Allah, Rasul dan Ruh Qudus (Bagian 1)

Sumber Gambar: reformed.sabda.org

Jikalau kamu mengasihi aku, kamu akan menuruti segala perintahku. Aku akan minta kepada Bapa dan Ia akan memberikan kepadamu seorang penolong yang lain, supaya la meyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab la meyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat aku lagi; tetapi kamu melihat aku sebab aku hidup dan kamupun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapaku dan kamu di dalam aku dan aku di dalam kamu. Barangsiapa memegang perintahku dan melakukannya, dialah yang mengasihi aku. Dan barangsiapa mengasihi aku ia akan dikasihi oleh Bapaku dan akupun akan mengasihi dia dan akan meyatakan diriku kepadanya". Yudas, yang bukan Iskariot, berkata kepadanya: 'Tuhan, apakah sebabnya maka engkau hendak meyatakan dirimu kepada kami, dan bukan kepada dunia?" Jawab Yesus: 'Jika seorang mengasihi aku, ia akan menuruti firmanku dan Bapaku akan mengasihi dia dan dia akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Barangsiapa yang tidak mengasihi aku, ia tidak menuruti firmanku, dan firman yang kamu dengar itu, bukanlah daripadaku. Semua itu aku katakan kepadamu selagi aku bersama-sama dengan kamu. Tetapi penghibur, yaitu Roh kudus yang akan diutus oleh - Bapa dalam namaku, dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah kukatakan kepadamu. (Yoh. 14: 15-26)

Sebagai seorang pemimpin, menjelang akhir hidupnya, Yesus memberikan "wasiat" yang harus diperhatikan dan berpegang teguh pada wasiat ini. Ucapan Yesus ini hanya ada pada Injil Yohanes, dan tidak ada pada ketiga Injil lainnya.

Ada beberapa simpul dari wasiat Yesus yang perlu kita perhatikan dan pahami; Pertama, Jikalau kamu mengasih aku, kamu akan menuruti segala perintahku. Kedua, Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan seorang penolong yang lain. 

Ketiga, Supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya. Keempat, yaitu Roh Kebenaran.

Kelima, Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Keenam, Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam dalam kamu.

Di dalam ajaran kitab-kitab Allah Taurat, Injil dan Al-Qur’an, dinyatakan bahwa Allah mengajari manusia tentang bagaimana cara hidup yang sesuai dengan "kehendak-Nya", menurut "keridhaan-Nya" adalah dengan mengajarkan "firman-Nya" kepada nabi atau rasul yang telah ditetapkan sebelum alam semesta ini diciptakan.

Apa yang disebut "firman" itu adalah "Perkataan Allah". Alam semesta yang kita lihat semua ini sesungguhnya "penggenapan" dari Firman Allah. Kehidupan alam semesta, baik kehidupan di langit maupun di bumi (termasuk manusia) yang berlangsung secara terus menerus, dulu, kini maupun yang akan datang adalah ayat atau "bukti" dari Firman Tuhan. Artinya, Tuhan semesta alam tidak pernah berhenti berfirman sejalan dengan keberadaan alam semesta itu sendiri.

Baca juga: Sejarah Kata Tuhan (Bagian 1)

Dalam kedudukan Tu(h)an, sebagai Rabbnya manusia, pekerjaan itu dilakukan dengan menyampaikan firman itu kepada orang pilihan-Nya, yang disebut nabi atau rasul.

Tuhan itu sendiri adalah "Ruh" yang bersemayam pada kursi-Nya, yaitu samawati wal ard; seluruh makhluk di langit dan di bumi. Karena semua makhluk adalah eksistensi (wujud) dari firman-Nya yang patuh kepada firman yang difirmankan atasnya, terjadilah kehidupan yang harmonis pada alam semesta. Apa yang disebut "Kerajaan Allah" sesungguhnya alam semesta itu sendiri.

Kerajaan Allah berupa alam semesta ini disebut juga "Kerajaan Sorga". Al-Qur’an menyatakan bahwa Kerajaan Sorga (jannah) adalah "seluas langit dan bumi" (Al-Baqarah (2): 255).

Untuk mewujudkan kekuasaan-Nya di muka bumi, diutuslah seorang rasul. Tugas rasul adalah menjadi "penolong-penolong" Allah untuk menegakkan kerajaan-Nya di bumi.

Firman Tu(h)an semesta alam adalah Ruh (Roh), yaitu "sesuatu yang menghidupkan" kesadaran manusia, agar manusia dapat bangkit dari "kematiannya", bangkit dari "kuburan" hawa nafsunya, maka firman itu harus berdiam atau berada pada pusat kerja otak yaitu qalbu.

Orang percaya atau orang beriman adalah orang yang menjadikan firman itu sebagai firman hidup atau ruh yang bekerja sebagai ilah (pengendali) pikir, kata dan gerak kehidupannya. Jika demikian, Firman Tuhan atau Ruh Tuhan yang kudus itu sesungguhnya adalah software dari qalbu (otak) yang berfungsi sebagai hardware dalam diri manusia. 


Sampai di sini, kita diperkenalkan dengan tiga dimensi dari sebuah esensi; 
Pertama, Esensi ruh itu adalah Tu(h)an semesta alam. Kedua adalah Rasul Allah sebagai mediator Allah dalam Dia berbicara kepada manusia. Dan dimensi yang ketiga adalah "perkataan" seorang Nabi atau Rasul Allah adalah wahyu atau ruh Allah. 

Ketiga dimensi ruh atau wahyu atau firman ini esensinya adalah satu, yaitu Allah, Tu(h)an semesta alam.

Dengan kata lain, Allah bukan terdiri dari tiga substansi yang berbeda. Arti praktisnya adalah perkataan rasul adalah perkataan Allah, firman atau Ruhul Qudus itu adalah Ruh Allah, dan Allah adalah Allah.

Di dalam Al-Qur’an ada ayat yang menyatakan demikian;
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. (Al-Nisa: 150-151)

Menolak Mandat

Kendala yang sangat besar bagi orang yang disebut 'kafir' di dalam kitab-kitab Allah adalah mereka percaya kepada Allah tapi mereka menolak "perkataan" Rasul sebagai perkataan Allah. 

Menurut pikiran mereka, bagaimana mungkin seorang manusia menyatakan bahwa perkataan yang keluar dari mulutnya (rasul) adalah "Perkataan Allah".

Orang seperti Fir'aun di zaman Musa, Kayafas di zaman Yesus dan Abu Jahal di zaman Muhammad adalah tipe orang yang dimaksud "orang-orang kafir" oleh ayat tersebut, dan ini berarti siapapun yang "memperbedakan" antara "perkataan rasul" dan "perkataan Allah" adalah orang yang sungguh-sungguh kafir.

Orang yang beriman harus memandang bahwa apa yang diucapkan rasul-rasul itu adalah firman atau perkataan Allah. Nabi atau rasul adalah "mulut" Allah (Al-Najm (53): 3) dan (U1. 18: 18). Barangsiapa yang menyatakan Allah itu adalah "salah satu" dari yang tiga (Allah, Firman, Rasul), maka orang itu termasuk golongan kafir (Al-Maidah (5): 73).

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada Tu(h)an selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.

Baca juga: Makna Kata Rabb dan Ilah

Allah melarang orang memisahkan antara diri-Nya dan rasul-Nya. Orang yang berpaham Allah dan rasul-Nya sebagai dua substansi yang berbeda, dalam arti hanya Allah yang wajib ditaati perintah-Nya sedang perintah rasul tidak wajib ditaati atau bersifat sukarela (sunnah), orang yang demikian ini dicap oleh Allah sebagai "Kafir Haq", kafir yang sebenar-benarnya kafir.

Analogi

Dalam masalah iman, ada tiga substansi yang tidak dapat dibedakan atau dianggap sebagai tiga hal yang terpisah yaitu: Allah, Rasul Allah dan Ruhul Kudus.

Ketiga hal ini adalah unitas atau kesatuan yang tidak dapat dipisahkan atau dibedakan.

Analoginya sama seperti seorang raja yang mengutus menterinya untuk membacakan maklumat kepada rakyatnya.

Sang Raja, Utusan Raja dan Maklumat Raja adalah satu kesatuan yang tidak boleh ditolak. Hanya mengakui Sang Raja tetapi menolak Utusan Raja adalah kafir kepada Sang Raja.

Mengakui Sang Raja dan mengakui Utusan Sang Raja tetapi menolak Maklumat Raja adalah sama dengan mengkafiri Sang Raja. Mengakui Sang Raja tetapi tidak mengakui mandat dan kekuasaan hukumnya sama artinya dengan memasung Sang Raja di istananya.

Baca juga: Al-Qur'an dan Ruhul Qudus

Kesadaran kaum beragama hari ini, tak ubahnya seperti pernyataan diatas.

Maklumat

Maklumat Allah berupa undang-undang-Nya yang tersirat di dalam surat-surat Allah (kitab-kitab Allah) hanya dijadikan jampi-jampi dan nyanyian untuk mendapatkan pahala dan dibacakan untuk orang mati. Sementara yang mereka taati perintah dan kehendaknya hanyalah seorang "hamba" yang berlagak seperti seorang raja.

Kekeliruan kaum bergama hari ini adalah menganggap bahwa Yesus secara "daging" (fisik) adalah Tuhan yang menjadi manusia. Seharusnya orang tidak memandang Yesus seperti ini.

Yesus dalam wujud fisik adalah "Anak Manusia" tetapi Yesus dalam "perkataannya" firman yang keluar dari dirinya (mulutnya) adalah Allah atau Firman Allah (Ul. 18: 18).

Perkataan rasul adalah pikiran atau kesadaran yang keluar dari "hati" yang di dalamnya berdiam Firman Allah yang adalah Ruh Allah. Tu(h)an tidak terdiri dari tiga oknum yang berbeda-beda.

Dia adalah Allah, Dia adalah Firman atau Ruh, dan Dia adalah perkataan Rasul. Berbicara tentang Tu(h)an, bukan berbicara persoalan zat Tuhan, karena Tu(h)an Allah bukan zat, tetapi Ruh dalam arti Firman.

Apa yang disebut "Ruhul Kudus" itu bukanlah makhluk pribadi, tetapi dia adalah Firman Allah. Ketika Yesus sebagai anak manusia wafat, maka firman yang ada di dalam dirinya kembali kepada sumber dari mana firman itu berasal, yaitu Allah, sedangkan tubuh biologis yang berasal dari tanah (turab) kembali ke tanah.

Ada yang mencoba merekayasa bahwa janin yang ada di dalam tubuh Maria adalah ''Tu(h)an Allah" sehingga ketika Yesus lahir, dia dipandang sebagai Tu(h)an dan Maria adalah Ibu Tu(h)an. Pemahaman seperti inilah yang dilarang oleh Allah.

Di dalam kisah Injil, Yesus yang adalah "anak manusia" yang keluar dari rahim Maria adalah manusia sebagaimana manusia lainnya, tetapi dia baru menyatakan dirinya sebagai Utusan Tu(h)an setelah Ruh Kudus turun ke atas kepalanya "seperti" burung merpati.

Sesungguhnya ini hanyalah sebuah bahasa perumpamaan yang diceritakan oleh Yohanes Pembaptis atau Nabi Yahya (Mat. 3: 13-17).

Editor: Hamba Allah

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama