Tuduhan Terhadap Maryam dan Pembelaan Isa Al-Masih

Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun], ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina", maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?". Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali. "Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. (Maryam 19:27-34) 

Dikalangan penafsir agamis memahami ayat 27 dan 28 di atas secara apa adanya. Mereka mengira bahwa ayat ini adalah ayat muhkam; setelah Maryam menyingkir seorang diri untuk melahirkan, ia kemudan kembali ke rumahnya sambil menggendong anak itu, padahal mereka tahu bahwa maryam belum bersuami. Kedatangan maryam membuat tua-tua Israel heran dan menuduh Maryam punya anak tersebut dari hasil perzinahan. Ketika tuduhan ini dipertanyakan kepada Maryam, ia tidak menjawab. Maryam menunjuk anaknya yang dalam gendongan itu untuk menjawab. Para tua-tua Israel itu menjawab dengan sinis; mengapa hal ini harus dipertanyakan kepada anak yang masih dalam gendongan. 

Tiba-tiba "anak orok" itu menjawab: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah; Dia (Allah) telah memberikan Alkitab (Injil) dan Dia memerintahkan kepadaku untuk shalat dan zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong dan celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku mati dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali. 

Dari jawaban anak itu, masalahnya menjadi jelas, bahwa; Pertama, Tuduhan para tua-tua Israel bukan masalah perzinahan fisik. Buktinya adalah anak itu telah membela ibunya bukan dalam masalah perzinahan fisik. Jika tuduhan itu demikian, tentunya anak itu tidak memberikan jawaban yang demikian. Jawaban anak itu menjadi tidak relevan. Yang dipermasalahkan oleh tua-tua Israel memang bukan masalah zinah fisik, karena mereka mengetahui bahwa Maryam adalah istri sah dari Yusuf si pengusaha kayu. Yang mereka permasalahkan adalah khotbah-khotbah Yesus terasa aneh di telinga tua-tua Israel. Yesus anak Maryam ini berbicara soal Taurat dan nubuah nabi-nabi, berbeda dengan paham agama Yahudi yang dianut oleh tua-tua itu. 


Istilah zinah dalam Alkitab dikenakan kepada orang yang mencampur prinsip-prinsip ajaran Abraham dengan paham lain yang dibuat oleh bangsa yang non-Israel (gentile). Karena tuduhan yang demikian itulah Yesus menjawab bahwa dirinya adalah hamba Allah, yang diajarkan Firman Allah (Alkitab) dan juga Yesus menyatakan dirinya adalah nabi Bani Israel, mulut Tuhan. Jawaban Yesus "si anak orok" itu relevan dengan pertanyaan tua-tua Israel itu. 

Kedua, Tua-tua Israel yang ahli Taurat itu dengan sinis melihat Yesus sebagai anak yang masih dalam gendongan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa para tua-tua Israel yang terdiri dari imam-imam dan ahli Taurat menganggap orang muda yang bersikap menggurui dalam masalah agama dan Kitab Suci sebagai "anak kecil" yang sok tahu tentang agama. 

Para imam-imam itu menganggap, merekalah yang paling tahu soal agama, sehingga orang muda mereka anggap "orok" atau anak yang masih dalam buaian. Sesungguhnya, Yesus tatkala datang kembali kepada kaumnya adalah Yesus yang sudah dewasa. Yesus dididik dan dibesarkan dalam komunitas Zelot atau Nazarean dan Esenes di padang gurun dan pegunungan yang menjadi sarang dan markas gerakan politik bersenjata Bangsa Israel. Dari jawaban Yesus, hal ini tidak dapat dibantah. Jika tidak demikian, dari manakah Yesus dapat menjadi "hamba Allah" mendapat Alkitab (Injil) dan mendapat Firman Allah yang menyebabkan dia mengaku sebagai mulut Allah, nabi Israel? 


Ketiga, Pernyataan Yesus itu membuktikan seterang-terangnya bahwa para imam-imam itu bukan sedang berhadapan dengan "orok", atau bayi yang masih dalam buaian, tapi dengan seorang Nabi yang menguasai Taurat dan Injil. Masuk akalkah Tuhan mewajibkan bayi untuk melakukan sembahyang (shalat), membayar zakat perpuluhan? Jika demikian, benarlah bahwa kisah melahirkannya Maryam bukan kisah melahirkan bayi, tetapi melahirkan dalam artian membina seorang pemimpin yang akan menjadi Mesias atau Raja Bangsa Israel. 

Bahasa kitabiah menggambarkan kelahiran seorang pemimpin itu seperti seorang perempuan yang melahirkan. Adalah suatu hal yang biasa dalam bahasa, kata lahir digunakan untuk berbagai pengertian, misalnya; lahirnya suatu bangsa, lahirnya seorang pemimpin, lahirnya suatu partai, lahirnya seorang raja yang adil, lahirnya seorang nabi dan sebagainya. 

Keempat, Yesus menyatakan di depan ahli-ahli Taurat bahwa ia akan diberkati pada waktu ia dilahirkan. pada waktu ia wafat (mati), dan pada waktu ia dibangkitkan hidup kembali. Pernyataan Yesus ini dapat menimbulkan berbagai tafsir atau interpretasi. Orang agama biasa mengartikan ayat ini sebagai perjalanan hidup manusia, yaitu; lahir (hidup), mati atau meninggal dunia dan hidup kembali bangkit dari kubur di hari kiamat nanti. Seorang Paulus dapat mengartikan ayat ini bahwa Yesus lahir secara biologis, mati setelah disalib dan hidup kembali setelah kematian di tiang salib. Namun jika dilihat dari perjalanan hidup seorang pejuang kemerdekaan Bangsa Israel dalam dimensi sejarah, akan memberi makna dalam dimensi yang lain. 


Yesus lahir; maknanya adalah lahir sebagai manusia yang berkepribadan Ruhul Qudus, yaitu Firman yang menjadi manusia. Yesus pernah menyatakan: 'Aku berkata kepadamu; sesunguhnya jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia dapat melihat Kerajaan Allah". Kata Nikodemus kepadava: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan kembali kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?" Jawab Yesus: 'Aku berkata kepadamu; sesungguhnya jika seorang tidak diiahirkan dari air (mani) dan roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging dan apa yang dilahirkan dari roh adalah roh. Janganlah engkau heran, karena aku berkata kepadamu, kamu harus dilahirkan kembali. (Yoh. 3: 3-7) 

Yesus mati; bukan dalam arti fisik mati di tiang salib. Orang mengira Yesus sudah mati sesungguhnya ia belum mati. Ia diselamatkan oleh Tuhan dari kematian biologis di tiang salib. Setelah berhasil meloloskan diri dan menjumpai murid-muridnya, ia pergi ke suatu tempat pengungsian tanpa ada seorangpun dari muridnya yang mengetahui. 

Kepergian Yesus menimbulkan kesan, baik bagi murid-muridnya maupun khalayak umum, bahwa ia sudah mati. Karena ada cerita bahwa Yesus naik ke sorga (Luk. 24: 51), menganggap bahwa Yesus yang sudah mati itu bangkit dan hidup kembali kemudian naik ke sorga. 


Gerakan mesias Yesus setelah peristiwa penyaliban, dimaknai mati untuk sementara dan akan bangkit kembali pada waktu ‘Anak Manusia’ datang secara tiba-tiba dengan tentara-tentaranya merebut kota Yerusalem. Itulah visi dan misi perjuangan Sang Mesias. 

Akhirnya Kerajaan Allah tegak kembali dan gunung Sion berada di atas segala bukit. Itulah Isa putera Maryam yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantah tentang kebenarannya. 

Ruhul Qudus menyatakan: ''Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang berperang dijalan Allah itu mati. Tidak, sesungguhnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya'': (Al-Baqarah: 154)

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama