Hukum Ajal Kekuasaan

Hukum Ajal Kekuasaan
Sumber Gambar: hariansejarah.id

Selain sifat dari tradisi Tuhan Semesta Alam pada peradaban kekuasaan bangsa-bangsa yang berupa pergantian dan pergiliran, hukum ajal adalah sesuatu yang tidak terlepas dari suatu peradaban kekuasaan.

Hukum ajal berkaitan dengan umur seseorang dan umur umat atau umur bangsa. Ketika berbicara soal ajal, berarti berbicara soal kelahiran dan kematian. 

Dengan kata lain, segala sesuatu yang lahir pasti akan mati. Inilah hukum ajal dan kesepasangan yang tidak bisa dihindari oleh siapapun atau oleh kekuatan apapun. 

Arnold Toynbee (1971), dalam bukunya "A Study of History" menyatakan, bahwa "Semua peradaban bersifat siklus". Perjalanan peradaban bagaikan riwayat organisme yang hidup: mengalami tahap kelahiran, tumbuh dewasa dan runtuh (mati). 


Tetapi, keruntuhannya tidak selalu berakhir dengan kehancuran total. Hal ini adalah bagian dari hukum baja sejarah, sehingga proses itu akan berulang dan akan berganti, meski dengan corak yang tidak sepenuhnya sama dengan peradaban induk sebelumnya. 

Sebab, terkadang peradaban baru hasil dari regenerasi sebelumnya mampu melebihi prestasi peradaban yang digantikannya. Hal ini sesungguhnya sudah ditegaskan oleh Allah dalam Al-Quran surat Luqmān (31) ayat 28: 

Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. 

Setiap individu manusia umumnya akan mengalami masa lahir, tumbuh dewasa, dan akhirnya mati (wafat). Demikian pula dengan umat (bangsa) mempunyai masa kelahiran dan kematian sebagaimana manusia. 

Satu hal yang berkaitan dengan hukum ajal ini adalah waktunya yang menjadi rahasia Allah dan ketika tiba waktu ajal, maka tidak dapat diundur atau dimajukan. 

Karena waktunya yang dirahasiakan, maka Allah meminta manusia dan bangsa (umat) untuk selalu koreksi diri dan bersiap diri untuk menyambut kedatangannya yang selalu tiba-tiba. 

Beberapa firman Allah yang menegaskan masalah hukum ajal tersebut adalah sebagai berikut: 

Al-Quran surat Al-A’rāf (7) ayat 34 : 

Tiap-tiap umat mempunyai ajal (batas waktu); maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. 

Al-Quran surat Yūnus (10) ayat 47-49 : 

47 Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya. 

48 Mereka mengatakan: "Bilakah (datangnya) ancaman itu, jika memang kamu orang-orang yang benar? 

49 Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah". Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya). 

Al-Quran Surat Al-ḥijr (15) ayat 4-5 : 

4 Dan Kami tiada membinasakan sesuatu negeripun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan. 

5 Tidak ada suatu umatpun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan(nya). 

Al-Quran Surat Fāthir (35) ayat 43-45: 

43 Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu. 

44 Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. 

45 Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. 

Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa pergantian dan pergiliran suatu peradaban kekuasaan bangsa-bangsa bagaikan pergiliran waktu antara malam dan siang. Begitu pula ajal (batas waktu) dari peradaban kekuasaan bangsa-bangsa tersebut terjadi bersamaan dengan masa pergantian tersebut. 

Masuknya waktu malam yang ditandai dengan terbenamnya matahari, merupakan waktu ajal (masa kematian) bagi sebuah peradaban kekuasaan. Sebaliknya, terbitnya fajar adalah waktu kelahiran dari suatu peradaban kekuasaan. 

Meskipun waktu datangnya ajal (masa kematian) kekuasaan bangsa-bangsa dirahasiakan oleh Allah, tetapi tanda-tanda datangnya ajal suatu kekuasaan bangsa (umat) dapat diketahui.

Baca Juga : Islam Bukan Agama

Kami (hamba-hamba yang iman kepada ketetapan Allah) hanya ingin mengingatkan, bahwa sekuat apapun suatu bangsa yang sedang berkuasa (termasuk blok Barat dan Timur) saat ini, ketika ajal kekuasaannya tiba, maka mereka tidak dapat menghindarinya. 

Dalam bahasa kitabiyah, Allah memberi tahu kepada para Rasul-Nya apa yang menjadi tanda-tanda dari akhir zaman atau tanda datangnya zaman baru. 

Nabi Isa, misalnya, memberi tahu kepada umatnya tentang tanda-tanda akhir zaman itu, seperti yang tertulis dalam Injil Matius 24: 3-14 dan Injil Lukas 21:25-33; 

Diantara tanda-tanda kesudahan dunia (akhir zaman) yang disampaikan oleh Nabi Isa (Yesus) adalah (1) kamu akan mendengar deru perang dan kabar-kabar tentang perang atau akan terjadi perang antar bangsa; (2) akan terjadi resesi ekonomi, khususnya pangan; dan (3) akan terjadi gempa bumi yang dahsyat. 

Pada masa Nabi Musa, sebelum kekuasaan Fir’aun ditenggelamkan (dibinasakan) oleh Allah, Dia mengirimkan sepuluh tulah kepada masyarakat bangsa Mesir, seperti yang tertulis dalam Kitab Keluaran 7: 14 sampai Keluaran 11: 10. 

Peristiwa ini juga digambarkan dalam beberapa ayat AlQuran, misalnya dalam surat Al-A’rāf (7) ayat 130 dan 133 berikut ini: 

130 Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir´aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran. 

133 Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. 

Tanda-tanda akhir zaman ini adalah sesuatu yang juga menjadi Tradisi Tuhan Semesta Alam, sehingga akan terus berulang pada setiap zaman, yakni pada setiap datangnya misi risalah Allah yang dibawa oleh manusia pilihan-Nya. Tradisi ini dinyatakan dalam Al-Quran surat Al-Qashash (28) ayat 58-59 berikut ini: 

58 Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang telah Kami binasakan, yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya; maka itulah tempat kediaman mereka yang tiada di diami (lagi) sesudah mereka, kecuali sebahagian kecil. Dan Kami adalah Pewaris(nya). 

59 Dan tidak adalah Rabb-mu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman. 

Jika kita membaca situasi sosial politik kekuasaan bangsa-bangsa di dunia saat ini, maka kami meyakini bahwa tanda-tanda akhir zaman itu sedang terjadi dan akan memasuki puncaknya dalam beberapa tahun ke depan. 

Krisis sosial, krisis pangan (ekonomi), dan krisis politik akan terjadi merata di dunia ini, tidak terkecuali di bangsa yang kita cintai ini. Pertikaian politik yang didasari oleh kepentingan ekonomi bangsa-bangsa penguasa dunia, akan menjadi pemicu terjadinya perang dunia ketiga. 

Perang antar blok Barat dan blok Timur akan terjadi kembali, sebagaimana perang antara Romawi dan Persia di zaman nabi Muhammad. 

Tetapi semua itu adalah bagian dari skenario besar Allah dalam rangka menegakkan kembali kekuasaan Kerajaan Allah di muka bumi. Sesuatu yang akan dianugerahkan atau dikaruniakan kepada bangsa yang dipilih-Nya. 

Jika bangsa Nusantara ini ingin menjadi bangsa yang dianugerahkan kekuasaan dari Allah, maka syarat utamanya adalah bangsa ini harus menjadi bangsa yang betul-betul beriman hanya kepada-Nya dan sanggup untuk beramal saleh. 

Iman dan amal saleh adalah syarat utama untuk mendapatkan anugerah kekuasaan dari Dia Yang Maha Kuasa. Dan kami, (orang-orang yang yakin terhadap kehendak dan rancana Allah) sedang mempersiapkan diri untuk menanti datangnya anugerah dari langit tersebut, yakni menjadi penguasa di muka bumi, sebagaimana janji Allah dalam Al-Quran surat An-Nūr (24) ayat 55 berikut ini: 

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi,sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap mengabdi kepada-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. 

Demikianlah janji Allah yang bersifat pasti dan Dia tidak pernah lalai akan janji-Nya. Bukankah semua kekuasaan di muka bumi ini adalah dari Dia dan atas kehendak Dia?

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama