Figur Sentral Ibrahim (Bagian 2)

Sumber gambar: chabad.org

Lebih jauh, Ibrahim dan keturunannya melalui Ishaq akan mewarisi tanah Palestina sebagai tanah perjanjian tersebut. Keseluruhan sejarah Bani Israel kemudian berporos pada perjanjian itu, relasi antara Allah dan manusia diubah selamanya, dan hubungan yang spesial pun ditetapkan antara Dia dan keturunan Ishaq. 

Dalam kajian Taurat dan Al-Quran, apa yang menjadi tradisi keagamaan tersebut dapatlah dimaklumi. Namun, beberapa hal yang harus dicatat bahwa: 

Pertama, pengurapan Ibrahim kepada Ishaq yang menjadikannya pewaris perjanjian tidak bisa menafikan eksistensi Ismail sebagai putra sulung Ibrahim, yang juga dijanjikan Allah akan menjadi bangsa yang besar melalui keturunannya pula. Itu berarti eksklusifitas perjanjian Allah tersebut tidak hanya diwariskan Ibrahim kepada Ishaq, tetapi juga kepada Ismail meski giliran awal kekuasaan diberikan kepada generasi Ishaq, yakni Bani Israel. 

Bukankah Ismail adalah putra sulung Ibrahim (lebih tua 14 tahun dari Ishaq), sehingga kewajiban mendidik anak sesuai tuntunan Allah sudah pasti dilakukan juga oleh Ibrahim kepada Ismail. Selain itu, para nabi Allah juga banyak dari generasi di luar Bani Israel. Misalnya, Nabi Ayyub, Hud, Shalih, Syuaib (Yitro), dan Muhammad Saw. 


Meski demikian, sudah menjadi ketetapan (qadhà) Allah bahwa keturunan Ishaqlah yang akan menggenapi “Tanah Perjanjian”, bumi Palestina, sebagai pusat Kerajaan Allah; Yerusalem (negeri yang damai sejahtera). 

Kedua, keberhasilan generasi Israel memasuki dan menguasai negeri Palestina, tidak bisa dipisahkan dari bantuan pertolongan generasi Ismail kepada Musa. Artinya, kerjasama di antara sesama keturunan Ibrahim sesungguhnya terus terjalin, baik bantuan dari pihak Bani Ismail kepada Bani Israel maupun sebaliknya. 

Sebut saja bagaimana Nabi Syuaib (Yitro) yang menolong Nabi Musa tatkala ia lari menyelamatkan diri ke Selatan (Madian; Madyan) dari kejaran tentara Fir’aun. 

Ketiga, Al-Quran menegaskan soal perjanjian tersebut, bahwa perjanjian itu betul berlaku abadi dan eksklusif, tetapi eksklusifitasnya bukan atas dasar kebangsaan atau garis keturunan biologis, melainkan lebih berdasarkan kepada garis keturunan spiritual (keturunan ruh; misi iman; misi risalah) Ibrahim sebagai manusia atau bangsa pilihan seperti penegasanNya dalam Al-Quran:

Surat Al-Baqarah (2) ayat 124: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam (pemimpin) bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim. 

Sebagaimana tertuang tegas dalam Alkitab PL tentang perjanjian-Nya dengan Abraham, Allah menegaskan kembali hal tersebut dalam Al-Quran bahwa Dia berjanji untuk menjadikan Ibrahim dan keturunannya sebagai imam (pemimpin/khalifah) bagi seluruh bangsa di dunia. 


Hanya saja perjanjian tersebut tidak berlaku manakala generasinya (meskipun mereka dari garis keturunan biologisnya) berlaku zalim (syirik). Sebaliknya, meskipun secara garis keturunan biologis, mereka bukanlah dari keturunan Ibrahim (di luar bani Kedar dan bani Israel) namun tidak berlaku zalim, maka pucuk kepemimpinan dunia akan diberikan kepadanya. 

Itu berarti, perjanjian Allah ini mengandung sisi eksklusifitas dan sisi universalitas sekaligus. Tergantung pada zalim tidaknya suatu generasi (komunitas bangsa) keturunan Ibrahim tersebut. Ayat di atas juga menegaskan bahwa Ibrahim adalah seorang Nabi dan pemimpin yang diperuntukkan untuk seluruh umat manusia (li al-nās imāman), tanpa melihat bangsa dan asal garis keturunannya. 

Ini pun berarti bahwa beliau membawa millah (din) dan misi yang bersifat universal; rahmatan li al-‘ālamīn. Jika Ibrahim sendiri dijanjikan sebagai pemimpin bagi seluruh manusia, ini berarti kepada anak generasinya pun demikian.

Karenanya, doktrin agama bahwa setiap Nabi diutus hanya untuk bangsanya sendiri (Nabi lokal) adalah sebuah penyimpangan dan penyesatan atas misi para nabi dan Rasul Allah. Demikian pula dengan universalitas Kitab suci yang dibawanya juga berlaku kepada semua manusia, semua suku bangsa, bukan hanya khusus kepada Bani Israel atau Bani Ismail semata. 

Allah, misalnya, menegaskan bahwa Taurat dan Injil adalah Kitab petunjuk bagi semua manusia, demikian halnya dengan Kitab Al-Quran (Perhatikan QS. Ali Imran (3) : 3-4). Jika Kitab suci sebagai petunjuk bagi umat manusia yang dibawa oleh para rasul bersifat universal, berarti para rasul sebagai penyampai risalah pun bersifat universal karena dia bertindak atas dasar petunjuk wahyu Allah. 

Semua kepemimpinan dan misi para Nabi sejatinya bersifat universal, meskipun pada awal kenabiannya atau masa hidupnya mereka memulai da’wahnya dari bangsanya masing-masing dan dengan bahasa bangsanya masing-masing. Hal ini disebabkan karena setiap bangsa memiliki akar sejarahnya masing-masing, sehingga setiap Nabi dan Rasul memulai misinya dari bangsanya sendiri. 


Nabi Musa, misalnya, memulai da’wahnya di Mesir dan Yesus memulai pekabaran Injil di Yerusalem. Nabi Muhammad pun adalah nabi yang memulai misi da’wahnya dari bangsanya (Arab) namun bervisi universal. 

Semasa hidupnya, nabi Muhammad hanya berda’wah di sekitar jazirah Arab dengan Mekah dan Yatsrib sebagai pusat aktivitas da’wahnya. Namun demikian, tidak mengurangi nilai universalitas misi kenabian dan kerasulan beliau sebagai rahmatan li al- ‘ālamīn karena misi kenabian dan kerasulannya terus berlanjut hingga generasi sesudahnya maupun ke negeri-negeri yang belum dikunjunginya. 

Sekilas soal kata “nabi”, Jerald F. Dirks menerangkan bahwa kosa kata “prophet (nabi)” dalam bahasa Inggris dan kata-kata turunannya, seperti “prophecy (kenabian)” dan “prophezise (menabikan)” berasal dari kosakata bahasa Yunani “prophetes”. Istilah ini merupakan terjemahan kata dalam bahasa Ibrani (dan Arab) “nabi”, yang berasal dari bahasa Akadia, yang berarti “to call (menyerukan); to announce (mengumumkan), dan to speak for (menyampaikan)”. 


Maka seorang Nabi adalah seseorang yang mengumumkan atau menyampaikan suatu wahyu atau pesan Ilahi dan dia berbicara atas nama Allah, Tuhan Semesta Alam. 

Selain itu, seorang Nabi adalah seorang yang membawa berita “langit” untuk disampaikan kepada ummat manusia, baik berita tentang masa lalu, kini, dan yang akan datang.

Itu berarti di antara “berita langit” yang disampaikan oleh seorang Nabi ada yang bersifat nubuat (nubuwah); ramalan wahyu tentang sesuatu yang akan terjadi di masa datang meskipun dia sendiri belum tentu menyaksikannya atau menggenapinya. Nubuat atau nubuatan seperti ini banyak ditemukan dalam Alkitab (Taurat-Injil) dan Al-Quran. 

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama