Islam Bukan Agama?

Islam Bukan Agama?
Sumber Gambar: https://asset.winnetnews.com 

Ketika seseorang melihat Din al-Islam sebagai agama, maka dia akan melihat Ke-islam-an seseorang dari tata ritual yang dilakukannya. Islam hanya dipandang sebats agama, yakni system penyembahan seorang hamba kepada Tuhannya, sebagai bekal untuk kehidupan akhirat, kehidupan setelah mati. Mereka tidak sadar bahwa Allah tidak perlu untuk disembah, tetapi yang diminta oleh-Nya adalah agar manusia kembali kepada fitrahnya yang sejati, yakni menjadi HAMBA Allah yang tunduk patuh hanya kepada kehendak dan perintah-Nya semata.

ISLAM BUKAN AGAMA?

Maka apakah mereka mencari din yang lain dari din Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun dengan terpaksa dan hanya kepada Allah lah mereka dikembalikan. Katakanlah kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri. Barang siapa mencari din selain din Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (din itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [QS. Ali-Imran (3): 83-85]

Sahabatku…

Dalam beberapa forum diskusi yang penulis pernah ikuti dan beberapa literatur yang pernah penulis baca, persoalan “Universalitas Islam” sering menjadi fokus bahasan dengan berbagai macam perdebatan di dalamnya. Kali ini penulis ingin mengajak Anda merenungi satu hal dasar terkait Islam itu sendiri, yakni Islam sebagai Din Allah. Apakah Din al-Islam itu hanya sebuah agama atau sesuatu yang jauh lebih luas dari sebatas agama? Ada yang mengatakan Islam itu sudah paripurna da nada juga yang berpendapat berbeda. Kenapa hal ini menjadi penting untuk direnungi? Karena, cara pandang yang keliru terhadap Din al-islam akan berakibat pada sikap hidup seseorang terhadap islam, baik secara pribadi, sosial maupun dalam hal berbangsa dan bernegara (politik).


Ada lagi beberapa doktrin yang sering terdengar di tengah masyarakat tentang islam. Di antaranya, islam adalah agama yang dibawah oleh Nabi Muhammad dan menjadi agama terakhir. Sebelum beliau, Allah mengutus Rasul-Nya dengan agama yang berbeda-beda. Agama Islam adalah agama terakhir yang paling sempurna dibandingkan dengan agama-agama sebelumnya, dan seterusnya.

Sebelum kita merenungi tentang Din al-Islam sebagai suatu agama atau lebih dari sebatas agama (Islam ≠ agama), ada baiknya kita renungi kembali doktrin spiritual di atas. Apakah pemahaman tersebut benar atau salah? Apakah pemahaman tersebut memiliki dasar wahyu atau hanya sebatas pemahaman Ashabiyah (fanatisme) yang turun temurun? 
Seluruh Nabi adalah Muslim

Akibat memahami bahwa din (sering diartikan agama) yang dibawa oleh masing-masing Rasul Allah adalah berbeda, maka ummat manusia hidup dalam kotak-kotak keyakinan (agama) tersendiri dan menilai mereka yang berbeda keyakinan adalah sesat. Masing-masing generasi saling menutup diri untuk bedialog karena merasa agama mereka berbeda dan tidak dapat disatukan ataupun minimal dicari titik temunya dengan keyakinan atau agama lainnya.

Kata “muslim” adalah kata bahasa Arab yang berbentuk isim fa’il (keterangan pelaku) dari kata kerja aslama-yuslimu-islaman yang berarti patuh; tunduk; dan pasrah. Jadi, “muslim” secara bahasa bararti setiap makhluk yang tunduk patuh atau berserah diri kepada Din (system hukum) Allah, Rabb semesta alam. Sehingga secara bahasa dan kewahyuan, predikat “muslim” dapat disematkan kepada siapa saja dan kepada makhluk apa saja yang aslama (tunduk patuh) kepada system hukum-Nya.


Lalu bagaimana dengan istilah “Din al-islam” itu sandiri? Kata “din” juga adalah kata bahasa Arab yang secara bahasa berarti: (1) Kehormatan Pemerintah, Negara dan kekuasaan, (2) Ketundukan, kepatuhan, pengabdian, dan penyerahan: (3) Memperhitungkan, mengadili, memberi hukuman atas perbuatan-perbuatan. Jika dikatakan, “yaum al-din” berarti hari perhitungan atau hari pembalasan atas perbuatan seseorang, dan jika dikatakan “qaum din” berarti kaum yang berserah diri dan taat (Abu al-A’la Maududi, 1997:94). 

Sedangkan secara etimologi beberapa ulama mendefinisikan “din” sebagai peraturan ilahi yang mengantarkan orang-orang yang berakal sehat, atas kehendak mereka sendiri menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Demikian pendapat beberapa ulama. Namun jika merujuk beberapa ayat Al-Qur’an, maka kata “din” tidak hanya mengatur tata aturan bagi ummat manusia, tetapi juga tata aturan bagi makhluk ciptaan-Nya. Sehingga dalam arti luas, “din” adalah sistem hukum ciptaan Allah dalam mengatur hidup dan kehidupan segala makhluk yang ada di alam semesta.

Adapun kata “islam” secara bahasa adalah bentuk kata benda dari kata “aslama” yang berarti ketundukan, kepatuhan, dan kepasrahan. Islam adalah sebutan dari Din Allah yang memuat seperangkat sistem dan aturan hukum yang dijadikan sebagai landasan pengabdian setiap makhluk kepada-Nya. Sehingga, Din al-Islam berarti sebuah sistem hukum yang mengatur kepatuhan setiap makhluk kepada Allah, Rabb Semesta Alam. Jika dkhususkan kepada manusia, maka Din al-Islam adalah sistem kepatuhan dan ketaatan manusia kepada hukum Allah yang diwahyukan kepada setiap Nabi dan Rasul yang diutus-Nya pada setiap bangsa dan zaman yang berbeda-beda sepanjang sejarah paradaban manusia, sejak dahulu, kini, dan masa datang, yang tidak pernah berubah dan berganti.

Mari cerdasi dan renungi beberapa ayat Allah di bawah ini: 
· 
Al-Qur’an surat Ali-Imran (3) ayat 83-85:

Maka mengapa mereka mencari din yang lain dari din Allah, padahal kepada-Nya lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan? Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.” Barang siapa mencari din selain din Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (din itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

Al-Qur’an sirat Ar-Rum (30) ayat 30:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada din Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) din yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Beberapa ayat di atas setidaknya menegaskan tiga hal dasar. Pertama, bahwa Din Al-Islam adalah Din Allah yang bersifat universal dan mengatur seluruh seluruh makhluk dan mengatur seluruh makhluk ciptaan Allah. Sehingga predikat “muslim” bukanlah predikat eksklusif bagi manusia tertentu, tetapi untuk semua makhluk yang tunduk patuh pada sistem hukum (din)-Nya.

Kedua, bahwa Din-al-Islam adalah satu-satunya din yang Allah berikan kepada semua Nabi dan Rasul-Nya di sepanjang zaman. Oleh karenanya, orang-orang yang beriman tidak boleh membeda-bedakan di antara mereka dan selalu siap untuk bersikap “muslim”. Siapa pun yang tidak menjadikan Din Al-Islam sebagai sistem hukumnya di dunia, maka dia akan menjadi manusia yang merugi, manusia yang jauh dari hidayah dan ni’mat Allah.

Ketiga, bahwa Din al-Islam adalah din fitrah bagi setiap manusia kapanpun dan di mana pun dia berada, yang tidak pernah berubah dan berganti. Sehingga tidaklah benar atau keliru jika dikatakan bahwa Dia memberikan din yang berbeda-beda kepada setiap Nabi dan rasul-Nya.


Semua Nabi dan Rasul Allah adalah seorang muslim yang menjadikan Din al-Islam sebagai sitem hukum yang mengatur hidup dan kehidupan mereka. Tidak ada Nabi dan Rasul Allah yang tidak Ber-Din al-Islam atau muslim. Coba perhatikan penegasan Allah dalam beberapa ayat di bawah ini :

a. Nabi Ibrahim dan anak cucunya adalah orang-orang muslim (muslimun; jamak dari kata muslim) seperti ditegaskan dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 128 dan ayat 131-133:

128 Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuhkepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima taubat, lagi Maha Penyayang.
131 Ketika Rabb nya berfirman kepadanya “Tunduk Patuhlah!” Ibrahim menjawab, “Aku Tunduk Patuh kepada Rabb semesta alam.”
132 Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata) “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih din ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim (Tunduk Patuh).”
133 Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu abdi sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan mengabdi Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) tunduk patuh kepada-Nya.”

b. Predikat “muslim” kepada kaum Nabi Luth dalam surat Adz-Dzariyat (51) ayat 35-36:

35 Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. 
36 Dan Kami tidak mendapati negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang yang berserah diri.

c. Pengakuan Nabi Yusuf putra Nabi Ya’qub dalam doanya untuk menjadi seorang muslim selama hidupnya, sepeti tertulis dalam surat Yusuf (12) ayat 101:

Ya Rabbku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian tabir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim (tunduk patuh) dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh.

d. Penegasan Nabi Musa kepada kaumnya untuk menjadi muslim yang sejati, seperti tertuang dalam surat Yunus (10) ayat 84:

Berkata Musa, “Hai kaumku! jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.”


e. Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis dalam surat An-Naml (27) ayat 42:

Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: “Serupa inikah singgasanamu?” Dia menjawab, “Seakan-akan singasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.”

f. Penamaan “muslim” juga diberikan Allah kepada Nabi Isa dan para pengikutnya, seperti tertera dalam surat Ali Imran (3) ayat 52 dan surah Al-Maidah (5) ayat 111:

Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil), berkatalah dia, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan din) Allah?” Para Hawariyyin (sahabat-sahabat setianya) menjawab, “Kamilah penolong-penolong (din) Allah. kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.

Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia, “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku.” Mereka menjawab, “Kami telah beriman, dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang tunduk patuh (kepada seruanmu).”

g. Penamaan “muslim” sudah ada sejak zaman dahulu dan juga pada generasi Nabi Muhammad sama seperti ditegaskan dalam surat Al-Hajj (22) ayat 78

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu, dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam din suatu kesempitan. (Ikutilah) millah orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur'an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka dirikanlah shalat; dan tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu; maka Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik Penolong.

Dari penjelasan dan penegasan beberapa firman Allah di atas, maka gugurlah doktrin atau pemahaman yang mengatakan, bahwa islam adalah din terakhir dan paling sempurna yang dibawah oleh Nabi Muhammad saw. Yang berbeda dengan din para nabi dan Rasul Allah sebelumnya. Begitu pula dengan pemahaman yang mengatakan, bahwa ummat muslim adalah ummat yang beriman kepada Rasulullah Muhammad saja, selain itu adalah non-muslim.

Demikian pula doktrin yang mengatakan bahwa setiap Rasul Allah membawa din atau ajaran yang baru dan berbeda dengan apa yang dibawah oleh para Rasul Allah sebelumnya. Termasuk dengan syariat (hukum) yang dikerjakan oleh mereka adalah syariat yang berbeda antara satu Rasul dengan lainnya.

Secara prinsip, hukum Allah adalah satu sistem aturan hukum yang di dalamnya terhimpun seluruh aspek yang mengatur kehidupan manusia, baik hubungannya antara sesama manusia dan hubungannya dengan alam sekitarnya. Hukum Allah adalah sesuatu yang haq dan fitrah, sehingga dia tidak pernah mengalami perubahan, hanya karena berubahnya tempat dan zaman. Meskipun Dia mengutus Rasul-Nya untuk lokasi dan zaman yang berbeda, namun aturan hukum Allah berasal dari Yang Maha Benar dan Maha Adil, maka sifatnya mutlak benar dan adil, dia tidak boleh berubah dan tidak boleh diubah (diamandemen). 

Keberadaan hukum Allah dalam Kitab Suci (Taurat Musa, Injil Isa, dan Al-Qur’an) yang disyariatkan-Nya harus di pahami sebagai satu mata rantai misi risalah Allah yang berkesinambungan dan tak perlu dipertentangkan. Renungan firman Allah dalam surat Asy-Syura (42) ayat 13 berikut ini :

Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang din apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu Tegakkanlah din dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik din yang kamu seru kepada mereka. Allah menarik kepada din itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada din-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).

Islam Bukan Agama ?

Dari penjelasan sebelumnya, sudah memberikan gambaran tentang apa yang dimaksud dengan “Din al-Islam”. Dalam berbagai kitab terjemahan Al-Quran, kata “din” paling sering diterjemahkan dengan kata”agama”. Padahal agama adalah kata yang berasal dari bahasa sansekerta yang berarti, a = tidak dan gama = kacau. Jadi agama adalah sesuatu yang tidak kacau. Hal ini dipahami, karena mereka yang beragama, hidup sesuai tata aturan, maka pasti akan hidup teratur, tidak kacau.

Diakui bahwa belum ada satu definisi yang disepakati oleh semua kalangan tentang pengertian “agama”. Kamus Besar Bahasa Indonesia menulis, agama adalah ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dengan manusia serta lingkungannya. Dengan pengertian ini, maka semua yang disebut agama, termasuk islam adalah sama dan sederajat. Untuk itu para pemeluknya harus saling menghormati dan toleran. 

Inilah pandangan mayoritas manusia saat ini terhadap “Din al-Islam”, yang melihatnya sebagai sebuah agama yang hanya mengurusi persoalan keimanan dan peribadatan. Kalaupun berbicara soal hubungan dengan sesama manusia, hanya sebatas persoalan moral dan muamalah (hubungan sosial) di bidang umum, seperti berbuat baik dan urusan halal haram. Bahkan dalam sebuah Negara sekuler, agama hanyalah salah satu bagian dari berbagai departemen yang mengurusi persoalan keagamaan semata, bahkan agama bukanlah termasuk urusan Negara. Masalah yang termasuk dalam lingkup agama, seperti peribadatan (tata ritual), kerukunan antar ummat beragama, pendirian rumah ibadah, penyelenggaraan ibadah haji dan umrah, serta hari-hari besar ummat beragama.

Dari beberapa pengertian “agama” yang dikemukakan oleh para ahli dengan sudut pandang masing-masing, mereka memberi beberapa ciri agama, yaitu: 1) memiliki tata ritual; 2) memiliki doa, nyanyian, tarian, sesaji, dan kurban; 3) Meyakini adanya kekuatan gaib yang supernatural; dan 4) ada figur tertentu yang dipercaya dapat berhubungan dengan makhluk atau kekuatan gaib. Dari ciri-ciri tersebut, kemudian para ahli membagi agama menjadi agama bumi dan agama langit (samawi) atau terkadang disebut juga dengan agama wahyu. 

Islam dikategorikan dengan agama samawi, seperti halnya dengan agama Yahudi dan Kristen. Itulah sebabnya, kelompok sekuler dan pluralistik menyamakan posisi Din al-Islam dengan agama-agama lainnya. Padahal secara historis-teologis, Din al-Islam adalah sesuatu yang murni ciptaan Allah, sedangkan agama-agama samawi adalah hasil dari ciptaan dan campur tangan manusia. Untuk itu tidak tepat jika “Din al-Islam” dimaknai dengan “agama islam”.

Jika merujuk pada Kitab Al-Quran, maka sudah sangat jelas dan tegas bahwa Din al-Islam adalah suatu sistem hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, bukan hanya sebatas masalah keyakinan dan peribadatan (ibadah ritual) semata. Din al-Islam mengatur semua aspek kehidupan manusia, mulai dari masalah moralitas dan hukum, hingga persoalan politik, sosial, dan ekonomi. Mempersempit makna Din al-Islam menjadi agama islam, maka berarti mengubah esensi dan fungsi dari din ciptaan Allah. 

Akibatnya, manusia akan berfikir sekuler, memisahkan persoalan manusia dengan Allah (agama) dengan persoalan hubungan manusia dengan manusia lainnya (sosial politik). Agama dan negara dipandang sebagai 2 hal yang berbeda. Agama tidak bicara soal negara, sebaliknya agama harus tunduk pada negara. Negaralah yang mengatur persoalan agama. Baginya, Allah hanya berkuasa pada kehidupan alam semesta (Raja alam semesta) dan kehidupan setelah mati (akhirat), namun tidak berkuasa pada kehidupan sosial politik ummat manusia di dunia. Akhirnya, yang dipatuhi dan ditaati oleh manusia sekuler adalah manusia-manusia lainnya yang berposisi (dan memosisikan dirinya) sebagai penguasa, pemimpin, raja, presiden, atau tuan manusia. Inilah sesungguhnya model kehidupan musyrik.

Mereka berpaham sekuler dan pluralistic akan melihat Din al-Islam sebats agama, sehinggan Din al-Islam berada dan tunduk di bawah ideologi suatu negara bangsa. Din al-Islam dan penganutnya harus tunduk dan menyesuaikan diri dengan ideologi negara yang telah menjadi kesepakatan bersama rakyat bangsa. Mereka sangat anti dan fobia terhadap paham-paham Islam yang anti sekuler dan pluralistik, padahal Din al-Islam selalu berprinsip tauhid dengan ajarannya yang universal. Din al-Islam adalah milik Allah, bukan milik sekelompok manusia atau milik suatu negara bangsa. Sudah seharusnya dia berada di atas segala ideologi bangsa-bangsa dunia buatan manusia. Sudah menjadi fitrahnya, jika ummat manusia diatur oleh Din al-Islam milik Allah, bukan sebaliknya.

Di pihak lain, beberapa kelompok manusia yang mengaku sebagai muslim, namun seringkali melakukan tindakan yang melanggar hukum penguasa dengan mengatasnamakan “agama islam”. Predikat Islam fundamentalis, islam ekstrem, atau islam radikal seringkali menjadi label bagi kelompok mereka. Akibatnya, kelompok agamais dan sekuler semakin anati dan fobia kepada (gerakan) Islam. Padahal mereka yang dikatakan ekstrimis atau radikal hanya menjalankan pemahaman dan keyakinan agamanya, suatu sikap yang sepatutnya dimiliki oleh setiap orang yang yakin dengan ideologinya. 

Namun demikian, tindakan mereka adalah sesuatu yang melanggar hukum penguasa dan perbuatan yang salah kaprah atau gagal paham terhadap Din al –Islam. Salah dalam memahami ayat-ayat Al-Quran dan salah dalam menerapkan kontekstualisasi ayat-ayat tersebut. Pada kondisi seperti apa ayat-ayat tersebut diturunkan dan dilaksanakan oleh Rasulullah Muhammad. Mereka selalu berbicara soal “merebut kekuasaan” bangsa-bangsa kafir, padahal masalah kekuasaaan adalah hak prerogatif Allah. Kepada siapa kekuasaan itu diberikan dan kekuasaan mana yang akan dicabut-Nya adalah hak Dia. Perhatikan firman Allah dalam surat Ali-Imran (3) ayat 26

Katakanlah, “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Sahabatku…

Dengan demikian, dua hal mendasar yang harus segera diluruskan dari paham atau doktrin spiritual saat ini adalah, pertama: meluruskan makna “Din al-Islam” sebagai suatu system hukum Allah yang mengatur hidup dan kehidupan setiap makhluk di alam semesta, khususnya ummat manusia, baik hubungannya dengan Sang Pencipta, dengan sesama manusia, dan dengan alam sekitarnya. Din al-Islam adalah sistem hukum Allah yang mengatur hidup dan kehidupan setiap makhluk di alam semesta, khususnya ummat manusia. Untuk itu, Din al-Islam (bukan agama Islam) mengatur seluruh aspek kehidupan manusia di muka bumi, meski tidak seluruhnya diatur secara detil dalam Kitab Al-Quran.

Bagi orang-orang cerdas (ulul albab) akan dengan mudah manangkap dan memahami isyarat atau simbol-simbol wahyu dalam Al-Quran, dan dapat melihat betapa lengkapnya ajaran dan aturan yang telah Allah wahyukan dan syariatkan kepada para Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Tegasnya, Din al-Islam telah mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik secara pribadi, keluarga, dan sosial. 

Mulai dari hukum aqiqah, syariat, sosial, ekonomi, hingga persoalan politik (kekuasaan). Jika hari ini, banyak ahli yang mengatakan bahwa Din al-Islam tidak mengatur masalah kekuasaan politik (khilafah), itu karena mereka tela diracuni oleh pemikiran atau paham sekuler pluralistic, sehingga tidak mampu memahami firman (cahaya) Al-Quran secara benar dan melihat sejarah peradaban Khilafah Allah (sejak era Rasulullah Muhammad di Madinah, hingga Khilafah Abbasiyah di Bagdad), yang menjadi penguasa dunia sekitar 700 tahun lamanya.

Kedua, meluruskan pemahaman dan penafsiran para kelompok Islam radikal dan fundamentalis akan ayat-ayat Allah untuk dikontektualisasikan dalam masa kini, sehingga tidak mencederai kesucian Din al-Islam dan sekaligus tetap melaksanakan perintah Allah dengan benar dan sempurna. Bagaimanapun, semua ayat-ayat hukum yang bersifat “perintah” diturunkan (diwahyukan) Allah kepada Rasulullah Muhammad dalam situasi dan kondisi sosial politik tertentu. Sebagai contoh, Allah tidak akan memberi izin kepada orang-orang beriman untuk memerangi penguasa kafir-musyrik, jika mereka tidak diperangi dan sudah terdesak oleh situasi yang ada saat itu. Sehingga perang adalah jalan terbaik untuk mempertahankan keyakinan dan membela diri mereka, sekaligus menjadi alat Allah untuk membinasakan kebatilan dan kezaliman.

Akhirnya, masih banyak hal yang harus direnungi dan kritisi dari paham spiritual yang ada saat ini. Kiranya renungan dasar ini akan menjadi pondasi untuk melakukan perenungan selanjutnya. Semoga!

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama