Membaca dan Memaknai Mesias

Membaca dan Memaknai Mesias
Sumber gambar: gkagloria.id


Kata Mesias berasal dari bahasa Ibrani yang berarti 'yang diurapi', orang yang menjadi juru selamat umatnya. Kata Mesias digunakan dalam Perjanjian Lama untuk raja-raja dan untuk imam-imam, terutama Raja Daud dan para penggantinya, tetapi juga untuk Koresh (Yes. 45:1). 

Dalam pengharapan eskatologis nabi-nabi, diharapkan seorang raja yang kelak akan memerintah dalam keadilan dan dalam damai sebagaimana dinyatakan dalam Yesaya 11: 1-5 berikut ini: 

Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah.Ruh Tuhan akan ada padanya, ruh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan Tuhan; ya, kesenangannya ialah takut akan tuhan. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang. Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran; ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik. Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang. 

Gambaran umum Mesias adalah raja yang ditentang oleh dunia, tetapi mencapai pemerintahan seluruh dunia dengan mengandalkan kecemburuan YAHWEH. 


Mesias adalah seorang manusia, dan mendapatkan gelarnya bukan berasal dari tengah-tengah umat manusia, tetapi datang “dengan awan-awan dari langit”, suatu kedudukan yang khas Ilahi sebagaimana ditulis dalam Mazmur 104: 1-3 berikut ini: 

Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Tuhan, Allahku, Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Tuhan, Allahku, Engkau sangat besar! Engkau yang berpakaian keagungan dan semarak, yang berselimutkan terang seperti kain, yang membentangkan langit seperti tenda, yang mendirikan kamar-kamar loteng-Mu di air, yang menjadikan awan-awan sebagai kendaraan-Mu, yang bergerak di atas sayap angin. 

Selain itu juga dijelaskan dalam Yesaya 19:1: 

Ucapan ilahi terhadap Mesir. Lihat, Tuhan mengendarai awan yang cepat dan datang ke Mesir, maka berhala-berhala Mesir gemetar di hadapan-Nya, dan hati orang Mesir, merana hancur dalam diri mereka. 

Mesias sebagai juru selamat adalah bersifat umum. Siapa saja bisa menjadi Mesias atau juru selamat, baik bagi dirinya, keluarganya, komunitasnya atau bangsanya. Seorang manusia yang ingin menyelamatkan orang lain atau bangsanya bisa disebut Mesias, akan tetapi asli dan palsunya seseorang menjadi Mesias atau juru selamat sangat ditentukan oleh bukti dari pekerjaan atau aplikasi perbuatannya. 

Jika seseorang menepati perkataan dan perbuatannya sehingga bisa menjadi juru selamat berarti disebut “Mesias asli”, akan tetapi jika dirinya hanya berjanji melalui ucapannya tetapi tidak tergenapi perbuatannya sehingga tidak menjadi juru selamat, berarti disebut “Mesias palsu”. 


Dengan kata lain, siapapun manusia bisa menjadi Mesias, asli atau palsu. Sama halnya tatkala Yesus ditanya apakah dirinya sebagai Mesias yang dijanjikan. Yesus tidak pernah mengaku bahwa dirinya Mesias, tetapi para pengikutnya yang mengatakan bahwa dirinya adalah Mesias, karena Yesus telah menggenapi pekerjaan-pekerjaan Allah. 

Hal ini dijelaskan dalam Alkitab Perjanjian Baru Matius 16: 15-17: 

Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. 

Itu artinya gelar Mesias Yesus berasal dari Allah Tuan Semesta Alam yang menguasai langit dan bumi bukan dari manusia. Keberadaan akan kelahiran seorang Mesias dalam hal ini Yesus juga dapat dilihat dari perbuatannya bukan dari pengakuannya. 

Hal ini dikisahkan pada saat Yohanes bertanya kepada Yesus apakah dirinya Mesias yang dijanjikan itu, sebagaimana ditunjukkan dalam Matius 11: 2-5: 

Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus, lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya: "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?" Yesus menjawab mereka: "Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. 

Orang yang tidak mengerti bahasa “hikmah” mengira bahwa Yesus melakukan “penyembuhan” penyakit fisik sebagai mukjizat seorang nabi. Tetapi kenyataannya, di dalam cerita Injil tentang Yesus yang menyembuhkan dan menghidupkan banyak orang tidak membuat orang percaya kepadanya bahwa ia adalah seorang nabi, bahkan dirinya disalib oleh penguasa Romawi. 

Itu membuktikan bahwa Yesus bukan menyembuhkan orang yang sakit fisik atau membangkitkan orang yang mati biologis, tetapi jika dilihat dengan kacamata mesianik, makna dari penyembuhan itu bersifat psikologis atau kejiwaan yang ada hubungannya dengan warta utamanya, yaitu pemulihan kembali Kerajaan Allah. Dengan kata lain, pernyataan tersebut di atas adalah bersifat metaforis. 


Yesus sebagai Mesias dapat membuat orang buta menjadi melihat maksudnya, Yesus dengan bahasa hikmatnya mampu membuat mata hati atau pikiran yang tidak bisa membedakan benar salah karena tertutup doktrin dan dusta para ahlul kitab, akhirnya menjadi celik kemudian bisa berjalan bersama Yesus menyampaikan kebenaran. Yesus menyembuhkan orang lumpuh bisa berjalan adalah metaforis dari ajaran Yesus yang dapat membuat bangsa Israel yang tidak berdaya dan tidak bisa berdiri di atas kaki sendiri atau mandiri, kemudian setelah dipahamkan nilai-nilai kebenaran Ilahi akhirnya berubah menjadi umat yang kembali bangkit berjuang melawan penjajahan dan menjadi bangsa yang merdeka. 

Yesus dapat menyembuhkan penyakit kusta menjadi tahir memiliki makna bahwa Yesus mampu merubah pola pikir musyrik/pluralistik atau kecintaan kepada selain Allah sehingga umat tersebut menjadi tauhid atau satu kesatuan yang utuh, tidak tercerai berai, sebagaimana penyakit kusta fisik yang dapat memisahkan satu bagian tubuh dengan bagian tubuh lain tanpa disadarinya. Yesus bisa menyembuhkan orang tuli artinya bangsa Israel kala itu tidak mau mendengarkan ajaran kebenaran dari kitab Taurat, tetapi setelah mendapatkan penjelasan firman dari Yesus akhirnya bisa memahami sehingga bersedia ikut berjuang menegakkan jalan hidup yang benar. 

Yesus dapat membangkitkan orang mati maknanya, Yesus dengan argumentasi firman-adalah Yesus dengan argumentasi firman-Nya dapat membuka tabir kematian berfikir atau mati kesadarannya sehingga bisa hidup dan bangkit berjuang dari keterpurukannya menjadi pribadi atau bangsa yang unggul. 

Kesimpulannya pekerjaan “penyembuhan”, yang dimaksud adalah Yesus sebagai Mesias memulihkan keimanan Bangsa Israel untuk bertuan kepada satu-satunya tuan, yaitu Tuhan Semesta Alam, serta dirinya mengajak agar Bani Israel kembali kepada prinsip-prinsip hidup menurut ajaran Taurat dan kitab nabi-nabi Israel dan meninggalkan sepenuhnya ajaran-ajaran yang berasal dari agama atau ideologi bangsa-bangsa musyrik. 

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama