Al-Qur'an dan Ruhul Qudus



Kata Al-Qur'an bermakna "bacaan" yang bersifat khusus, yaitu "kumpulan Firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad". Firman Allah disebut juga dengan Ruh; 

Dan demikianlah Kami wahyukan (ajarkan) kepadamu atas perintah Kami. sebelumnya kamu tidak mengetahui (tidak memahami) apakah Al-Kitab itu dan tidak pula memahami apakah iman itu, kemudian Kami menjadikan Al-Kitab (Al-Quran) itu cahaya (ilmu) yang dengan cahaya itu Kami tunjuki (kebenaran) kepada siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan dengan demikian kami benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang benar. (Asy-Syura (42): 52)

Jadi, Al-Quran adalah Firman Tuhan yang di dalamnya mengandung Ruh (Asy-Syu'ara' (26): 193). Ruh berasal dari Tuhan karena itu disebut "Ruhul Qudus". 

Paham agamis menyatakan bahwa "Ruhul Qudus" adalah malaikat Jibril. Malaikat Jibril sesungguhnya hanyalah penamaan dari Ruhul Qudus, dia bukan makhluk pribadi sebagaimana yang dibayangkan orang. Jika demikian, apa bedanya antara Al-Quran dan Ruhul Qudus? Bedanya adalah, Al-Qur'an itu bacaan yang di dalamnya mengandung Ruhul Qudus: 

Katakanlah: "Rub suci' telah menurunkan itu (Al-Quran) dari Tuhanmu dengan kebenaran, untuk meneguhkan orang-orang yang beriman dan sebagai pimpinan dan kabar gembira bagi orang-orang yang tunduk patuh" (An-Nahl (16) : 102)


Al-Qur'an baru berdimensi Ruhul Qudus manakala dimengerti arti dan maknanya. Jadi, orang yang hafal Al-Qur'an belum tentu bernilai Ruhul Qudus. Kata "ruh" mengandung arti; "yang membuat sesuatu menjadi hidup". Manusia, menurut penilaian Tuhan, baru dikatakan "hidup" manakala di dalam kesadaran kalbunya dikuasai oleh Ruhul Qudus: 

Dan ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat: 'sesunguhnya Aku menciptakan manusia dari tanah liat yang kering dan Iumpur hitam yang dibentuk. Maka setelah Aku 'tiupkan" ke dalamnya sebagian dari Ruh-Ku, rebahkanlab diri mu dengan bersujud. (Al- Hijr (15): 28-29) 

Kata "tiupkan" di sini sama dengan "ajarkan ilmu", sebagaimana dinyatakan dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 31; Ilmu Tuhan adalah "Ruh" bagi manusia. Manusia yang tidak memahami ilmu Tuhan tidak akan dapat mengetahui jalan kebenaran. 

Isi Al-Quran disebut Ruhul Qudus atau Ruh Suci karena berasal dari Tuhan, bukan dari "hawa nafs" manusia. Ruh Qudus disebut juga "Ruh Al-Amin" atau Ruh yang terpercaya, yaitu Ruh Kebenaran. 

Ruhul Qudus atau Ruh Kebenaran inilah yang membuat orang "mati" menjadi "hidup". Sepandai apapun manusia belum dinyatakan "hidup" manakala di dalam kesadaran kalbunya belum didominasi oleh Ruhul Qudus. 


Itulah sebabnya semua Kitab Allah menyatakan manusia harus "lahir" dua kali. Lahir sebagai makhluk biologis dan lahir sebagai makhluk Ruhul Qudus, yaitu Firman yang menjadi manusia (QS. Al-An'am (6): 122), (Yoh. 3: 3). 

Orang yang beriman adalah orang yang pikiran dan perasaannya didominasi oleh Ruhul Qudus, sedangkan orang yang tidak beriman kepada Firman Allah adalah orang yang dikuasai oleh ruh setan, yaitu ajaran yang bukan Firman Allah, dan hawa nafsunya sendiri. (Al-Furqan (25): 43). 

Kitab-kitab Allah menyebut orang-orang yang tidak beriman kepada Firman Allah sebagai orang yang hidup di dunia orang mati. Ketika atas izin Allah seseorang beriman kepada Firman Allah, ia dikatakan sebagai orang bangkit dari dunia orang mati: 

Dan apakah orang yang "sudah mati" kemudian dia' Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya (ilmu) yang terang yang dengan cahaya (ilmu) itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah dijadikan orang-yang kafir itu memandang baik apa yang mereka kerjakan. (Al-An'am (6): 122). 

Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar (mengerti) dan tidak juga menjadikan orang tersebut mendengar panggilan (dakwah), apabila mereka telah berpaling dari kamu. (An-Naml (27): 80) 


Nabi Muhammad, seperti halnya nabi-nabi sebelumnya, hidup di dunia orang mati. Muhammad menjadi orang hidup di hadapan Allah tatkala Dia menurunkan Ruhul Qudus ke dalam dirinya. 
(Asy-Syu’ara'(26): 192-194 dan (Fushshilat (41): 30) 

Semenjak Muhammad diangkat sebagai nabi, maka segenap ucapannya bukan lagi berasal dari pikiran pribadinya, tetapi apa yang diucapkannya adalah suara Tuhan, yaitu yang disebut dengan "wahyu" (An-Najm (53): 3)

Dari rumusan ini, kita dapat mengerti bahwa setiap nabi khususnya, dan orang yang beriman pada umumnya, hanyalah "mediator" bagi Tuhan, di dalam Ia berbicara kepada manusia. Alkitab menyatakan bahwa semua nabi adalah mulut Tuhan, (Ul. 18: 18)

Karena semua Nabi dan Rasul Allah merupakan mulut Tuhan Yang Maha Esa, maka ajaran semua Nabi dan Rasul Allah adalah sama, yaitu ajaran Tuhan Yang Maha Esa, Allah semesta alam. 


Perbedaannya hanyalah dalam masalah bahasa, ketika Allah akan berbicara kepada Bangsa Israel, Allah menggunakan bahasa Ibrani atau bahasa yang digunakan oleh anak cucu Yakub, dan tatkala Allah akan mengajarkan ajaran-Nya kepada Bangsa Arab keturunan Ismael, Allah menggunakan bahasa Arab (Ibrahim (14): 4) 

Adapun isi, baik visi maupun misinya, adalah sama, yaitu sistem ketaatan atau kepatuhan manusia kepada Tuhan, Allah semesta alam, (Asy-Syura (42): 13) 

Kitab-kitab yang diajarkan Tuhan, menjadi ukuran kebenaran bagi orang beriman, sedangkan agama atau ajaran kehidupan yang tidak sesuai dengan kitab-kitab Allah, maka agama atau ajaran itu bukan berasal dari Tuhan, dan dipandang sebagai agama berhala (An-Nisa (4): 60) dan (Ul. 17: 2-5) 

Firman adalah perkataan Allah yang diajarkan atau diwahyukan kepada para nabi. Firman Allah, jika dipahami dan diimani, di dalamnya mengandung Ruh atau kekuatan yang membuat kalbu manusia yang "mati" menjadi "hidup". 

Jadi, Ruh Qudus tidak bisa dipisahkan dengan Firman. Orang tidak mungkin mendapat Ruh Qudus jika ia tidak mengerti Firman yang diucapkan atau dikatakan oleh para nabi atau utusan Tuhan. Ruh Qudus bukan sesuatu yang berada diluar Firman. 

Jika seorang nabi atau utusan Tuhan meninggal, maka jasadnya kembali kepada tanah, tetapi Ruh yang adalah Firman Tuhan itu akan kembali kepada Tuhan. 

Firman Tuhan yang disampaikan melalui medium Yesus itu diajarkan kepada murid-muridnya, sehingga murid-muridnya pun memiliki Ruh Qudus seperti apa yang dimiliki oleh Yesus. Jadi, tanpa memahami Firman Tuhan yang diajarkan oleh para Nabi dan Rasul termasuk Yesus, tidak mungkin seseorang memiliki Ruhul Qudus.

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama