Figur Sentral Ibrahim (Bagian 1)

Sumber gambar: history-biography.com

Ibrahim (Ibrani: Abraham) adalah orang Semit yang nama aslinya adalah Abram (Ibrani), Avram (dalam Tiberias) yang berarti “bapak yang terpuji” atau “bapak yang dipuji; dimuliakan”, yang diperkirakan lahir sekitar tahun 2166 SM. Alkitab menceritakan bahwa Abram memiliki dua orang saudara, yaitu Nahor dan Haran.

Ketika berumur sembilan puluh sembilan tahun, namanya diganti oleh Allah menjadi “Abraham” yang berarti “bapak dari banyak suku dan bangsa”. Ibrahim wafat dalam usia 175 tahun dan dimakamkan di Gua Makhpela di sisi isteri pertamanya, Sarah.

Nama “Ibrahim” sendiri, ada yang menyebut nama itu diambil dari kata dalam bahasa Semitik kona di Babilonia yang berarti “menyeberang” atau “mengembara”, sehingga turunannya pun disebut bangsa Habiru atau Ibrani (Arab: ‘Ibrani, Inggris: Hebrew), yang dimaknai sebagai bangsa nomad (pengembara).

Baca Juga: Hukum Pergiliran

Dalam bahasa Aran, kata ‘Ibrani sendiri satu akar kata dengan kata ‘abara yang berarti “menyeberang” atau “melintas”, yang juga masih satu akar kata dengan kata-kata ‘arab, yang bermakna pelintasan, penyeberangan dan pengembaraan.

Dari segi silsilah, terdapat perbedaan tentang silsilah genealogis Ibrahim. Di dalam Kitab Kejadian, silsilah Abram disebutkan sebagai putra Terah, putra Nahor I, putra Serug, putra Rehu, putra Peleg, putra Eber, putra Selah, putra Arpakhsad, putra Sem, putra Nuh as., putra Lamekh, putra Metusalah, putra Henokh, putra Yared, putra Mahaleel, putra Kenan, putra Enos, putra Set, putra Adam. Sedangkan dalam Al-Quran menyebut Ibrahim sebagai putra Āzar.

Dalam catatan Alkitab dan sejarah, Ibrahim memiliki empat orang isteri, yaitu Sara (Sarah binti Haran), Hagar (Siti Hajar), Keturah (Qaturah binti Yaqtan), dan Hajun binti Amin. Ibrahim difigurkan oleh Alkitab dan Al-Quran sebagai sosok nabi teladan. Dengan keteguhan dan kekuatan imannya, maka nabi Ibrahim mampu membuktikan ketaatan dan kecintaannya kepada Allah melebihi kecintaannya kepada putra-putranya, keluarganya dan bangsanya.


Sebagai balasannya, dia dipilih oleh Allah yang kemudian berjanji kepadanya dan keturunannya untuk menjadikan mereka penguasa dunia dan memberikannya “Tanah Perjanjian”; tempat yang akan menjadi pusat kekuasaan dari keturunannya kelak. Karenanya, beliau sering dijuluki sebagai “Bapak Monoteisme” dan “Proklamator Keadilan Ilahi” di samping “Bapak para Nabi”, karena agama-agama samawi terbesar saat ini merujuk ke millah (agama) Ibrahim.

Bagaimanapun, sejarah asal muasal dari millah Yahudi, Nasrani (Kristen), dan Islam tentu saja tidak bisa dilepaskan begitu saja dari akar kesejarahan millah Abraham (millah Ibrahim) dan figur sentral nabi Ibrahim.

Dalam tradisi Yahudi, Ibrahim adalah penerima perjanjian (kovenan) asli antara orang-orang Ibrani dengan Allah. Dalam tradisi Nasrani, Ibrahim adalah patriark terkemuka dan penerima suatu perjanjian formatif yang orisinil dengan Allah yang selanjutnya disarikan sebagai kovenan Mosaik, sedangkan kovenan kedua diyakini telah dibuat untuk Yesus Kristus.

Sedangkan dalam tradisi Islam (Arabisme), Ibrahim adalah sosok teladan dari seorang pewarta wahyu yang memiliki akidah yang tak tergoyahkan dan seorang monoteis sejati (muslim hanīf), serta pembawa millah Ibrahim (dīn al-qayyim) yang diamanahkan Allah untuk diajarkan kepada para keturunannya dan segenap umat manusia, termasuk generasi pengikut nabi Muhammad.

Selain itu, dalam trio tradisi agama samawi ini, Ibrahim secara khusus juga dinobatkan sebagai “sang sahabat Tuhan” sebagaimana tertera dalam beberapa firman-Nya di bawah ini: Tetapi engkau, hai Israel, hamba-Ku, hai Yaqub yang telah Kupilih, keturunan Ibrahim yang Kukasihi. (Yesaya 41: 8)

Bukankah Engkau Allah kami yang menghalau penduduk tanah ini dari depan umat-Mu Israel, dan memberikannya kepada keturunan Ibrahim, sahabat-Mu itu, untuk selama-lamanya? (2 Tawarikh 20: 7). Dengan jalan demikian, genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Ibrahim kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. (Yakobus 2: 23)


Dan siapakah yang lebih baik dinnya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun melaksanakan kebaikan, dan ia mengikuti millah Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim sebagai kesayangan-Nya (QS. An-Nisa (4): 125).

Ibrahim, sang sahabat Tuhan, hidup sekitar delapan generasi setelah kenabian Nuh (Noah). Hal utama yang tidak bisa dilepaskan dari sosok Ibrahim adalah perjanjian baru Allah kepadanya. Banyak teolog yang menyebut perjanjian tersebut sebagai perjanjian kedua Allah dengan manusia, setelah yang pertama Dia melakukan perjanjian dengan Nuh.

Meski demikian, perjanjian Allah dengan manusia sesungguhnya sudah dimulai pada saat kenabian Adam AS. Logikanya, tidaklah mungkin Allah memberi hukuman sepihak terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh Adam dan anak cucunya jikalau saja tidak didahului oleh kontrak perjanjian (persaksian), di mana perjanjian itu selalu berisi soal keharusan untuk tunduk patuh pada tata aturan hidup; perintah dan larangan sebagai hukum Sang Pencipta.

Intisari dari perjanjian Allah dengan Ibrahim adalah bahwa dia dan keturunannya harus menjaga perjanjian tersebut dan harus melakukan khitan. Allah berjanji bahwa Dia akan menjadi Allah bagi Ibrahim dan keturunannya melalui Ishaq dan Ismail, serta keturunannya akan berkembang biak menjadi banyak bangsa (bangsa besar). Bersambung 

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama