Allah, Rasul dan Ruh Qudus (Bagian 2)


Sumber Gambar: freepik.com

Setelah kita mengupas ayat-ayat Tu(h)an dari Al-kitab maupun Al-Qur’an tentang "pengenalan" terhadap istilah Allah, Firman atau Ruhul Qudus dan Rasul, kita menjadi orang yang mengenal Allah, yaitu bahwa Allah itu adalah Ruh (Firman), sebahagian dari Firman (Ruh) Allah itu diturunkan ke dalam qalbu rasul-rasul dan firman itu dikeluarkan kembali melalui mulut rasul (Al-Syu'ara' (26): 192-195). 

Sekarang mari kita lihat pernyataan Al-Quran tentang masalah ini; Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu." Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (Al-Maidah (5): 72)

Di dalam Injil, Yesus tidak pernah menyatakan dirinya Tu(h)an sejati maupun ''Anak Tuhan'' sejati. Dia menyatakan dirinya "Anak Tuhan" adalah dalam makna majasi, karena ia merasa dirinya adalah didikan Tu(h)an atau "Anak Ruh" Tuhan. Dia menyatakan Allah itu "Bapa" karena Allah semesta alam mengasih dirinya "seperti" seorang bapa mengasih anaknya (Ul. 14) 


Yesus bukan Tu(h)an sejati yang menjadi diri-Nya, karena ia selalu berdoa kepada Allah sejati. Jika Yesus difigurkan sebagai Allah sejati, doanya menjadi sulit dimengerti, bagaimana Tu(h)an berdoa kepada diri-Nya sendiri? Dengan "kesaksian ini", maka doktrin Yesus adalah Tu(h)an sejati yang menjelma menjadi manusia, adalah satu bentuk pemahaman yang perlu ditinjau ulang.

Sekarang, mari kita pahami pengarahan Yesus kepada murid-muridnya menjelang akhir kerasulannya yang tadi telah kita kutip: 

Pertama, Jikalau kamu mengasih aku, kamu akan menuruti segala perintahku. Mengasihi Yesus maksudnya adalah "mencintai" Yesus sebagai rasul. Apakah sikap ini tidak melanggar prinsip tauhid yang menyatakan bahwa; "Jangan ada allah-allah lain di hadapan Allah"? bukankah "cinta" itu hanya untuk Allah semata? Jawabnya adalah; Tidak! Karena mencintai atau mengasih rasul bukan mencintai fisiknya atau mencintai pribadinya, tetapi yang kita cintai adalah kedudukan dia sebagai utusan Tuhan yang berkata-kata bukan atas dasar pikiran pribadinya, tetapi apa yang dikatakannya adalah perkataan Allah atau Firman Allah. 

Kedua, Yesus menyebut Tuhan, Allah Abraham, dengan istilah "Bapa" bukan dalam makna hakiki, tetapi dalam makna "majasi", dalam arti "seperti". Orang-orang yang beriman sesungguhnya adalah orang yang diajarkan, dididik, dan didewasakan oleh Allah. 

Baca juga: Kabar Gembira Isa Ibn Maryam: Aksentuasi Sang Pembebas

Dalam pengertian inilah Allah menamakan diri-Nya Rabbnya manusia (Rabb al-nas). Jika orang tidak merasakan kedekatannya dengan Allah, seperti seorang anak kepada bapak biologisnya, berarti dia masih "jauh" dengan Allah.

Jika Firman Allah tidak ada di dalam qalbunya, maka yang ada di dalam dirinya adalah roh yang bukan Roh Allah, dan sesuatu yang bukan Allah adalah iblis. Dalam kesadaran yang seperti inilah Tuhan, Allah Abraham, menyatakan dirinya lebih dekat dari urat nadi manusia. 

Sesungguhnya Allah bersama kamu di manapun kamu berada (Al-Hadid (57): 4) 

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat nadinya. (Qaf (50): 16) 

Kepergian Yesus dari dunia ini (wafat) akan menyebabkan umatnya menjadi orang yang kafir kembali; layaknya seperti domba-domba yang tidak bergembala pasti akan terserak ke mana-mana, tersesat atau menjadi mangsa serigala. 

Baca juga: Tuduhan Terhadap Maryam dan Pembelaan Isa Al-Masih

Selama ummat Yesus konsis dengan ajarannya dan hidup di dalam roh yang adalah firman yang hidup di dalam diri ummatnya, mereka akan selamat, tetapi kondisi yang seperti itu sangat riskan. Oleh sebab itu, Yesus memohon kepada Bapa agar ia memberikan penolong yang lain sesudah kematian biologisnya. 

Seorang penolong yang lain berarti bukan dirinya, tetapi nabi atau rasul setelah dirinya. 

Yaitu Roh kebenaran, esensi Roh Kebenaran adalah Firman Tu(h)an yang selama itu diam di dalam hati Yesus. 

Yesus menyatakan bahwa rasul yang menjadi pengganti dirinya untuk memimpin domba-domba Allah yang selama itu dipimpinnya, adalah nabi yang juga mendapat ''Ruh Qudus'' yaitu firman Allah sebagaimana ruh qudus yang berdiam dihatinya.

Baca juga: Kerajaan Allah, Hukum dan Dosa

Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Yang dimaksud "Dia" disini adalah Roh kudus yang adalah firman Allah. Orang yang mengerti bahasa firman digambarkan seperti "orang yang melihat". 

Dengan melihat orang menjadi kenal (Luk. 10: 21-24). Roh Kebenaran yang diharapkan akan diberikan kepada penolong yang lain itu nantinya akan ditolak oleh banyak orang karena orang tidak "melihat" Dia dan tidak mengenal Dia. 

Yesus menyatakan bahwa "penolong yang lain" itu tidak dikenal dunia, tetapi murid-murid atau umatnya mengenal Dia, karena "Dia" menyertai mereka dan akan diam dalam hati mereka. Maksudnya adalah bahwa "penolong yang lain" itu akan mereka kenal karena ia akan berkata-kata seperti apa yang dikatakan Yesus (Alkitab). 


Ketika Nabi Muhammad berdakwah kepada para Ahlul Kitab, mereka banyak yang antusias. Apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad sama dengan Firman Allah yang ada di dalam qalbu mereka. 

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (Al-Baqarah (2) ayat 146)

Yang dimaksud "mengenal" Muhammad seperti anaknya sendiri bukan dalam arti fisik Muhammad, tetapi firman yang diucapkan Muhammad. Apa yang dikatakan oleh Muhammad itu pula yang terdapat di dalam kitab-kitab mereka. Rupanya, Nabi Muhammad juga berbicara tentang Ruhul Qudus seperti yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Muhammad menyatakan bahwa Isa Al-Masih yang adalah Yesus itu adalah nabi vang jiwanya diperkuat oleh Ruhul Qudus (Al-Baqarah (2): 87). 

Tentang Ruhul Qudus itu para Ahlul kitab pernah bertanya kepada Nabi Muhammad; 

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (Al-Isra (17): 85) 

Baca juga: Respons Al-Qur'an Terhadap Tabiat Ahli Kitab

Orang mengira bahwa maksud kata ruh dalam ayat ini adalah "roh" yang menghidupi jasad manusia. Penafsiran seperti ini sangat jauh dari kebenaran. Untuk memahaminya, seharusnya orang melihat ayat berikutnya yang menyatakan; 
"Dan jika Kami kehendaki, niscaya kami dapat melenyapkan apa yang telah kami wahyukan kepadamu (Muhammad), lalu kamu tidak akan mendapatkan penolong atas kamu" (Al-Isra (17): 86) 

Dalam hal ini tidak ada makna lain bahwa yang diwahyukan oleh Allah kepada nabi adalah Firman Allah, Al-Qur’an harus menjadi ruhnya manusia. 

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Al-Syura (42): 52) 

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. (Yusuf (12): 53) 

Tanpa pengajaran wahyu yaitu firman, manusia akan tetap berada di dunia orang mati. Untuk membangkitkan umat manusia dari kematian jiwa itu, Tu(h)an memberikan ruh suci, yaitu firman kepada salah seorang hamba pilihan-Nya. 

Hamba pilihan-Nya yang diberi Ruh Qudus itu disebut nabi dan rasul. Rasul Tuhan itu kemudian mengajarkan firman atau ruh kepada manusia melalui dakwah. 

Akhirnya, terciptalah sebuah komunitas yang "hidup" yang disebut dengan komunitas orang-orang beriman. 

Agar tidak terjadi kebangkitan dari orang-orang mati, setan merubah makna ruh menjad "roh". Dengan cara demikian, manusia tidak memahami makna Al-Quran sebagai ruh yang dapat membangkitkan dirinya menjadi manusia yang "hidup" di hadapan Allah. Bersambung…

Editor: Hamba Allah

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama