?Demikianlah supaya kami memperkuat akal pikiranmu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.

Baca juga: Islam Bukan Agama

Setiap perjuangan para Rasul Allah selalu mendapat bimbingan Wahyu dari Dia. Fase perjuangan Iman, Hijrah, dan Jihad dilakukan sesuai dengan periodisasi turunnya wahyu atau firman Allah.

Dalam sejarah perjuangan Nabi Muhammad, periode ini dikenal dengan periode Makkiyah dan Madaniyah.

Makkiyah adalah periode dakwah pada kondisi Nabi Muhammad masih berada dalam wilayah kekuasaan hukum jahiliyah Bangsa Mekah atau periode turunnya wahyu sebelum hijrah (kondisi zhulumat; layl; gelap).

Sementara Madaniyah adalah periode di mana ayat atau Firman yang diinstruksikan pada kondisi Nabi Muhammad dan pengikutnya telah berada diluar kekuasaan wilayah hukum jahiliyah Bangsa Mekah (kondisi Nur, nahar, terang) atau periode setelah melaksanakan eksodus/Hijriah.

Baca juga: Menjadi Saksi-Saksi Allah  

Pada saat Rasulullah menguasai Yastrib berarti beliau sudah memiliki teritorial hukum sendiri yang terbebas dari kekuasaan Abu Jahal. 

Dengan adanya status quo inilah, Allah menginstruksikan ayat-ayat hukum seperti perintah shalat, zakat, puasa, haji, perang melawan orang kafir, hukum qisash, hukum zina, hukum potong tangan bagi koruptor, hukum nikah, hukum riba, dan lainnya. Semua ayat hukum, Allah turunkan (perintahkan) pada kondisi Madaniyah bukan kondisi Makkiyah.

Allah, Rabb Semesta Alam, itu maha bijaksana sehingga tidak akan memerintahkan sebuah aturan hukum-Nya ditegakkan manakala hamba-hamba-Nya masih terikat dengan aturan hukum jahiliyah atau hukum bangsa-bangsa kafir musyrik (thagut).

Hukum Allah selalu bertolak belakang dengan hukum buatan manusia atau negara-negara bangsa. Hal ini dipertegas melalui pernyataan Allah dalam Al-Quran surah Al-Maidah (5) ayat 50:

Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?

Aplikasi penegakan hukum Allah ini sangat tergantung pada teritorial yang harus dimiliki oleh sebuah umat yang ingin mewujudkannya. Dengan kata lain, bicara ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah bukanlah persoalan di mana tempat wahyu Allah ini diturunkan, tetapi berbicara tentang kondisi di mana ayat tersebut diwahyukan atau diajarkan oleh Allah.

Tiga tahapan perjuangan para Rasul Allah, yakni tahap Iman, Hijrah, dan Jihad, menjadi contoh terbaik dan harus diteladani oleh orang-orang beriman. 

Setiap Rasul, mulai dari Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa hingga Muhammad saw menapaktilasi prinsip-prinsip perjuangan tersebut dalam mewujudkan tegaknya Hukum Allah di muka bumi.

Setiap Rasul tersebut membawa visi-misi, dan program kerja yang sama untuk memenangkan Din Al-Islam di atas segala ideologi bangsa-bangsa pada setiap zamannya masing-masing.

Tentu saja periodisasi perjuangan mereka juga terbagi atas dua kondisi, Makkiyah (sebuah nilai kehidupan kegelapan) dan Madaniyah (sebuah nilai kehidupan Sinar terang).

Mereka 'diperjalankan' oleh Robb Semesta Alam dari alam kegelapan menuju alam terang penuh dengan ilmu Allah yang ilmiah. Perhatikan firman Allah surah Al-Baqarah (2) ayat 257:

Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, dan mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Dengan demikian, sangatlah wajar jika hari ini ada komunitas atau kumpulan manusia yang ingin meneladani dan mencontoh metodologi perjuangan para Rasul dalam menegakkan Din Al-Islam, maka mereka akan mendapatkan tantangan dan hambatan yang hebat dari bangsanya karena hal ini merupakan sebuah tradisi yang pasti berulang.

Allah sedang memperjalankan hamba-hamba-Nya yang berjuang dalam tradisi para Rasul-Nya untuk menghadapi orang-orang atau bangsa yang hidup tidak berdasar sistem hukum dari Dia, sebagaimana dahulu dia telah mengisahkan pergumulan peradaban antara Adam dan iblis, Nuh dan kana'an, Ibrahim dengan Namrud, Musa dengan Firaun, Isa dengan Pilatus dan Herodes, maupun Muhammad dengan Abu Jahal ataupun musyrik Mekah.

Baca juga: Sejak Kapan Anda Beriman?  

Semua kisah perjalanan dari awal sampai akhir perjuangan para Rasul tersebut dikisahkan dengan indah dalam Kitab-kitab suci yang menunjukkan sebuah akhir kemenangan dari para Pembawa Risalah Allah yang ditandai dengan tegaknya kekuasaan (Khilafah)-Nya di muka bumi.

Tentu saja, untuk bisa menjiwai dan menapaktilasi periodisasi perjuangan Makkiyah dan Madaniyah, terlebih dahulu harus mengenal dan memahami sejarah para Rasul Allah.

Dengan mengetahui sejarah mereka, maka setiap manusia akan bisa membaca deskripsi situasi pada zaman yang lalu kemudian membandingkan dengan deskripsi situasi masa kini, sehingga dapat diketahui relevansi peristiwa masa lalu dengan kejadian pada masa sekarang ini.

Kemampuan seseorang 'membaca zaman' inilah yang akan menjadi kunci bagi kesuksesan perjuangan masa kini berdasarkan contoh-contoh suri teladan bagi para Pembawa Risalah-Nya.

Seperti kisah rasul Muhammad yang mampu 'membaca zaman', sehingga beliau bisa memosisikan diri dalam berjuang sesuai dengan kondisi Makkiyah maupun Madaniyah. Bersambung...

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama