Hukum Pergiliran

Hukum Pergiliran
Sumber Gambar: ngobas.com


Sifat dari tradisi Tuhan Semesta Alam dalam Dia mengendalikan kehidupan umat manusia di muka bumi ini adalah tradisi pergantian dan pergiliran. Artinya, kekuasaan yang Dia berikan atau anugerahkan kepada para penguasa musyrik atau pun kepada para Rasul-Nya itu tidak bersifat abadi. 

Ada masa dimana yang menguasai dunia ini adalah penguasa musyrik (kerajaan bangsa-bangsa) dan ada masa dimana yang diberi giliran berkuasa adalah para rasul dan orang-orang beriman (Kerajaan Allah). 

Perubahan peradaban kekuasaan di dunia hanyalah sesuatu yang silih berganti dan dipergilirkan oleh Allah, seperti halnya pergiliran antara malam dan siang yang selalu berganti dan bergiliran. 

Tradisi pergantian dan pergiliran peradaban kekuasaan, adalah sesuatu yang tidak pernah berubah sepanjang zaman kehidupan umat manusia. 

Fakta sejarah yang dapat diambil sebagai contoh adalah perjalanan peradaban kekuasaan Bani Israel, seperti yang digambarkan secara singkat dalam Al-Quran surat Al-Isrā (17) ayat 4-7 berikut ini: 

4 Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar". 

5 Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hambahambaKami yang mempunyai kekuatan yang besar,lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. 

6 Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. 

7 Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. 

Ketika Kerajaan Allah yang dianugerahkan kepada umat nabi Musa telah sampai pada masa akhir kekuasaannya, maka umat nabi Musa berubah menjadi umat yang terkutuk dan terjajah. 

Hal ini disebabkan karena Bani Israel sudah melakukan perzinahan ideologi dengan ideologi bangsa-bangsa. Karena itu Allah mengutus hamba-hamba-Nya (Raja Nebukadnezar dari Babel) untuk membumihanguskan kekuasaan Bani Israel. 


Kemudian ketika tiba saatnya, Dia kembali memberi giliran kedua kepada Bani Israel untuk bangkit mengalahkan penguasa bangsa-bangsa musyrik (Romawi), dengan cara Dia mengutus Nabi Isa sebagai Rasul-Nya. 

Nabi Isa kemudian mengajak Bani Israel untuk kembali berjuang menegakkan din atau sistem kehidupan yang haq, sehingga umat Bani Israel yang tadinya terkutuk dan terjajah (berdosa) kembali menjadi umat yang diberkati oleh Tuhan Semesta Alam, menjadi umat yang berkuasa di muka bumi. 

Dalam perjalanannya, umat Nabi Isa (Bani Israel) kembali melakukan kerusakan di muka bumi untuk kali yang kedua. Sebagai azab atau hukumannya, maka kekuasaan yang dipegang oleh Bani Israel kembali diruntuhkan oleh Allah melalui tangan hamba-hamba-Nya yang lain. 

Selanjutnya, Kerajaan Allah tidak lagi dianugerahkan kepada Bani Israel karena mereka sudah melakukan dua kali kerusakan. Dua kali Bani Israel mengkhianati kesetiaannya kepada Tuhan-nya, Allah Yang Maha Esa. 

Giliran kekuasaan Kerajaan Allah selanjutnya diberikan kepada Bani Ismail, yakni bangsa Arab, dengan memilih Muhammad sebagai Rasul-Nya. Melalui bimbingan dan kepemimpinan Rasulullah Muhammad, Tuhan Semesta Alam kembali memenangkan din-Nya, menegakkan Kerajaan-Nya di muka bumi. 

Dia (Allah) kembali menjadikan kehidupan umat manusia menjadi kehidupan yang penuh damai dan sejahtera atau rahmatan lil ‘alamin. Seperti halnya dengan rasul-rasul sebelumnya, Muhammad SAW, beserta pengikutnya berhasil menegakkan din Allah atau hukum Tuhan Semesta Alam di muka bumi, yakni dalam wujud dianugerahkannya kekuasan politik di muka bumi oleh Allah Yang Maha Kuasa. 

Sesuai dengan tradisi Tuhan Semesta Alam, maka kekuasaan umat nabi Muhammad juga mengalami masa keruntuhan, yakni ketika kekuasaan Abbasiah yang berpusat di Basrah (kini Iraq) dihancurkan oleh Jengis Khan dari bangsa Mongol di abad ke-13. 

Inilah sesungguhnya hari kematian (ajal) dari umat yang dibangun oleh Rasulullah Muhammad. Akibat dari runtuhnya kekuasaantersebut, umat nabi Muhammad kembali menjadi umat yang terjajah dan menjadi budak bangsa-bangsa. 

Baca Juga : Islam Bukan Agama

Kalaupun masih ada kekuasaan yang muncul, sifatnya adalah kebangsaan (kerajaan bangsa) bukan bersifat rahmatan lil ‘alamin lagi. Inilah realita politik yang harus diakui oleh umat Nabi Muhammad. 

Umat Islam harus legowo menerima ketetapan Allah ini dan selanjutnya belajar dari tradisi para Rasul untuk bisa kembali menegakkan din-Nya atau dapat kembali mendapat anugerah kekuasaan dari-Nya. 

Hingga saat ini, umat Bani Israel dan Bani Ismael masih berada dalam kondisi terjajah oleh peradaban kekuasaan bangsa-bangsa musyrik yang memang sedang mendapat giliran dari Dia (Allah) untuk berkuasa di muka bumi. 

Pertanyaannya, sampai kapan? Hanya Allah sendiri yang mengetahuinya, namun manusia beriman diberi kemampuan untuk membaca dan melihat tanda-tanda perubahan zaman tersebut. 

Saat ini, dunia sedang dikuasai oleh peradaban kekuasaan bangsa-bangsa musyrik, dengan ideologi masing-masing yang tidak bersumber pada Din Allah. Secara khusus, dunia saat ini dikuasai oleh dua ideologi besar, yakni ideologi Barat dengan paham liberal-kapitalis dan ideology Timur dengan paham sosialis-komunis. 

Secara politik, bangsa-bangsa yang berpaham liberal-kapitalis disebut sebagai Blok Barat dan yang menganut paham sosialis-komunis bersekutu menjadi bangsa-bangsa Blok Timur. 

Pergumulan antara Barat dan Timur sesungguhnya selalu ada dalam sejarah kekuasaan bangsa-bangsa di dunia ini, seperti blok Romawi (Barat), dan blok Persia (Timur) di zaman nabi Muhammad. 

Bahkan dalam Al-Quran ada satu surat yang disebut surat Ar-Rūm (Roma). Di tempat lain, saat ini negara-negara Islam atau negara dengan rakyat yang mayoritas umat Islam, menjadi bangsa-bangsa kelas tiga, menjadi negara-negara boneka yang berkiblat ke Barat atau ke Timur. 

Dalam hal ini, Allah berfirman dalam Al-Quran surat Al-Baqarah (2) ayat 177 sebagai berikut: 

Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. 

Allah menegaskan bahwa sistem Barat dan sistem Timur bukanlah sesuatu yang dapat membawa "kebaikan" dalam kehidupan manusia. Sistem yang dapat membawa manusia ke dalam kehidupan yang penuh kebaikan sejati adalah sistem keimanan (kepatuhan) kepada Allah, Tuhan Semesta Alam, dengan menjalankan segala kehendak dan perintah-Nya. 

Namun demikian, sudah menjadi tradisi Tuhan Semesta Alam bahwa semua sistem kekuasaan itu diberi waktu oleh Dia untuk berkuasa dan pada saatnya tiba, sistem kekuasaan yang tadinya berkuasa akan diruntuhkan (dimatikan) oleh Dia. 

Tentu saja, pergiliran antara kekuasaan bangsa-bangsa musyrik dengan ideologinya masing-masing dan kekuasaan Kerajaan Allah dengan ideologi yang haqq (din al-haqq) memiliki "masa" dan tempatnya tersendiri. 

Ini adalah dua hal yang tidak bisa bercampur, seperti pergiliran waktu antara malam hari dan siang hari. Namun demikian, setiap kejadian alam selalu ada tanda-tanda awalnya. 

Masuknya waktu malam ditandai dengan terbenamnya matahari dan binatang-binatang malam sudah mulai keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Sedangkan masuknya waktu siang ditandai dengan terbitnya fajar di ufuk timur. (What’s next?)

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama