Respons Al-Qur’an Terhadap Tabiat Ahli Kitab

Sumber Gambar: umarabdull.wordpress

Para imam-imam Yahudi semenjak dari "Samiri" di zaman Musa hingga para imam di zaman Rehabeam dan Yerobeam, yang terus eksis sampai zaman Kayafas mempunyai pandangan teologis yang berbeda dengan pandangan nabi-nabi Israel. 

Bagi imam-imam Yahudi, agama adalah urusan spiritual, urusan keyakinan, urusan bagaimana menghapus dosa warisan Adam agar manusia dapat kembali ke sorga Eden. 

Agama identik dengan tata ritual berupa persembahan kepada Tuhan dan hidup dengan penuh cinta kasih kepada sesama manusia. Prinsip-prinsip seperti "Cintailah Tuhanmu dengan sepenuh akal budi dan mencintai orang lain seperti mencintai dirimu sendiri" adalah prinsip dasar dari agama. Dan juga prinsip; orang beriman harus memandang orang yang menindas mereka sebagai "Tangan Tuhan' untuk mencuci dan menebus dosa. 

Oleh sebab itu, mereka harus patuh kepada raja-raja dunia secara tulus, setulus kepatuhannya kepada Tuhan. Stefanus dalam pembelaannya mengungkap sejarah Bangsa Israel sebagai "ummat" Tuhan, dengan tujuan agar para imam-imam itu sadar bahwa ajaran agama yang seperti itu tidak sesuai dengan prinsip-prinsip hidup nenek moyang mereka. 


Stefanus mengungkap kembali bagaimana nenek moyang mereka dahulu dihukum selama "empat puluh tahun" hanya karena mereka tidak sanggup melaksanakan perintah Tuhan yang disampaikan oleh Musa untuk berperang merebut Tanah Perjanjian. (Tentang Stefanus dapat anda lihat di IG: teodisicom) 

Jika Bangsa Israel tidak mau menjadi "Tangan Allah" untuk memberantas bangsa-bangsa musyrik penyembah berhala, Allah tidak akan memberi perlindungan kepada Israel, dan mereka akan dikutuk menjadi bangsa budak dari kekuasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. 

Stefanus juga mengingatkan akan janji Tuhan, melalui mulut Musa bahwa seorang nabi akan dibangkitkan dari antara saudara-saudara yang seperti Musa dan perkataannya harus didengar oleh Bangsa Israel. 

Para ahli Taurat membutakan matanya terhadap kitab Taurat yang begitu jelas tentang hukum Taurat, tetapi para ahli Taurat telah merubah interpretasi ajaran dan hukum Taurat menjadi doktrin teologis yang non-historis. 


Ucapan Yesus yang menyatakan dirinya sebagai Mesias, Raja Israel yang telah diurapi oleh Nabi Yohanes pembaptis, dianggap sebagai hujatan terhadap Nabi Musa dan YHWH

Demi keamanan Bangsa Israel dari amarah Kaisar, Kayafas berkata; 

‘’Kamu tidak tahu apa-apa dan kamu tidak insyaf, bahwa lebih berguna bagimu jika satu orang mati daripada seluruh bangsa kita binasa’’ 

Apa yang diungkapkan oleh Stefanus  membuktikan, bahwa apa yang diajarkan oleh Yesus adalah sesuai dengan Kitab Taurat yang ada di tangan imam-imam itu. Kehadiran Yesus tidak lain adalah untuk menggenapi apa yang dinubuahkan nabi-nabi Israel, dari mulai Musa sampai dengan Yohanes Pembaptis. Sebagai nabi yang akan menebus dosa Israel dari kondisi “kutuk” kepada “berkat”, dari kondisi tertindas kepada Israel yang merdeka. 


Yesus diutus oleh Tuhan, untuk memulihkan Kerajaan Allah warisan Raja Daud. Untuk itu Yesus mengajak Israel untuk "bertobat". 

Tobat artinya merubah sikap dan perilakunya sesuai dengan tuntunan hukum Taurat. 

Israel yang sakit dan mati itu harus siap sedia untuk disembuhkan dan dihidupkan dari dunia orang mati. Mereka harus mengakui Yesus sebagai Mesias, Raja Israel. Tetapi pembelaan Stefanus tidak didengar oleh ahli Taurat, bahkan Stefanus dihukum mati. 

Karakter Ahli Kitab seperti inilah yang dikecam oleh Al-Qur’an, Firman Allah; 

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? (Al-Baqarah 87) 

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan (Al-Baqarah 79) 

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (Al-Baqarah 146) 

Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata : "Kami mendengar", tetapi kami tidak mau menurutinya. (An- Nisa 46) 

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. (Al- Baqarah 109) 

Katakanlah: "Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar." (Al- Jumu’ah 6) 


Banyaknya ayat Al-Qur’an yang diarahkan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, terutama para pakar Kitab Taurat dan Injil menunjukkan bahwa mereka sesungguhnya paham, bahwa apa yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad sama dengan ajaran kitab mereka, yaitu pola hidup yang berdasarkan kepatuhan terhadap hukum Tuhan. 

Penolakan mereka kepada ajakan Nabi Muhammad untuk kembali kepada Millah (ajaran) Abraham yang hanif hanya karena "gengsi" dan merasa merekalah bangsa pilihan Allah untuk selama-lamanya. 

Karena keangkuhan dan rasa superioritas kebangsaan itulah yang menyebabkan orang pada umumnya dan Yahudi pada khususnya, menolak seruan Nabi Muhammad. 

Rasa superioritas adalah "berhala" yang paling besar yang menghalangi manusia menjadi mu’min yang hakiki. 

Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah). (Al-An’am 20) 

Nabi Muhammad datang bukan untuk membawa agama atau sistem hidup dan kehidupan yang asing bagi mereka. Prinsip tauhid, yaitu tidak ada pengabdian selain kepada Tuhan Yang Esa, yaitu Allahnya Abraham, Musa dan Yesus adalah prinsip utama bagi Muhammad.

Demikian pula syariat atau hukum yang akan ditegakkan oleh Muhammad adalah hukum Tuhan, dan juga tentunya hukum nabi-nabi Israel (QS. Al-Hajj (22): 78, Al-Syura (42): 13). Dan Muhammad adalah orang yang dinubuahkan oleh Yesus (penggarap kebun anggur dan Sang Penghibur). Bukankah Bani Israel pada saat kehadiran Muhammad sedang dalam keadaan terkutuk yang kedua kalinya? 

Dua ratus tahun terakhir, orang Kristen yang melit (ingin tahu; curious; inquisitive) yang mau berpikir, mulai berani untuk melakukan koreksi terhadap doktrin Alkitab. Hal itu dianggap sebagai "anti-kris" oleh gereja.

Ada dua doktrin yang menjadi fokus ketidakyakinan para pakar pencerahan, yaitu Yesus sebagai Tuhan atau "Anak Tuhan", dan yang kedua doktrin kematian Yesus sebagai penebus dosa manusia. 

Sayangnya, pakar Kristen yang melit masih alergi untuk membaca Al-Qur'an sebagai informasi yang meluruskan kedua doktrin tersebut. Apa yang membuat mereka tidak puas itu sesungguhnya sudah dilakukan oleh Muhammad 1.400 tahun yang lalu. Orang-orang kristen yang melit seharusnya tidak terpenjara oleh sifat diskriminasi etnis mereka. 

Al-Qur’an bukan ajaran atau Kitab Suci bangsa Arab yang dianggap oleh etnis Yahudi sebagai keturunan budak Sarah. Bukankah Tuhan sendiri menyatakan bahwa Ismael adalah anak yang sah bagi Ibrahim? Bukankah keturunan Ismael, yaitu Kedar dan Nebayot, selama kepemimpinan (imam) masih dipercayakan kepada keturunan Ishak, Yakub, mereka selalu mendukungnya? 

Keturunan Israel harus insyaf, bahwa tidak ada jaminan dari Tuhan, untuk menjadikan Israel sebagai umat kesayangan Allah. Bukankah selama 2.000 tahun, sejarah telah membuktikan berkat dan kutuk telah menimpa Israel?

Dosa yang paling besar menurut Taurat, Injil Yesus dan Al-Qur’an adalah ketika orang telah menjadikan manusia sebagai "Tuhan", sehingga ada Tuhan lain dihadapan Tuhan semesta alam, atau mencintai Tuhan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. 

Al-Qur’an memang menyanggah bahwa Yesus mati karena peristiwa penyaliban. Allah mempunyai Kuasa untuk menolong Utusan-Nya yang ditugaskan melaksanakan kehendak-Nya, yaitu memulihkan Yerusalem sebagai lambang Kerajaan-Nya di muka bumi. 

Jika Yesus "mati", tidakkah itu berarti Allah gagal mewujudkan kehendak-Nya untuk memberi berkat yang kedua kali kepada Israel? 

Percayalah, bahwa Tuhan sendirilah yang akan membuktikan kedustaan doktrin para Ahli Kitab melalui pembuktian historis yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nva yang cerdas, melit dan cinta akan kebenaran. 

Hukum yang berlaku dalam kehidupan ini adalah hukum Tuhan Yang Maha Adil; 

Katakanlah; 'Telah datang yang haq (benar), dan lenyaplah yang bathil (dusta). Sesungghnya yang bathil itu pasti lenyap (Al-Isra 81) 

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama