Sejarah Kata Tuhan (Bagian 1)


Sejarah Kata Tuhan
Sumber Gambar: gbcdecatur.org

Sejarah Kata TUHAN (Bagian pertama)

Dalam rangka memahami kata Tuhan dan Tuan, maka diperlukan pendekatan dan analisis asal usul kata tersebut. Dalam berbagai literasi telah ditemukan bahwa secara etimologi atau asal muasal sebuah kata, ternyata kata Tuhan berasal dari kata Tuan. 

Salah satu penjelasan pembentukan dan perubahan kata ‘Tuan’ menjadi kata ‘Tuhan’ dapat disimak dalam artikel yang ditulis oleh seorang ahli bahasa Remy Sylado dengan judul “Bapa Jadi Bapak, Tuan Jadi Tuhan, Bangsa Jadi Bangsat” yang ditulis di kompas.com. 

Dalam artikel tersebut akan terlihat adanya perubahan ejaan dari Tuan ke Tuhan dalam Kitab Suci Nasrani terjemahan Melayu dengan huruf Latin. Kata Tuan ini menjadi sebutan khusus bagi Isa Al Masih dalam terjemahan bahasa Melayu beraksara Latin yang bersumber dari injil asli bahasa Yunani untuk perkataan Kyrios. 


Untuk memeriksa bukti tersebut, kita dapat membuka pelbagai versi terjemahan kitab suci Nasrani tersebut yang masih tersimpan dengan rapi di perpustakaan Lembaga Alkitab Indonesia. 

Buku pertama yang memberi keterangan tentang Tuhan dengan cara yang mungkin mengejutkan awam adalah Ensiklopedi Populer Gereja oleh Adolf Heuken SJ.

Dalam keterangannya tentang Tuhan, “arti kata ‘Tuhan’ ada hubungannya dengan kata Melayu ‘Tuan’ yang berarti atasan/penguasa/pemilik.” 

Ensiklopedi yang hanya satu jilid ini pertama terbit pada tahun 1976. Keterangan tersebut masih dapat dibaca juga dalam ensiklopedi yang lebih paripurna, terdiri dari lima jilid, terbit pada tahun 1991, yaitu Ensiklopedi Gereja. 

Sesuai data yang ada, istilah Tuhan yang berasal dari kata Tuan, pertama kali hadir dalam peta kepustakaan Melayu beraksara Latin lewat terjemahan kitab suci Nasrani tersebut. 

Perkataan ini dimaksudkan untuk mewakili sifat-sifat omnipresensi atas kata bahasa Yunani, Kyrios, dengan kaitannya pada tradisi Ibrani untuk kata Adon, Adonai,dengan aktualitas sebagai raja dalam kata Yahweh. 

Maka, memang akan membingungkan, jika orang membaca kitab suci Nasrani terjemahan Indonesia. Dalam kitab pertama, Perjanjian Lama yang aslinya berbahasa Ibrani, untuk kata-kata Adonai dan Yahweh semua diterjemahkan menjadi Tuhan, sementara dalam kitab kedua, Perjanjian Baru, untuk kata Kyrios juga diterjemahkan menjadi Tuhan. 


Dalam kitab suci Nasrani bahasa Melayu beraksara Latin terjemahan Brouwerius yang muncul pada tahun 1668, untuk kata yang dalam bahasa Yunaninya, Kyrios, dan sebutan ini diperuntukkan bagi Isa Almasih, diterjemahkannya menjadi Tuan. 

Terjemahan ini dapat diperiksa dalam buku kelima Perjanjian Baru, dari bagian surat injili Paulus kepada ummat di Roma. Injil Roma 1:1-4, diterjemahkan dalam bahasa Melayu sebagai berikut;

“Paulo Jesu Christo pounja hamba, Apostolo bapangil, bertsjerei pada Deos pounja Evangelio, (Nang dia daulou souda djandji derri Nabbi Nabbinja, dalam Sagrada Scriptoura).

Derri Annanja lacki lacki (jang souda berjadi derri bidji David dalam daging: Jang dengan coassa souda caliatan jang Annac Deos, dalam Spirito yang bersaksiakan carna bangon derri matti) artinya Jesu Christon Tuan cami.” 

Berhubung terjemahan Brouwerius ini dianggap sulit, antara lain banyaknya serapan kata bahasa Portugis, dan karenanya hanya mudah dipakai di kalangan komunitas bekas-bekas budak Portugis, para Mardijker, maka timbul gagasan orang-orang saleh di antara bedebah-bedebah VOC untuk menerjemahkan kembali seluruh bagian Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dengan bahasa Melayu yang benar-benar bagus. 

Tugas itu diserahkan kepada Melchior Leijdecker, pendeta tentara yang berlatar pendidikan kedokteran. 

Melalui terjemahan Leijdecker-lah akan ditemukan perubahan harfiah dari Tuan menjadi Tuhan. Dalam kitab terjemahannya ini, ayat kitab suci Roma 1:1-4 terjemahan Browerius di atas, teks terjemahannya berubah menjadi seperti ini; 
“Pawlus sa’awrang hamba ‘Isaj ‘Elmeseih, Rasul jang terdoa, jang tasakuw akan memberita Indjil Allah, (Jang dihulu telah dedjandjinja awleh Nabijnja, didalam Suratan yang khudus).

Akan Anaknja laki (jang sudah djadi deri beneh Daud atas perij daging: Jang telah detantukan Anakh Allah dengan kawasa atas perij Rohu-‘Itakhdis, deri pada kabangkitan deri antara awrang mati,) janij ‘Isaj Elmeseih Tuhan kami.” 

Dengan adanya perbedaan dua terjemahan tersebut di atas, jelaslah yang tadinya oleh Brouwerius diterjemahkan Tuan (dalam bahasa Portugis adalah Senhor, bahasa Perancis Seigneur, bahasa Inggris-Lord, bahasa Belanda-Heere), maka melalui Leijdecker berubah terjemahannya menjadi Tuhan. 

Sebutan Tuan bagi Yesus Kristus atau Isa Almasih ini berasal dari surat-surat Paulus, orang Turki, yang menggunakan bahasa Yunani kepada bangsa Yahudi, Romawi, dan Yunani di daerah Hellenisme. 

Pada setiap akhir suratnya, Paus selalu menyebut Yesus Kristus sebagai Tuan: "Semoga rahmat Yesus Kristus Tuan kita menyertai ruh kita." Kalimat di atas, dalam bahasa Portugis, berbunyi: "A graca de mosso senhor Jesus Cristo seja com ovosso espiritu". Dalam bahasa Belanda berbunyi: "De genade van onzen heere Jezus Christus zij met uw geest". 

Dalam bahasa Prancisnya, berbunyi: "Que la grace de notre seigneur Jesus-Christ soit avec votre esprit". Dan dalam dalam bahasa Inggris, berbunyi: "The grace of lord Jesus Christ be whit your spirit". 

Kemudian pada abad-abad berikutnya, sepanjang 200 tahun, penerjemah Alkitab bahasa Melayu melanjutkan penemuan Leijdecker tersebut. 

Kini kata Tuhan yang mula-mula ditemukan Leijdecker untuk mewakili dua pengertian pelik insani & ilahi dalam teologi Kristen atas sosok Isa Almasih yang telah menyebabkan gereja bertikai dan setelah itu melahirkan kredo-kredo: Nicea, Constantinopel, Chalcedon dan pada akhirnya menjadi Lema khas dalam bahasa Indonesia. 

Apa yang dilakukan Leijdecker, mengapa Tuan menjadi Tuhan, merupakan masalah khas bahasa Indonesia. Hadirnya huruf ‘h’ dalam beberapa kata bahasa Indonesia, seperti ‘asut’ menjadi ‘hasut’, ‘utang’ menjadi ‘hutang’, ’empas’ menjadi ‘hempas’, ‘silakan’ menjadi ‘silahkan’, agaknya seiring dengan kasus nominatif dan singularis dalam tatabahasa Sansekerta ke Kawi dan Jawa. 

Misalnya tertulis ‘hana’ dibaca ‘ono’, ‘hapa’ dibaca ‘opo’. Hal ini juga pernah diterangkan Alif Danya Munsyi di majalah Tiara (1984). Ia menyebutkan bahwa peristiwa itu terjadi sebagai salah satu gejala paramasuai, yaitu penambahan bunyi “h” yang nirguna pada kata-kata tertentu, misalnya hembus, hempas, hasut, dan tuhan. 

Alif mengatakan bahwa gejala itu timbul karena pengaruh lafal daerah, rasa tak percaya pada diri sendiri, dan yang sangat penting adalah berkaitan dengan penjajahan bangsa Eropa terhadap bangsa Indonesia.

Lingua Franca Melayu yang dipakai bangsa-bangsa Eropa, antara lain Portugis dan Belanda, sebagai bahasa administrasi untuk kegiatan ekonomi dan politik di seantero Nusantara, juga dipakai dalam kepentingan penyiaran agama Nasrani, agama umum yang dianut oleh bangsa-bangsa Eropa. 

Dengan penjelasan di atas, dapat disimpukan bahwa secara etimologi bahasa, perubahan kata Tuan menjadi Tuhan berawal dari terjemahan Melchior Leijdecker. 

Selain dari sisi pertimbangan bahasa, ada juga kemungkinan Pendeta Leijdecker ini mempunyai tujuan mengganti kata Tuan menjadi kata Tuhan agar tidak rancu dalam penggunaanya, sehingga dibedakanlah antara Tuan yang di langit dengan Tuan yang di bumi dengan menambah huruf ‘’H’’ itu di tengahnya. 

Tuhan adalah tuan yang ada di langit, sedangkan tuan untuk yang di bumi. Manusia dalam kehidupan beragama menyebut Tuhan, sementara dalam kehidupan masyarakat menyebut Tuan kepada majikannya. 

Dengan diubahnya kata Tuan menjadi Tuhan, dia ingin menghindari bentrokan dengan aqidahnya sendiri. Sebab bagi ajaran Paulus yang menjadi Katolik Romawi, manusia harus taat kepada dua tuan, dia sebagai orang yang beragama harus taat kepada Tuhan, tetapi dia dalam bernegara harus taat kepada raja atau penguasa negeri itu. 

Padahal menurut Injil sendiri, manusia dilarang untuk mempunyai dua tuan; 
“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon" (Matius 6: 24).

Dari sinilah muncul paham sekularisme yang memisahkan antara agama dengan negara. 

Selanjutnya, perubahan kata Tuan menjadi Tuhan ini dilakukan atas dasar pertimbangan teologis Katolik Roma yang memfigurkan Yesus sebagai “tuan” yang ilahiah, untuk membedakan “tuan” yang manusiawi. Tetapi sesungguhnya, kata “Tuhan” maknanya tidak dapat dilepaskan dengan makna “Tuan” yaitu: yang memerintah, yang menjadi raja, yang mengendalikan, tuan atau majikan, yang menjadi pemilik dan yang dihormati. 

Tetapi, karena orang tidak mengetahui sejarah perubahan ini, maka kata “Tuhan” menjadi sesuatu yang “melangit” dan tidak bermakna praktis bagi manusia. 

Artinya adalah, ketika seseorang menyebut kata “Tuhan”, mereka tidak sadar bahwa makna praktisnya adalah “Tuan”, yaitu sesuatu yang harus memerintah atau berkuasa, raja, pengendali, tuan atau majikan yang harus ditaati dan dipatuhi oleh manusia sebagai “budak” atau “hamba” dari Tuan-nya itu.

BERSAMBUNG...

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama