Surga Itu Adanya di Dunia?


Sumber Gambar: islampos.com

Keluarga bisa menjadi hiasan terindah yang anda miliki, namun jika salah jalan, maka mereka dapat berbalik menjadi petaka dan batu sandung dalam hidup Anda. Hiasan terindah yang Allah beri untuk manusia bukanlah hal materiil, namun Ruhul Qudus yang menjadi hiasan qalbu setiap manusia beriman. Untuk itu bekali dan hiasilah keluarga Anda dengan Ruhul Qudus, sehingga keluarga Anda menjadi hiasan terindah dari Sang Pencipta.

Perumpamaan Jannah yang dijelaskan kepada orang-orang yang bertakwa di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka. Samakah dengan orang yang kekal dalam jahanam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya [QS. Muhammad (47): 15] 

Sahabatku...

Saat mendengar kata "surga" disebutkan, maka umumnya akan muncul dua perumpamaan spiritual dalam pikiran seseorang, yaitu : pertama, soal cerita Adam dan Hawa yang diciptakan dan menetap di dalam surga. Suatu tempat yang ghaib, yang berada di atas langit sana dan sulit di jelaskan. Karena ulah si Iblis (ular) yang menggoda Adam dan Hawa, sehingga mereka terusir dari surga dan diturunkan ke bumi. Jika bukan karena dosa Nabi Adam, maka kita semua masih berada di dalam surga. Kedua, surga adalah tempat yang disediakan oleh Allah bagi orang-orang yang beriman. Suatu tempat yang sangat indah bagai istana yang dipenuhi dengan bidadari-bidadari yang berada jauh dari bumi. Ini adalah kehidupan yang disiapkan setelah alam semesta ini dihancurkan. Manusia akan masuk dalam alam akhirat yang hanya menyediakan dua tempat, surga dan neraka.


Sesungguhnya kedua pemahaman tersebut tidak berasal dari Kitab Al-Quran, tetapi berasal dari cerita-cerita Israeliyat dan cerita agama kuno seperti agama Pagan yang menyembah dewa-dewi dan unsur-unsur alam, seperti matahari, bulan, bintang dan yang lainnya. Termasuk istilah surga dalam Bahasa Indonesia, yang terpengaruh atau diadaptasi dari paham swargaloka dalam agama Hindu, yang dipahami sebagai Negeri para dewa dewi di langit sana. Entah Siapa yang mulai menerjemahkan kata "jannah" dalam Alquran dengan "surga". Yang pasti, tanpa disadari cerita tentang surga neraka dan tentang Nabi Adam Telah meresap dalam pemahaman generasi umat Islam di dunia saat ini.

Pada renungan kali ini, kita akan Mengkritisi kedua hal tersebut, yakni soal Nabi Adam dan surga. Namun kali ini akan lebih fokus pada perumpamaan kita tentang surga terlebih dahulu. Apakah betul surga yang ditempati oleh Nabi Adam dan pasangannya itu adanya di langit atau di tempat yang ghaib? Betulkah surga yang dimaksud dalam Al-Quran itu adalah suatu tempat yang belum ada wujudnya, karena akan ditempati nanti di alam akhir? Apakah sesungguhnya yang dimaksud dengan istilah "jannah" dalam Al-Quran? Mari kita renungi bersama. 

Renungan ini murni akan melihat dari perspektif wahyu Al-Quran semata, sehingga rujukan yang dipakai hanya dari ayat-ayat Al-Quran Bukan dari yang lainnya. Jika membaca dan berusaha memahami ayat-ayat yang mengisahkan tentang Nabi Adam dan pasangannya, maka semua bercerita tentang Adam dewasa yang dipersiapkan oleh-Nya untuk menjadi seorang Khalifah (penguasa) di dunia, bukan penguasa di langit (swargaloka). Kisah Nabi Adam di surga yang Nirwana adalah cerita non-wahyu. Terlebih jika memasukkan figur Iblis (yang dalam Alkitab digambarkan sebagai ular) yang menggoda Adam dan Hawa (Eva). Ini adalah cerita israeliyat yang ada dalam kitab Perjanjian Lama Yang masih diperdebatkan keabsahannya. Renungan tentang kisah Adam dan Iblis akan kita bicarakan pada renungan berikutnya. 


Surga (Jannah) yang dimasukkan dalam Al-Quran bukanlah surga di langit seperti dipahami oleh agama Hindu atau Pagan. Tetapi Jannah yang menjadi tempat Nabi Adam dan pasangannya (umat)-nya berdiam adalah bumi itu sendiri. Mari kita cermati firman Allah dalam Surah Al-Baqarah (2) ayat 30 dan 35 berikut ini:

Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi di muka bumi mereka berkata. Mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal kami senantiasa Bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Tuhan berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.

Dan kami berfirman: Hai Adam, Diamilah oleh kamu dan pasanganmu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kau termasuk orang-orang yang zalim.

Sejak awal, Allah telah mempersiapkan dan memilih Adam untuk dijadikan sebagai Khalifah (penguasa), pengganti Dia dalam mengatur kehidupan ummat manusia di bumi, bukan di langit. Jika merujuk pada cerita dan doktrin tentang kisah Nabi Adam, maka ceritanya berada di suatu tempat yang entah di mana adanya. Surga yang berada di atas langit yang sulit ditemukan letaknya meski Anda menaiki pesawat ruang angkasa sekalipun. Bahkan keberadaan di bumi bukanlah atas kehendak dan rencana Dia. Jika saja Adam tidak tergoda untuk memakan 'buah larangan' maka Adam tidak akan mendiami bumi ini. Dengan kata lain, keberadaan manusia di bumi adalah ketidaksengajaan. Begitu pula, bumi pada dasarnya tidak disediakan untuk menjadi tempat tinggal manusia. Sesuatu yang mustahil bagi Allah yang Maha Mengetahui dan Maha berencana. Ini adalah sebuah pemahaman atau doktrin spiritual yang tidak sesuai dengan karakter Allah sebagai Sang Pencipta alam semesta. Jika surga yang dahulu ditempati oleh Adam dan Iblis itu ada, di mana letaknya pada alam semesta ini? tidak ada yang bisa menjelaskannya.


Jika merujuk ayat 30 di atas, sudah sangat jelas bahwa visi khalifah yang diemban oleh Nabi Adam as adalah menjadi Khalifah di bumi, tempat dimana manusia dapat berkembang biak dan menjalankan aktivitas hidup dan kehidupannya sebagai makhluk berakal dan makhluk sosial. Berbeda Jika manusia tinggal di surga imajinasi spiritual kaum agamis, tidak membutuhkan usaha dan akal pikir manusia karena segala sesuatu terbaru serba lux dan tersedia secara otomatis. Lalu bagaimana dengan firman-Nya yang menyatakan, bahwa jin dan manusia diciptakan oleh-Nya hanya untuk mengabdi (tunduk patuh) kepada (sistem hukum)-Nya.

Bumi adalah planet yang sengaja diciptakan oleh-Nya untuk menjadi tempat ummat manusia berdiam dan beraktivitas. Sehingga tempat berdiam yang disebut dengan "jannah" Pada ayat 35 di atas tentu saja adalah bumi itu sendiri, dimana kita berdiam saat ini. Bumi tempat di mana manusia dapat beribadah dan berusaha mencari makanan (fisik dan ruhani) yang halal untuknya dan menghindari makanan (fisik dan rohani) yang tidak halal (haram). Makanan fisik yang dilarang oleh Allah sudah sangat jelas. Sedangkan makanan ruhani yang dilarang oleh-Nya adalah ajaran-ajaran (ideologi) manusia atau bangsa yang najis dan menajiskan (musyrik). Ideologi musyrik inilah yang menjadi "pohon larangan" bagi adam dan generasi spiritualnya. Jika 'jannah' yang dimaksud Allah surga doktrinal, maka bagaimana mungkin ada setan yang leluasa berdiam di dalam surga dan kenapa Dia menciptakan "pohon larangan" di dalam surga yang seharusnya penuh dengan kedamaian dan kenikmatan? Bukankah surga itu hanya untuk makhluk-makhluk-Nya yang taat?

Makanan yang halal dan haram adanya di bumi. Ajaran tentang kebenaran dan kesesatan juga adanya dalam kehidupan umat manusia di bumi ini. Di bumi inilah tempat yang ideal dan alami bagi kehidupan fisik dan spiritual ummat manusia. Perhatikan firman Allah dalam Surah Al-A'raf (7) ayat 10 dibawah ini:

Sesungguhnya kami telah menetapkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.

Perhatikan pula surah Mu'minun (23) ayat 39:

Dan Dialah yang menciptakan serta mengembangbiakan kamu di bumi ini dan kepada-Nya-lah kamu akan dihimpunkan. 

Ayat lain yang dapat menjelaskan, bahwa keberadaan "jannah" itu adanya di dunia, bukan surga fantasi nan jauh di sana adalah surah Ali Imran (3) ayat 133:

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada jannah yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.

Ayat ini menegaskan bahwa alam semesta, langit, dan bumi, ini adalah jannah (taman surga), yakni bagian dari Kerajaan Allah yang disediakan bagi mereka yang taat kepada perintah-Nya. Allah adalah Penguasa yang alam semesta yang menjadi wilayah Kerajaan Dia. Ketika manusia yang beriman telah dianugerahi Khalifah (Kekuasaan; Kerajaan) oleh-Nya, maka tugas mereka adalah menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam semesta dan tentu saja alam manusia. Sehingga "jannah" dapat dipahami pula sebagai wilayah dari kekuasaan orang beriman. Mesir dan Palestina adalah jannah dari kekuasaan Bani Israil pada zaman Nabi Musa As. Jazirah Arabia (Madinah) adalah pusat dari Jannah yang dianugerahi kepada Rasulullah Muhammad dan para pengikutnya. Dalam bahasa lain, jannah dapat diartikan sebagai wilayah teritori kekuasaan Khalifah Allah di bumi.

Jannah dalam pengertian wilayah kekuasaan juga pernah ditujukan kepada Fir'aun dan kaumnya, seperti tertera dalam surah As Syu'ara (26) ayat 57 - 59:

Maka kami keluarkan Fir'aun dan kaumnya dari taman-taman dan mata air dan dari perbendaharaan dan kedudukan yang mulia, demikian halnya dan kami Anugerah semuanya itu kepada Bani Israil.

Tentu saja yang dimaksud 'jannatin' pada ayat diatas adalah taman-taman kekuasaan dari Firaun dan kaumnya, yakni wilayah Mesir dan sekitarnya, bukan taman surga di langit. 

Semakin jelas bahwa apa yang dimaksud dengan Jannah (Surga) itu bukanlah sesuatu yang bersifat rohani dan berada di atas langit, tetapi suatu wilayah dari kekuasaan politik (Khilafah) di mana sistem hukum (din) Allah diberlakukan bagi umat manusia. Jannah inilah yang dijanjikan oleh-Nya sebagai balasan atau ganjaran (bukan pahala) atas pengabdian dari orang-orang beriman dan beramal saleh. Tatkala Dia telah menganugerahkan Jannah atau Khilafah-Nya, maka orang-orang yang bertakwa akan berbondong-bondong masuk ke dalam Khilafah (Jannah) Allah itu. Di dalam Jannah Itulah mereka akan merasakan keadilan dan kedamaian serta memperoleh kesejahteraan hidup. Dan tentu saja 'Negeri Damai Sejahtera' itu adanya di dunia (bumi) ini. Gambaran tentang kondisi tersebut dapat dipahami dari Firman-Nya dalam surat Az-Zumar (39) ayat 73 -74 berikut ini :

''Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb dibawah ke dalam surga berombong-rombongan (pula) . Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagia lah kamu maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya. Dan mereka mengucapkan: Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenalkan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki; maka surga Itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal''

Filosofi Jannah 

Sahabatku...

Arti kata 'Jannah' secara bahasa adalah kebun atau Taman. Entah kenapa arti kata ini dalam bahasa Indonesia bergeser menjadi surga yang dipahami sama dengan swargaloka. Lalu kenapa Allah selalu menjanjikan orang-orang yang beriman untuk dimasukkan ke dalam Jannah (kebun; Taman) ? Kenapa Allah menggunakan kata 'Jannah' sebagai tempat tinggal orang-orang beriman? Mari kita renungi filosofi Jannah itu.

Secara faktual, tidak semua lahan di muka bumi ini dapat disebut taman atau kebun. Ada lahan semak belukar ada juga hutan belantara. Dari segi penataannya pun berbeda antara kebun yang tertata dan teratur dibanding dengan hutan belantara yang liar dan tidak tertata.

Dari sisi pengelolaannya, kebun adalah lahan yang dikelola dengan ilmu agar menghasilkan sesuatu yang berguna bagi pemilik kebun, pegawai kebun, masyarakat umum, dan makhluk alam lainnya. Berbeda dengan hutan belantara yang tidak dikelola khusus oleh seseorang atau sekelompok orang. Manfaatnya murni dari hal-hal yang bersifat alami semata. Wilayah dari kebun itu sendiri juga jelas, termasuk pemagarannya, dan sumber air untuk menyiram tanaman yang ada di kebun tersebut. Intinya, kebun selalu berisi tanaman tertentu yang tertata dan terjaga dengan baik, sehingga dapat berbuah atau hasil guna pada setiap musimnya, yang menjadi rahmat dan berkah bagi masyarakat dan alam sekitarnya.

Di dalam Al-kitab dan Al-Quran, Allah seringkali mengumpamakan manusia beriman seperti tanaman atau tumbuhan (pohon) yang baik, yakni pohon yang memiliki akar yang Menghujam ke bumi, batang pohon yang tinggi dan kuat, dan menghasilkan buah pada setiap musim berbuah atas izin Dia. Mari kita perhatikan beberapa firman Allah di bawah ini:

Al-Quran surat (71) ayat 17:

Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya

Al-Quran surah Al-Fath (48) ayat 29:

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka Tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang Mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang Saleh di antara mereka ampunan dan ganjaran yang besar.

Al-Quran Surah Ibrahim (14) ayat 24-25:

Tidakkah kamu perhatikan Bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

Sudah sangat jelas dan tegas bahwa para Rasul Allah dan orang-orang yang mengimaninya (kaum mukmin) diibaratkan seperti tanaman (pohon) yang baik, dan tempat pohon yang baik untuk ditanam adalah di dalam kebun yang tertata dan tersusun rapi. Itulah kebun yang dijaga dan dikelola dengan baik dan benar atas dasar ilmu. Jika tanah dari kebun itu adalah tanah yang subur, tanaman (pohon) yang ditanami di dalamnya adalah tanaman yang baik, memiliki sumber pengairan yang baik, dan dijaga oleh petani (pekebun) yang bertanggung jawab, maka akun itu pasti akan mendatangkan rahmat dan berkah bagi masyarakat dan alam sekitarnya.


Sahabatku...

Dalam kehidupan sosial politik manusia, jika dalam satu wilayah kekuasaan politik didiami oleh orang-orang yang Siap diatur dan tunduk patuh kepada aturan hukum Allah yang Fitrah dan adil, dan dipimpin oleh Khalifah dan para aparatnya yang taat dan takut (taqwa) kepada Din Allah, maka pasti akan melahirkan sebuah tatanan kehidupan masyarakat bangsa dan yang harmonis, adil, damai, dan sejahtera. Tatanan kehidupan manusia di dunia yang penuh dengan keharmonisan, keadilan, kedamaian dan kesejahteraan inilah yang disebut dengan kehidupan jannah, lawan dari kehidupan nar (neraka) yang penuh dengan kesemrawutan, kezaliman, permusuhan dan ketimpangan. Kehidupan (surgawi) (jannah) itulah yang dijanjikan oleh Allah bagi mereka yang beriman dan beramal saleh, dan itu semua adanya di dunia ini.

Kehidupan Jannah adalah kehidupan yang penuh keindahan dan kenikmatan bagi penghuninya. Agar manusia dapat memahami maksud dari kehidupan jannah itu, maka seringkali Allah menggambarkannya dalam bahasa alegoris, bahasa perumpamaan yang indah. Karena Dia menggunakan bahasa perumpamaan, maka maksud sesungguhnya bukan seperti apa yang tertulis. Namun bagi mereka yang cerdas, perumpamaan itu akan dapat menjadi jembatan untuk memahami maksud sesungguhnya. Kenikmatan surga yang Dia gambarkan, bukan semata bersifat ruhani akan tetap bersifat jasadi dalam kehidupan di muka bumi. Misalnya Dalam surat Ar-Ra'd (13) ayat 35 di bawah ini:

Perumpamaan jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa ialah (seperti taman); mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.

Demikian pula dalam surat Muhammad (47) ayat 15:

Perumpamaan jannah yang menjanjikan kepada orang-orang yang bertakwa; di dalamnya ada sungai sungai dari air yang tiada berubah rasa dan bau baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka. Samakah dengan orang yang kekal dalam jahanam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?

Jika semua gambaran kehidupan surgawi yang dijelaskan dalam Al-Quran dalam bahasa alegoris itu adalah gambaran kehidupan ideal umat manusia di bumi di muka bumi ini, lalu Bagaimana dengan balasan perbuatan manusia pada kehidupan berikutnya, kehidupan setelah mati? Apakah kehidupan itu ada atau tidak?


Tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang akan terjadi hari esok, apalagi bentuk kehidupan setelah manusia dikubur. Bahkan Nabi Muhammad sekalipun tidak tahu tentang apa yang akan menimpa dirinya di hari esok, terlebih lagi alam setelah mati. Silakan renungkan firman-Nya dalam surat Al-A'raf (7) ayat 188:

Katakanlah: Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, Tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman. 

Penulis yakin, bahwa potret kehidupan kita di dunia ini akan menjadi gambaran bagi kehidupan selanjutnya (sering disebut dengan alam akhirat). Putih kehidupan kita di bumi di muka bumi ini, maka putih pula pada kehidupan selanjutnya. Hitam kehidupan kita di muka bumi ini, maka hitam pula pada kehidupan selanjutnya. Bagi penulis, kehidupan di kemudian hari itu ada dan wajib kita imani. Di sinilah keadilan Allah bagi mereka yang belum mendapat yang belum mendapat azab-Nya di dunia ini, akan menerima keadilan Allah di hari kemudian. Begitu pula bagi orang-orang yang beriman yang belum menikmati kehidupan jannah di dunia ini akan menerimanya di hari kemudian. Isyarat kuat akan hal ini dapat dipahami dari firman Allah dalam surat An-Nisa (4) ayat 100 berikut ini:

Barang siapa berhijrah dijalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap ganjarannya di sisi Allah. Dan adalah Allah maha pengampun lagi maha penyayang.

Kalimat "barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju) maka Sungguh telah tetap ganjarannya di sisi Allah", menegaskan bahwa kehidupan di hari kemudian itu ada dan balasan bagi mereka yang berbuat kebenaran atau kesesatan pasti diberi oleh-Nya. Perhatikan pula surat yang sama, surat An-Nisa (4) ayat 74 berikut ini:

Karena itu hendaklah orang-orang menukar kehidupan dunia dan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperan di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya ganjaran yang besar. 

Sahabatku... 

Demikianlah renungan singkat kita tentang "Jannah" atau surga yang ternyata adanya di dunia ini. Jika surga itu adanya di dunia, maka Neraka pun adanya di dunia ini. Apakah saat ini kita sedang hidup dia di alam surga atau di alam neraka? Silakan Anda renungkan jawabannya sudah sangat jelas. Jika yang berkuasa di dunia ini bukan Khilafah Allah, berarti kehidupan neraka (zhulumat) yang sedang melingkupi umat manusia.


Sebagai renungan penutup dari persoalan surga (dan neraka) ini, Silahkan cermati firman Allah dalam Surat Al Baqarah (2) ayat 81-82 di bawah ini:

(Bukan Demikian), yang benar: Barang siapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. dan orang-orang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni jannah mereka kekal didalamnya.

Baik mereka yang menjadi penghuni neraka maupun penghuni surga, Allah menggunakan kalimat "mereka itulah penghuni neraka dan penghuni surga", BUKAN calon penghuni neraka dan Calon Penghuni Surga". kalimat seperti ini terdapat dalam banyak ayat Al Quran.

Renungi pula Surat Ali Imran (3) ayat 103 berikut ini:

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah Mempersatukan qalbumu, lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, Lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.

Ayat ini menjelaskan bagaimana kondisi dari kehidupan neraka yang terpecah belah dan saling bermusuhan, dan kehidupan neraka tersebut adanya di dunia ini. "Dan kamu dahulu telah berada di tepi jurang neraka" mempertegas hal tersebut. Semoga renungan ini dapat mencerahkan kehidupan spiritual para sahabat. Tugas kita bersama menjadikan dunia ini sebagai "Taman Surga".

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama