Kerajaan Allah, Hukum dan Dosa

Sumber Gambar: gbisukawarna.org

Apa yang disebut "Taman Eden" sesungguhnya adalah Kerajaan Allah di muka bumi ini. Kata Eden bermakna "dunia" atau "bumi". Semua Kitab Allah menyatakan bahwa "Taman Eden" atau dalam bahasa (Arab; Jannati' and) adalah Kerajaan Allah di bumi.; Selanjutnya Tuhan Allah membuat "Taman di Eden di sebelah Timur, disitulah ditempatkannya manusia yang dibentuk-Nya itu"(Kejadian 2:8). Demikian pula Yesus yang menyatakan bahwa Kerajaan Allah itu berada di bumi. Ucapannya bahwa Kerajaannya bukan dari dunia ini tidak berarti bahwa Kerajaannya adalah Kerajaan Tuhan di langit. Dalam pelajaran doanya, Yesus menyatakan demikian; 

Bapa kami yang di sorga, 
dikuduskanlah nama-Mu, 
datangkanlah Kerajaan-Mu, 
Jadilah kehendak-Mu, 
di bumi seperti di sorga. 

Pernyataan Yesus; "Kerajaanku bukan dari dunia ini", maksudnya adalah bahwa dia menjadi raja atau mesias tidak diangkat oleh manusia, tetapi Allah-lah yang mengurapi dia sebagai raja. Oleh sebab itu, tatkala dia meninggalkan murid-muridnya, dia melakukan hijrah secara rahasia dan menyusun kekuatan tentara di luar tanah Yudea. Dan setelah masa pembinasaan keji mereda, dia akan kembali lagi dengan membawa Tentara Allah (tentara langit) untuk menguasai Tanah Perjanjian. 

Anak manusia itu datang di atas awan-awan di langit (maksudnya dari atas pegunungan) dengan segala kekuasaan dan kemuliaannya. Dan itu akan terjadi sebelum angkatan yang hadir di situ berlalu atau meninggal. Kerajaan Allah adalah kekuasaan politik di mana hukum Allah itu dapat ditegakkan. Apabila Kerajaan Allah tegak, Yesus akan menjadi Raja dan dia akan menghakimi bangsa-bangsa di hadapannya. 


Dia akan memisahkan seorang demi seorang seperti memisahkan domba dan kambing. Domba di sebelah kanan dan kambing di sebelah kiri. Semua itu adalah upah dari mengikuti Yesus dalam gerakan mesianiknya. 

Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus; ‘'Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti engkau, jadi apakah yang akan kami peroleh?" Kata Yesus kepada mereka; 'Sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila ''Anak Manusia" bersemayam di tahta kemuliaanya) kamu yang telah mengikuti aku akan duduk juga di atas dua belas tahta untuk menghakimi kedua belas suku Israel". (Mat. 19: 27) 

Siapakah yang akan diadili? Yang akan diadili setelah Anak Manusia duduk di atas tahta kekuasaannya bersama kedua belas muridnya adalah Bani Israel. Domba adalah gambaran dari orang-orang yang turut berjuang dengan harta dan dirinya terhadap gerakan kemerdekaan Israel, sedangkan kambing adalah mereka yang melakukan permusuhan atau perlawanan terhadap perjuangan tersebut. 


Orang-orang yang berdosa adalah mereka yang menghalangi dan melakukan perlawanan terhadap gerakan mesianik. Gerakan mesianik Yesus adalah orang-orang yang berjuang untuk menegakkan hukum Allah, yaitu hukum Taurat. Melawan gerakan itu berarti melawan hukum Taurat. 

Akibat dosa adalah maut. Artinya, setiap orang yang menentang berlakunya hukum Taurat atau melanggar hukum Taurat akan ditempatkan di "dunia orang mati", yaitu menjadi orang yang tertindas di dalam Kerajaan Allah. Ketika Adam yang adalah Raja atau Pemimpin di dalam Kerajaan Eden melanggar hukum Allah, ia menjadi orang berdosa dan jatuh ke dunia orang mati", yaitu menjadi budak dari "Kerajaan Iblis", yakni kekuasaan atau kerajaan bangsa-bangsa kafir. 

Hamba-hamba Allah generasi Adam akan terus berada di neraka (kata lain dari tertindas) sampai jangka waktu tertentu sesuai dengan ketetapan waktu (sa’ah) yang telah ditetapkan Allah sebelumnya. Ketika zaman bangsa-bangsa yang menindas anak-anak ruh Adam sampai pada batas ajalnya, Tuhan Semesta Alam akan kembali mengutus Nabi atau Rasul-Nya untuk menegakkan Kerajaan Allah di muka bumi. 


Nabi atau Rasul yang diutus setelah generasi Adam adalah Noah. Nabi Nuh atau Noah adalah raja atau pemimpin gerakan mesianik pada zamannya. Tugasnya adalah sama, yaitu mengajak ummat manusia bertobat, meninggalkan pengabdian terhadap allah yang bukan Allah, Tuhan semesta alam. Kerajaan Allah yang dibangun oleh Noah itu dikisahkan dalam bahasa "perumpamaan", sebagai "kapal" atau fulk

Banjir adalah amtsal dari azab Tuhan yang menimpa ummat manusia. Ketika azab Tuhan datang secara tiba-tiba, semua manusia yang berada di luar kapal atau Kerajaan Allah dikarenakan dosanya, akan jatuh ke dunia orang mati. Upah dosa adalah maut. 

Umur umat Nabi Nuh tercatat selama 950 tahun. Umur ini bukan umur biologis, tetapi umur umat atau umur kekuasaan kerajaan. Setelah umat Nabi Nuh kembali berbuat dosa, mereka menjadi umat yang maut atau mati kembali. Demikianlah hukum pergiliran kekuasaan berlangsung secara terus menerus seperti kaum 'Aad, kaum Tsamud dan yang lainnya. 

Baca Juga: Hukum Pergiliran

Abraham merupakan sisa dari kaum Nabi Nuh. Dalam bahasa kitabiah dikatakan; "orang yang diangkut dalam kapal Nuh". Jadi, sesungguhnva kisah banjir besar yang menelan bumi dan memusnahkan segala binatang yang hidup di bumi yang berada di luar kapal Nabi Nuh adalah pemahaman orang musyrik yang diharamkan untuk memahami "Bahasa Sorga". 

Karena Yesus diberikan ilmu Hikmat untuk mengerti bahasa Tuhan semesta alam inilah dia merasa bersyukur dan bahagia, katanya: 

Pada waktu itu bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata; 'Aku bersyukur kepada-Mu Bapa, Tuhan langit dan bumi karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa, dan tidak seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa dan siapakah Bapa selain Anak, dan orang yang kepadanya anak itu berkenan menyatakan hal itu. "Sesudah itu berpulanglah Yesus kepada murid-muridnya tersendiri dan berkata; 'Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat, karena aku berkata kepadamu; banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar; tapi tidak mendengarnya. (Luk. 10: 21 -24) 

Setiap Rasul atau Mesias pada zamannya adalah orang yang diberi kuasa oleh Tuhan langit dan bumi untuk menjadi saksi (syahid) Allah di dalam manusia mengabdi kepada-Nya. Tidaklah diterima pengabdian dan permohonan ampun seorang hamba Allah jika tidak melalui Rasul zaman itu. Ketika Abraham menjadi Nabi pemimpin ummat Allah untuk memohon berkat dan pengampunan, dialah orang yang menjadi jalan kepada Allah. 


Ketika Musa menjadi Rasul Allah, tiada orang yang diterima kedatangannya jika tidak melalui Musa. Ketika Daud menjadi Nabi (Raja), tidak akan diterima dan berkenan di hadapan Tuhan langit dan bumi jika tidak melalui Daud, karena Daud adalah Rasul pada zamannya. Dan demikian pulalah kedudukan Yesus di mata Tuhan, Yesus berkata: 

Akulab jalan kebenaran dan hidup, tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui aku. (Yoh. 14: 6) 
Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. (Yoh. 1 7: 3) 

Hukum Taurat adalah hukum (Arab; din) yang menjadi fitrahnya manusia. Tak seorangpun yang berhak menghapus hukum Taurat. Hukum Taurat adalah hukum ciptaan Tuhan, sifatnya kekal sekekal Penciptanya sendiri. Dalam masalah ini, Yesus bersabda: 

'Janganlah kamu meyangka bahwa aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena aku berkata kepadamu; 'sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari' hukum Taurat sebelum semuaya terjadi, karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat, sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga. Tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. (Mat. 5: 17-19) 

Hukum Taurat identik dengan kekuasaan, karena tanpa kekuasaan politik, hukum Taurat tidak dapat ditegakkan. Hukum Taurat tidak pernah hilang atau lenyap; yang dapat lenyap atau hilang adalah "kekuasaan politik" atau Kerajaan Allah yang bumiah. Oleh sebab itu, semua Nabi dan Rasul Tuhan, visinya adalah Kerajaan Allah. Jika orang yang beriman tidak memiliki Kerajaan Allah, mereka tidak dapat mengabdi kepada Tuhan. Jadi yang disebut ibadah kepada Tuhan, sesungguhnya adalah perjuangan menegakkan Kerajaan Allah dan mempertahankannya. 

Jika Kerajaan Allah itu hancur, orang beriman akan hidup dalam "Kutuk" tertindas dan dijajah oleh Kerajaan Iblis. Dalam kondisi yang demikian, orang-orang yang masih konsis dengan imannya lebih suka hidup eksklusif menjadi ashabul kahfi. Kaum Eseni, Zelot dan Nazarean lebih memilih menjadi ashabul kahfi, hidup dalam komunitas yang tertutup di lembah Qumram serta di gurun-gurun tanah Yudea. 

Sedangkan orang-orang yang lebih mementingkan kehidupan duniawi menjual imannya kepada kaisar. Prinsip iman yang seperti inilah yang memisahkan kaum Eseni, Zelot dan Nazarean dengan golongan Farisi dan Saduki. 

Yesus sendiri sebelum memulai dakwahnya termasuk salah seorang warga Nazarean atau Eseni, dan dia dibesarkan dalam kelompok ini. 

Dari uraian ini kita dapat melihat kaitan antara Kerajaan Allah, Hukum Tu(h)an dan Dosa


Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama