Makna Kata Rabb dan Ilah

Makna Kata Rabb dan Ilah
Sumber Gambar : hipwallpaper.com


Dalam Al-Quran terdapat terjemahan kata “Tuhan” yang berasal dari kata bahasa Arab yaitu “Rabb”. Secara bahasa, kata “Rabb” adalah bentuk mashdar dari kata “rabba-yarubbu”. Jadi kata Rabb adalah mashdar yang digunakan untuk fa’il(pelaku). 

Kata-kata “ar-Rabb” tidak disebutkan sendirian, kecuali untuk Allah. Jika kata Rabb ini di-idhafahkan (ditambahkan kepada yang lain), maka hal itu bisa untuk Allah dan bisa untuk selainNya (Dr. Shalih bin Fauzan, 2001: 25). 

Namun demikian, kata “Rabb” dalam bahasa Arab ini juga diterjemahkan dengan kata lain selain “Tuhan”. Untuk melihat beberapa terjemahan dan menggali makna dari kata “Rabb” akan ditunjukkan beberapa firman Allah yang tertuang dalam Al-Quran surat Al-Fātiḥah (1) ayat 2 dan surat An-Nās (114) ayat 1 berikut ini:

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam 

Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (Yang Memelihara dan Menguasai) manusia.

Dari dua ayat tersebut di atas, kata “Rabb” dalam bahasa Arab diterjemahkan sebagai “Tuhan” semesta alam dan “Tuhan” manusia. Sementara itu, jika kita melihat kata “Rabb” dalam surat atau ayat yang lain akan melihat terjemahan yang berbeda. Hal ini dapat ditunjukkan dalam surat Yūsuf (12) ayat 50 berikut ini.

Raja berkata: "Bawalah dia kepadaku." Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: "Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengetahui tipu daya mereka." 

Kata-kata “Rabbika” dalam ayat di atas diterjemahkan sebagai “Tuanmu” dan kata “Rabbiy” diterjemahkan sebagai “Tuhanku”. Kata tersebut di atas mempunyai akar kata yang sama yaitu “Rabb” tetapi diartikan dalam dua terjemahan yang berbeda. 

Jika disebutkkan “rabb ad-daar” artinya “tuan rumah, pemilik rumah”, dan “rabb al-faras” artinya “pemilik kuda”. Penggunaan kata “rabb” dalam arti “tuan” bisa dilihat dalam Al-Quran surat Yusuf (12) ayat 41-42 berikut ini:

41 Hai kedua penghuni penjara, "Adapun salah seorang di antara kamu berdua, akan memberi minum tuannya dengan khamar; adapun yang seorang lagi maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku).

42 Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua: "Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu." Maka setan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya. 

Selanjutnya ada ayat lain yang mengartikan “Rabb” dengan terjemahan yang berbeda pula dengan “Tuhan” yaitu diartikan sebagai “mendidik” sebagaimana ditunjukkan dengan dalam Al-Quran surat QS. Al-Isrā (17) ayat 24 berikut ini.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".

Dengan mencermati ayat-ayat tersebut di atas, seolah-olah penerjemahan kata-kata “Rabb” dalam bahasa Arab tidak konsisten diterjemahkan sebagai “Tuhan”, akan tetapi diterjemahkan dalam berbagai kata yaitu “Tuan” dan “Mendidik”. Oleh karena itu, dengan adanya perbedaan terjemahan tersebut, bisa diambil sebuah makna atau esensi dari kata “Rabb”. 

Dari ayat-ayat tersebut di atas, kata “Rabb” masih bersifat umum dan mempunyai makna sebagai tuan, yang mencipta, mengatur, mendidik, memandaikan, memelihara, menguasai, pusat pengabdian yang ditaati kehendak dan perintahnya. 

Tentu saja dalam hal ini, yang berhak menjadi tuan, pencipta, pengatur, pendidik, pemelihara, penguasa yang harus ditaati segala kehendak dan perintahnya adalah “Rabb” alam semesta yaitu Allah, sebagai Tuan Semesta Alam dan Tuan umat manusia. 

Manusia tidak berhak menjadi “Rabb” (Tuhan;Tuan) karena manusia adalah makhluk yang dicipta atau hamba dari Sang Tuan Semesta Alam. Allah sangat murka kepada manusia yang mengaku dirinya sebagai “Rabb”. 

Hal ini pernah dikisahkan pada zaman Firaun tatkala dirinya mengaku “Rabb” di Mesir, sehingga bangsanya dihancurkan oleh Tuan Semesta Alam. Pengakuan Firaun ini dijelaskan dalam surat An-Nāzi’āt (79) ayat 24:

(Seraya) berkata: ''Akulah tuhanmu yang paling tinggi''

Pengakuan Firaun di sini sebagai “Rabb” bukan mengaku sebagai “Tuhan” atau Allah Yang Maha Tinggi, tetapi dirinya mengaku menjadi pengatur, penguasa dan pusat pengabdian di Mesir, sehingga hal ini menyebabkan dirinya menandingi atau mempersekutukan Allah, Tuan Semesta Alam yang tidak boleh dipersekutukan dengan apapun. 

Dalam term lain, kata "rabb" diartikan sama dengan kata "ilah", yang juga sering diartikan dengan tuhan atau tuan. Bentuk-bentuk konkrit dari sesuatu yang dapat menjadi tuan dan menjadi pusat perintah adalah hawa nafsu, pemimpin, harta benda, dan lainnya. Hal ini dapat dapat dilihat dalam beberapa firman berikut. 

Al-Quran surat Al-Jātsiyah (45) ayat 23:

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? 

Di dalam ayat yang bergaris bawah di atas, kata-kata “Ilah” diartikan sebagai “tuhan”, sehingga yang menjadi tuhannya manusia adalah hawa nafsu. Artinya hawa nafsu ini bisa menjadi “tuan” yang memerintah dan harus dipatuhi segala keinginannya. 

Hawa nafsu bisa menjadi “Ilah” atau kecintaan yang melebihi kecintaan kepada Allah, Tuan Semesta Alam. Jika seseorang lebih memilih menjalankan perintah hawa nafsunya daripada mengikuti wahyu atau firman Allah, berarti hawa nafsu manusia tersebut telah menjadi “tuan” atau “tuhan”-nya, sehingga dirinya sedang mempersekutukan atau menduakan Allah, Tuan Semesta Alam. 


Pada dasarnya, sifat hawa nafsu selalu mengajak manusia kepada kejahatan. Artinya hawa nafsu bisa menjadi “Ilah” yang memerintah manusia untuk melakukan sesuatu yang menyimpang dan cenderung kepada perbuatan yang jahat, kecuali diri yang sudah dirahmati oleh Allah, Tuan Semesta Alam. Silahkan perhatikan Al-Quran surat Yūsuf (12) ayat 53 berikut ini. 

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 

Hawa nafsu sebagai syahwat menusia ini selalu mengajak manusia kepada hal-hal yang bersifat rendah atau duniawi. Hawa nafsu ibarat tanah yang rendah dan memiliki gravitasi bumi, atau selalu menarik ke bawah, sehingga manusia sulit diangkat (ditinggikan) derajatnya oleh Allah.

Seseorang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai pengatur, penguasa dan pusat aktivitas berarti dirinya telah mendustakan ayat-ayat atau firman Allah yang harusnya menjadi “Ilah” atau pusat perintah bagi dirinya. Orang-orang yang mengedepankan hawa nafsunya diibaratkan seperti anjing sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran surat Al-A’rāf (7) ayat 176 berikut ini.

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. 

Adapun bentuk-bentuk lain yang bisa menjadi “Ilah” atau pengatur dan pusat kecintaan manusia yang dapat mengalahkan kecintaan kepada Allah, Tuan Semesta Alam, sangat beragam jenisnya sebagaimana dinyatakan dalam surat Ali ‘Imran (3) ayat 14 berikut:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” 

Kecintaan kepada sesuatu yang bersifat “materialisme” ini dapat mendorong manusia untuk melakukan apapun demi mendapatkannya. Dorongan-dorongan yang bersifat darah dan daging ini lebih condong membawa manusia kepada kehidupan yang rendah. 

Itulah bentuk-bentuk “Ilah” yang dapat menandingi dan menjadi sekutu bagi Allah, Tuan Semesta Alam. Manusia tidak boleh mempunyai ilah-ilah lain selain al-Ilah, yaitu Allah, Tuan Semesta Alam.

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama