Sejarah Kata Tuhan (Bagian 2)

Sejarah Kata Tuhan
Sumber Gambar: oneindia.com


Sejarah Kata TUHAN (Bagian kedua)

Apa yang disebut “bahasa” adalah suatu “perjanjian” antar manusia, artinya, kata “tuan” dapat diganti menjadi “tukan”, “tupan”, “tugan” dan lain sebagainya, asalkan perubahan itu tidak menyimpang dari kata atau makna aslinya, yaitu “tuan” dengan seluruh batasan maknanya. 

Apapun alasannya yang jelas pendeta Melchior Leijdecker telah berhasil merubah Yesus dari “tuan” yang manusiawi menjadi “Tuhan” yang ilahi, dan kata “Tuhan” adalah murni milik ciptaan pendeta Katolik Roma untuk memenuhi kebutuhan teologisnya. 


Tetapi, dalam perkembangannya pergantian kata “tuan” dengan menyelipkan huruf “h” di antara “tu” dan “an” pengaruhnya sangat besar dan menyimpang jauh dari makna aslinya. 

Penyimpangan itu adalah, kata “Tuhan” hanya dipahami secara teologis–agamis, yaitu: Penguasa di langit, Raja di sorga, Raja di akhirat yang harus disembah dengan berbagai bentuk ritus (sembahyang), Roh yang ada di hati dan sebagainya.

Sedangkan pengertian “tuan” adalah raja di dunia, penguasa, pemerintah negara, pengendali pemerintahan, tuan atau majikan rakyat yang secara praktis harus dipatuhi, ditaati hukum dan perintahnya oleh manusia. 

Jadi, menurut paham agamis model ini, Allah itu adalah “Tuhan” yaitu Tuan di langit dan di akhirat kelak, sedang Kaisar itu adalah “tuan” di bumi. Kedua-duanya harus ditaati dan dipatuhi perintah dan kekuasaanya pada “dunia”-nya masing-masing. 

Dengan demikian, menurut teologi Kristen dan juga paham agamis orang Islam, harus taat kepada dua obyek ketaatan, kepatuhan, kekuasaan, raja, kerajaan, pengabdian dan sebagainya, yaitu kepada Tuhan yang berada di langit (Kerajaan Sorga). 

Dan yang kedua; ketaatan, kepatuhan kepada kerajaan dunia (negara), hukum manusia dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara di bumi ini (sekuler). 


Dengan demikian, secara tidak sadar orang terjebak ke dalam ajaran yang mengajarkan bahwa Allah sudah tidak perlu lagi memiliki kerajaan di muka bumi ini seperti Kerajaan Musa, Daud, Salomo. 

Kerajaan Allah (YAHWEH) berada di langit (sorga) dan nanti di akhir zaman sejarah manusia, Yesus (Isa Al-Masih) sebagai “Tuhan” akan turun kembali ke bumi untuk menghukum orang-orang yang tidak percaya akan peristiwa “pembebasan dosa manusia” di tiang salib. 

Sejak saat kenaikan Yesus ke sorga, hamba-hamba Tuhan khususnya dan manusia umumnya harus menganggap bahwa kerajaan atau kekuasaan apapun bentuknya adalah tidak ada yang tidak berasal dari Allah. 

Oleh sebab itu, melawan pemerintah atau kekuasaan yang ada berarti melawan ketetapan Allah, walaupun yang memerintah atau yang berkuasa itu adalah penguasa atheis-komunis dan penguasa yang sewenang-wenang. 

Hamba-hamba Tuhan harus taat kepada “Tuan”nya di bumi yaitu Kaisar, setulus ketaatannya kepada Tuhan di gereja. Ajaran semacam ini menafikan sifat Allah sebagai “Tuan” Yang Maha Kuasa, karena Allah tidak menjadi “Tuan”nya manusia dalam kehidupan sehari-hari. 

Allah atau YHWH hanya berkuasa di tempat-tempat ibadah, sedang di luar tempat ibadah adalah kekuasaan Kaisar. 

Kemungkinan dari paham yang seperti ini muncullah aliran dalam budaya ummat Islam yang menyatakan bahwa: Hidup di bawah kekuasaan Raja yang zalim (tidak adil) seratus tahun lebih baik daripada kekacauan selama satu hari akibat usaha untuk merubahnya. 

Dengan demikian, jelaslah bahwa kosakata Tuhan masuk ke dalam bahasa Indonesia sebagai pengaruh teologi. Pada akhirnya sampai sekarang kata Tuhan dibakukan sebagai kosakata baru yang disejajarkan dengan kata Ilahdan Rabb dalam bahasa Arab. 

Karena itulah dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminta (orang Katolik) tidak memberikan keterangan apa pun tentang kata Tuhan, kecuali menyamakannya dengan Allah. 

Selanjutnya, memaknai esensi kata Tuan ini lebih esensi dan memiliki hubungan dengan hamba. Manusia adalah makhluk atau hamba yang harus mengabdi kepada Tuannya. Hubungan Tuan dengan hamba adalah hubungan pengabdian. 

Manusia harus menjadikan Tuan Semesta Alam sebagai satu-satunya Tuan yang ditaati dan diabdi. Tidak boleh ada pengabdian lain kecuali kepada pencipta hamba tersebut, yaitu Tuan Semesta Alam. 

Dalam tradisi kitab suci Taurat, Injil dan Al-Quran banyak membicarakan hubungan antara hamba/budak kepada Sang Tuan. Misalnya dalam The Ten Commandements atau 10 perjanjian Bani Israel dimana yang pertama berisi tentang jangan ada allah-allah selain Allah. 

Makna dalam bahasa Arab adalah La ilaha illa Allah yang artinya “Tidak ada ilah kecuali Allah” atau “Tidak ada Tuan selain Allah”. Kata Allah berasal dari bahasa Arab, yang tersusun dari kata Al-Ilah yang berarti “Sang Ilah” dan secara implisit bermakna Allah adalah Ilah yang ma’rifat, dalam bahasa Indonesia sering disebut Tuhan Yang Maha Esa. 

Kata ilah atau tuan masih berlaku umum dan apa saja bisa menjadi ilah. Segala sesuatu yang dicintai, ditaati dan diikuti segala kehendak dan perintahnya bisa disebut sebagai tuan atau ilah. 

Bentuk-bentuk ilah atau tuan-tuan lain adalah harta, wanita, tahta, pemimpin, tanah, perniagaan, dan lainnya termasuk hawa nafsu pribadi manusia bisa menjadi tuan/ilah. 

Ketika manusia egosentris hanya untuk dirinya, menjadikan dirinya sebagai ukuran kebenaran maka hawa nafsunya telah berubah menggantikan posisi Tuan Semesta Alam. 

Setiap manusia sebagai hamba tidak boleh menjadi tuan. Manusia hanya boleh bertuan kepada satu tuan yaitu Tuan Semesta Alam. Esensi mempersekutuan Allah adalah manakala manusia membuat tandingan tuan-tuan lain selain Tuan Semesta Alam. 

Prinsip dasar pengabdian adalah tidak boleh mempunyai dua tuan, hanya satu tuan yaitu Tuan Semesta Alam yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan Tuhan Yang Maha Esa, atau dalam bahasa lainnya disebut dengan Allah, God, Yahweh, Elohim, Elia, Sang Hyang Widi Wase, Gusti Allah di Jawa, Karaeng di Sulawesi, Tuang Ala di Ambon, Dewata Agung di Bali, Tete Manis di Papua, dan istilah lainnya. (Kitab Ulangan 6:45, Matius 6:24, Lukas 16: 13, QS. Mu`min┼źn (23): 23&32). 

Manusia wajib taat hanya kepada Tuan Semesta Alam sebagai pengatur, penguasa dan satu-satunya pusat pengabdian bagi seluruh makhluk-Nya. 

Seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini sudah tunduk patuh (aslama, muslim) secara terpaksa atau sukarela kepada undang-undang atau hukum yang ditetapkan atas dirinya masing-masing, sehingga tercipta keseimbangan, keharmonisan serta kehidupan yang damai dan sejahtera. 

Kesimpulannya, makna Rabb, Malik atau Ilah adalah sesuatu yang dipatuhi, yang ditaati perintahnya, dan segala sesuatu yang dipertuankan oleh manusia, sehingga kata “Tuhan” yang hanya “disembah” dan berada di langit adalah bentuk penyesatan dari kaum agamis Nasrani agar mereka tidak merasa syirik atau menduakan “Tuan”. 

Tuhan itu adalah yang disembah di langit dan Tuan itu adalah yang dipatuhi di bumi, yaitu para penguasa bangsa yang menjajah bangsa-bangsa lain. Demikianlah esensi dan sejarah asal muasal dari kata Tuan dan Tuhan.

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama