Allah, Rasul dan Ruh Qudus (Bagian akhir)

Sumber Gambar: freepik.com

Firman Allah yang ada dalam hati kesadaran orang percaya itu sifatnya berubah menjadi ruh, dan ruh itu keberadaannya dalam hati manusia tidak abadi.

Jika"orang yang percaya" itu mencintai allah lain selain Allah, ruh yang adalah firman itu dapat hilang dari kesadarannya.

Wahyu Allah bukan saja dapat turun ke bumi, tapi juga dapat naik kembali ke langit.

Dan sesungguhnya, jika Kami menghendaki niscaya Kami leyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan dengan pelenyapan itu, kamu tidak akan mendapatkan seorang pembelapun terbadap Kami. (QS. Al-Isra (17): 86)

Kecuali karena anugerah dari Tuhanmu, sesungguhnya
karunia-Nya kepadamu itu amatlah besar. (QS. Al-Isra (17: 87)


Semua rasul semula hidup di "dunia orang mati", kemudian "dihidupkan" oleh Allah dengan mengajarkan firman, yaitu Ruhul Qudus. 

Ruhul Qudus itu menjadi "ilmu" atau penerang di dalam kesadaran hati para rasul itu. Dengan nur atau ilmu itulah para rasul membimbing umatnya berjalan di tengah masyarakat manusia;

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-An’am (6): 122)

Selanjutnya dalam kitab Yohanes, Yesus melanjutkan wejangannya;
Aku tidak akan meningalkan kamu sebagai yatim piatu, aku datang kembali kepadamu. (Yoh; 14: 18).

Semua itu kukatakan kepadamu selagi aku berada bersama-sama dengan kamu, tetapi penghibur, yaitu Ruh Kudus yang akan diutus oleh Bapa dalam namaku, dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan akan semua yang telah kukatakan kepadamu. (Yoh. 14: 25-26).

Hendaklah diingat secara cermat cara bicara Yesus agar tidak terjadi israf; tidak terjadi overlap pengertian yang bisa terjebak dalam kemusyrikan.


Titik kritisnya ada pada istilah "aku". Yesus menyebut dirinya "aku" dalam makna transendensi, yaitu orang yang kerasukan Roh Kudus, yaitu firman yang hidup di dalam dirinya.

Dalam dimensi transendensi, semua Rasul Allah adalah syahid atau "identitas" Allah di muka bumi. Oleh sebab itu, mengkafiri Rasul identik dengan mengkafiri Allah, dan sebaliknya, menaati Rasul identik dengan menaati Allah.

Allah tidak dapat dipisahkan dengan Rasul, dan Rasul juga tidak dapat dibedakan dengan Allah.

Siapa yang mengenal Rasul berarti orang itu sudah mengenal Allah.

Allah tidak dapat dipisahkan dengan Rasul-Nya, artinya; orang harus yakin bahwa perintah Rasul atau apa yang keluar dari mulut Rasul itu adalah perintah dan perkataan Allah.

Mengingkari perintah Rasul sama dengan mengingkari Allah. Dengan kata lain, Allah dan Rasul-Nya sudah menjadi kesatuan yang tidak dapat dipisahkan;

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasu-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An-Nisa (4):150-152)


Perlu disadari bahwa kita tidak sedang membahas masalah "esensi" atau zat Allah, tetapi yang kita sedang bahas adalah masalah "eksistensi" atau "ayat" Allah.

Kita mengenal bahwa Allah itu Esa adalah dengan adanya alam semesta sebagai suatu unitas yang esa (satu kesatuan sistem).

Firman Allah adalah "ayat" Allah. Rasul-rasul juga "ayat" Allah, semuanya adalah ayat-ayat Allah.

Tak ada satu pun di alam semesta ini yang bukan ayat Allah. Tidak ada sumber gerak dalam kehidupan ini selain Allah!
 
Dari sini kita diperkenalkan pada "tiga dimensi" Allah, yaitu pertama, Allah Azza wa Jalla, Allah yang menjadi raja dalam Kerajaan-Nya yaitu langit dan bumi.

Kedua, "Ruhul Qudus" yaitu Firman Allah, dan yang ketiga adalah "Rasul Allah"
yang merupakan syahid-Nya di muka bumi.

Ketiga "Dimensi Allah" ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain.


Yesus maupun Nabi Muhammad bukan Allah, tetapi "perkataan dan perintahnya" adalah perkataan dan perintah Allah.

Ulama Farisi dan Saduki serta Abu Jahal bukan orang yang tidak percaya kepada Allah tetapi yang mereka tidak percayai adalah "perkataan Rasul sebagai perkataan Allah".

Orang yang mengatakan Allah adalah "salah satu dari yang tiga" termasuk kategori orang yang kafir. Yang benar adalah ketiga-tiganya adalah Allah; Allah adalah Allah, Firman adalah perkataan Allah dan Rasul adalah Utusan Allah.

Allah disebut "Esa" atau Ahad bukan dalam arti "bilangan" bahwa Allah itu "satu".  

Satu dalam bahasa Arab adalah wahid.

Ahad bermakna unitas yaitu "kesatuan". Apapun yang ada pada semesta alam ini merupakan suatu kesatuan wujud dari "Kekuasaan Allah".

Itulah makna dari "tauhid", Allah itu Esa, Dia bukan salah satu dari yang tiga:

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putra Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu" Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun. (Al-Maidah (5): 72)


Allah: Rabb, Malik dan Ilah

Di dalam kehidupan universal ini, manusia tidak layak untuk membuat hukum di luar hukum Allah yang termaktub di dalam kitab-Nya yang suci yang tidak bercampur dengan hawa nafsu manusia.

Hanya Allah sajalah yang berhak mengatur manusia dengan hukum-Nya yang ditegakkan oleh khalifah-Nya.

Menolak hukum Allah dan menggantinya dengan hukum bikinan manusia adalah bentuk dari kemusyrikan Rububiyah

Sesungguhnya menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. (QS. Al-An'am (6): 57)

Kehidupan universal yang merupakan "Kerajaan Allah" ini tidak layak ada "Raja dengan Kerajaannya" karena hanya Allah-lah Raja (penguasa) atas seluruh alam.

Kerajaan atau kekuasaan yang dibangun oleh manusia sebagai sarana hukum (bikinan manusia) atau suatu bangsa adalah bentuk dari kemusyrikan Mulkiyah Allah.

Allah adalah Malik Al-Nas, Raja manusia.

Dalam kehidupan universal ini tidak boleh ada penyembahan, pemujaan dan pengabdian selain pengabdian kepada Allah, karena tidak ada yang layak untuk diabdi selain Allah.

Mengabdi kepada selain Allah adalah bentuk dari syirik Uluhiyah, La ilaha illa Allah; tidak ada yang diibadati kecuali Allah.

Katakanlah (wahai rasul): "Aku berlindung kepada (Allah) Pencipta dan Pengatur manusia, Raja manusia, Tuannya manusia, dari segala bentuk keburukan yang mempengaruhi secara halus yang dibisikkan ke dalam kesadaran manusia, yang bersumber dari jin dan
manusia. (QS. Al-Nas(114)

Selanjutnya, yang perlu diperhatikan adalah petikan dari ayat 152 surat Al-Nisa tersebut, yaitu bahwa orang yang menyatakan iman kepada Allah tidak boleh membeda-bedakan sikap dan keyakinannya kepada semua Rasul Allah.

Semua orang yang beriman harus yakin bahwa semua Rasul Allah mengajarkan Dien (sistem ketaatan kepada Allah) yang sama, yaitu "sistem ketaatan" yang disebut "Islam'’.

Semua nabi dan Rasul Allah yang disebut di dalam Al-Quran adalah uswatun khasanah,
yaitu contoh yang sebaik-baiknya di dalam cara mengabdi kepada Allah.

Mereka itulah orang-orang yang mendapat nikmat Allah, yaitu "jalan kebenaran"; shirat al-mustaqim, yang juga harus menjadi "jalan kehidupan" bagi orang-orang yang beriman dan menyatakan dirinya sebagai orang yang tunduk patuh (muslim) kepada Allah; Tu(h)an semesta alam.

Aqidah seperti inilah yang akan mendapat ganjaran mulia dari Tu(h)an Semesta Alam. 

Editor: Andi Zulfitriadi

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama