Prasangka Itu Pintu Dosa

prasangka itu pintu dosa
Sumber Gambar: dictio.id

Dalam hidup dan kehidupan ini, manusia kerap kali berprasangka baik ataupun buruk kepada orang lain, bahkan terkadang berprasangka kepada DIA. Umumnya, lingkunganlah yang telah membentuk karakter manusia untuk terbiasa berprasangka, padahal prasangka adalah pintu dosa. Prasangka adalah gerbang bagi manusia melakukan kesalahan dan kejahatan. prasangka adalah awal bagi seseorang menjadi hamba yang zalim prasangka adalah kebodohan yang wajib dijauhi oleh setiap manusia beriman prasangka adalah sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat sedikitpun olehnya itu JAUHILAH PRASANGKA DAN HIDUPMU AKAN BAHAGIA. 

Hai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan prasangka kecurigaan karena sebagian dari prasangka itu dosa dan janganlah mencari-cari keburukan orang lain dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya dan bertakwalah kepada Allah Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi maha penyayang 

[QS Al-Hujurat (49):12 ]


Sahabatku...

Akhir-akhir ini kita melihat di masyarakat, begitu banyak kelompok manusia yang bertikai, saling menuduh dan saling menghujat hanya karena suatu informasi yang belum jelas kebenarannya. Bahkan di era milenial dan digital saat ini, ada orang yang menggunakan hoax sebagai alat untuk menyerang orang atau kelompok lain yang berbeda keyakinan agama, suku, ras, atau pilihan politiknya. Perbedaan dijadikan sebagai dasar untuk dapat melakukan tindakan intimidasi, diskriminasi, kekerasan, atau perbuatan melawan hukum. Perilaku negatif tersebut dapat menjadi budaya buruk bagi masyarakat bangsa dan terus menabung rasa dengki dan dendam antarsesama anak bangsa. Selalu muncul prasangka di antara mereka, sesuatu yang jauh dari kebenaran faktual apalagi kebenaran Ilahi. Pada akhirnya, dengki dan prasangka itu dapat menjadi 'bom waktu' bagi kehidupan sosial politik di bangsa ini.


Renungan kita kali ini akan membicarakan 'penyakit' spiritual tersebut yang sangat mudah dan hampir pasti setiap manusia pernah melakukannya, yakni berprasangka. Penyakit ini terkesan biasa-biasa saja namun dapat berdampak besar bagi kelangsungan iman seseorang dan komunitas. Bahkan hampir semua perilaku jahat manusia diawali dari prasangka. Sebagai orang beriman, maka sudah seharusnya untuk senantiasa terhindar dari penyakit 'prasangka' ini, karena prasangka itu adalah pintu dosa. Lalu bagaimana Al-Quran berbicara soal prasangka ini?

Salah satu ingatan yang Allah sampaikan kepada orang-orang yang beriman adalah perintah untuk menjauhkan diri dari prasangka karena hal tersebut tidak didasari oleh kebenaran, tetapi oleh dugaan semata. Oleh karenanya separuh dari prasangka itu adalah dosa atau batil. Penegasan ini disampaikan Allah dalam Surah Al-Hujurat (49) ayat 12:

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.Adakah seseorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. 

Dapat dibayangkan Bagaimana hasilnya jika sebuah perbuatan dan keputusan dilakukan hanya atas dasar prasangka. Bisa dipastikan hal tersebut hanya akan menghasilkan kegagalan dan kerugian semata. Perbuatan dan keputusan tersebut tidak akan mendatangkan manfaat sedikitpun. Hal ini dapat dipahami karena prasangka itu hanya bersifat dugaan yang subyektif, tidak memiliki dasar kebenaran ilmiah. Prasangka adalah lawan dari kebenaran objektif yang didasari oleh ilmu (hal yang ilmiah). Dan ilmu yang sejati itu berasal dari Yang Maha Berilmu. Jika perbuatan dan keputusan diambil bukan atas dasar kebenaran ilmiah, maka hasilnya pasti batil miskin manfaat.


Dalam hal politik, misalnya, negara bangsa yang kafir-musyrik didirikan oleh para pendirinya (The Founding Fathers) atas dasar prasangka atau dugaan belaka. Dari prasangka tersebut Mereka kemudian merumuskannya menjadi satu ideologi baru yang menjadi dasar dari suatu negara bangsa. Karenanya, dalam perjalanannya selalu mengalami amandemen konstitusi yang disesuaikan dengan selera dan rasa politik penguasa. Sistem politik yang dipakai juga gonta-ganti karena memang didasari oleh hasil pemikiran yang subjektif (Prasangka; zhann). Bahkan pemilihan calon pemimpin negara bangsa juga dipilih atas dasar prasangka dengan satu harapan, pemimpin yang baru dapat lebih baik dan lebih adil dari pemimpin sebelumnya. Coba anda pikirkan bagaimana jadinya bila suatu ideologi negara yang dirumuskan menjadi dasar negara berasal dari Isme-Isme hasil pemikiran subjektif seseorang atau dari tradisi nenek moyang, dan sistem yang dilaksanakan juga hasil copy paste dari negara lain yang berbeda ideologinya, serta pemimpin negaranya dipilih atas dasar prasangka dan rasa (bukan rasio)? Sudah pasti yang terjadi adalah ketidakseimbangan, ketidakadilan, dan ketimpangan pada semua lini kehidupan berbangsa dan bernegara.

Coba perhatikan sindiran Allah kepada mereka yang mengikuti prasangkanya belaka dalam surat An-Najm (53) ayat 20-23 dan ayat 28 berikut ini:

Dan manah yang ketiga yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah) Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan. Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil itu tidak lain hanyalah isme-isme yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuknya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka. 

Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.

Penegasan yang sama juga disebut dalam Surat Yunus (10) ayat 36:

Dan kebanyakan mereka tidak mengetahui kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya. Persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan? 

Sudah sangat jelas bahwa segala perbuatan yang didasari oleh hal yang subjektif atau prasangka, maka pasti jauh dari kebenaran dan lebih dekat dengan kebatilan (kesia-siaan) yang mendatangkan keburukan bagi dirinya dan orang lain (dosa). Oleh karenanya, logis Jika Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk menjauhi perbuatan prasangka tersebut. Sesama orang mukmin tidak boleh berprasangka terhadap mukmin yang lainnya. Begitu pula antara yang dipimpin (ummat) dengan yang memimpinnya (Imam), tidak boleh berprasangka. Ummat atau jamaah harus mengikuti apa instruksi dari Imam. Yang lebih penting lagi adalah, orang mukmin tidak boleh berprasangka kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika terjadi permasalahan di antara sesama mukmin, maka hendaklah ia meminta untuk dimediasi (ishlah) oleh pemimpinnya (imam), karena secara spiritual mereka adalah bersaudara. Ikatan persaudaraan Iman inilah yang harus selalu dijaga oleh setiap orang beriman. Perhatikan firman-Nya dalam surat Al-Hujurat (49) 10 berikut ini:

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

Demikian halnya sikap kepada orang-orang di luar mu'min, tetap dilarang untuk berprasangka. Yang harus ditingkatkan adalah kewaspadaan (bukan kecurigaan) terhadap segala Informasi yang disampaikan, karena bisa saja dimaksudkan untuk memecah belah umat beriman. Silahkan perhatikan karakter tersebut dalam surat Al-Hujurat (49) ayat 6 berikut ini:

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Sahabatku...

Di samping Dia melarang orang-orang beriman untuk berprasangka, juga melarang untuk mencari-cari kesalahan dan menggunjing (ghibah) orang-orang beriman lainnya. Baik prasangka mencari-cari kesalahan, maupun menggunjing sesama mu'min adalah perilaku yang sangat memecah-belah umat. Karena akibat buruk dari ketiganya, sehingga pelakunya diibaratkan sebagai pemakan daging saudaranya sendiri. Betapa jijiknya perilaku orang-orang yang demikian. Perilaku tersebut bukanlah perilaku atau karakter orang-orang beriman, dan Untuk itulah harus dihindari.

Satu hal lainnya yang juga harus dihindari oleh seorang mukmin adalah penyakit ghill (dendam; dengki). Saat seseorang memiliki ghill dalam dirinya, maka dia akan selalu mencari-cari kesalahan orang lain dan menggunjing saudaranya. Akibatnya, segala hal yang diperbuat oleh saudaranya akan selalu dinilai negatif dan tentu saja akan merusak hubungan dan aktivitas terhadap orang-orang mu'min.

Dalam kehidupan orang-orang mu'min (kehidupan surgawi; Jannah) tidak boleh ada ghill diantara orang-orang beriman. penyakit dendam atau dengki ini harus bersih dari kesadaran (otak) orang-orang beriman, sehingga persaudaraan dan kedamaian tetap terjaga dalam kehidupan mereka. Silahkan perhatikan firman Allah dalam Surat Al-A'raf (7) ayat 42-43 di bawah ini:

Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. Dan kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang Rasul-Rasul Rabb kami, membawa kebenaran. Dan diserukan kepada mereka: itulah Jannah yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.

Perhatikan pula surat Al-Hijr (15) ayat 45-47:

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mataair-mataair (yang mengalir). (Dikatakan kepada mereka): 'Masuklah ke dalamnya dengan Sejahtera lagi aman. Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam kesadaran mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.


Sahabatku...

Tegasnya, prasangka dan penyakit qalbu lainnya diatas harus di jauhi. Prasangka itu adalah pintu dosa, gerbang bagi seseorang melakukan kesalahan dan kejahatan yang akan menjadikan hamba Allah yang zalim. Untuk itu, orang-orang beriman selalu diingatkan untuk berdoa:

Ya Rabb Kami, beri ampun lah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam qalbu kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. [QS Al-Hasyr (59) : 10]

Kiranya Allah menerima doa kita bersama dan menjauhkan kita dari penyakit-penyakit spritual di atas. Amin.

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama