Interpretasi Eskatologi: Pandangan Agama-Agama Ibrahimi

Pandangan Agama-Agama Ibrahimi
credit foto: qureta.com


Salah satu perdebatan penting dalam agama Ibrahimi adalah soal Eskatologi (akhir zaman). Faktor penyebabnya karena kitab suci tidak berbicara masalah waktu dalam arti kuantitatif (hari, bulan dan tahun) melainkan dalam arti kualitatif (misalnya penyebutan istilah waktu untuk lahir, waktu untuk menanam, waktu untuk damai, waktu penderitaan, waktu penghakiman, waktu kebangkitan dan sebagainya). 

Hal inilah yang membuat mayoritas penganut agama tidak dapat memahami makna eskatologi yang tertera dalam kitab suci. Apakah saat Yesus mewartakan soal Injil, yakni kabar baik akan waktu datangnya Kerajaan Allah yang sudah dekat sebagai masa kini (di masa hidupnya) atau masa datang? 

Apakah saat Muhammad berbicara soal dekatnya hari qiyamahdalam makna kekinian (di masa hidupnya) atau masa datang yang entah kapan tibanya? 

Eskatologi berasal dari susunan kata Bahasa Yunani, eschatosyang berarti “terakhir” dan logi yang berarti “ilmu”. Jadi, Eskatologi adalah suatu ilmu tentang akhir zaman, yaitu bagian dari teologi dan filsafat yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa terakhir dalam sejarah dunia, atau nasib akhir dari seluruh ummat manusia, yang biasanya dirujuk sebagai akhir dunia (kiamat dunia).


Dalam pengertian yang lebih luas, eskatologi dapat mencakup konsep-konsep terakhir seperti konsep Mesias atau zaman Mesianik (akhir zaman). 
Istilah lain eskatologi dalam bahasa Yunani yang juga sering digunakan adalah kata (aeon); “abad” (konotasi “zaman”), dapat diterjemahkan sebagai akhir suatu masa (atau periode sejarah) dan bukan akhir dunia.

Pembedaan waktu ini juga mempunyai signifikansi teologis, sementara akhir zaman dalam tradisi-tradisi mistis berkaitan dengan kelepasan dari penjara realitas yang ada, sebagian agama percaya dan mengkuatirkannya sebagai penghacuran fisik dari planet bumi (atau semua makhluk hidup yang ada) sementara umat manusia bertahan dalam suatu bentuk yang baru, sehingga mengakhiri ‘’zaman” keberadaan yang ada sekarang. 

Misalnya, menurut keyakinan Ibrani kuno, kehidupan berlangsung dalam garis linear dan bukan siklus; dunia dimulai dengan Allah dan terus menerus menuju kepada tujuan penciptaan yang telah ditetapkan Allah.

Pandangan Kaum Yahudi 

Dalam eskatologi Yahudi, akhir zaman biasanya disebut Akhir hari-hari (aharit hayamim), sebuah ungkapan yang beberapa kali muncul dalam Tanakh. Meskipun gagasan tentang bencana mesianik memiliki hal yang menonjol dalam pemikiran Yahudi. 

Gagasan ini bukanlah suatu proses yang tak dapat berubah dan berdiri sendiri, melainkan ditemukan bersama-sama dengan gagasan tentang penebusan tanpa penderitaan. Gambaran ini pula kadang-kadang dilihat sebagai dua kemungkinan yang berbeda untuk masa depan Israel.

Kaum Yahudi mengimani bahwa eskatologi akan didahului dengan kejadian apokaliptik, yaitu kejadian-kejadian penuh penderitaan dan bencana (fisik) yang akan melululantahkan tatanan dunia yang lama. Hal ini didasari dari beberapa ayat dalam Alkitab Perjanjian Lama.

Misalnya dalam kitab (Ulangan 4:29-39, Yesaya 2:1-5). Dan juga peristiwa apokaliptik pada hari-hari terakhir (akhir zaman), dapat pula ditemukan dalam kitab Mikha 4:1-5.

Sedangkan dalam eskatologi Kristen banyak merujuk pada alkitab perjanjian baru. Tema Eskatologi dalam alkitab Perjanjian Baru juga merefleksikan tema “penderitaan” yang sama dalam Alkitab Perjanjian Lama. 

Dalam Alkitab Perjanjian Baru, Yesus merujuknya dengan istilah “penderitaan besar”, penyiksaan dan hari-hari pembalasan.” Sebagai contoh pernyataan Nubuat akhir zaman tentang penderitaan ini dapat dilihat dalam injil (Matius 24: 15-22).

Nubuwah Yesus Tentang Akhir Zaman 

Untuk memahami perjalanan hidup Yesus dari sejak awal sampai akhir hidupnya di dalam dia menjalankan tugas mesianiknya. Ia pernah bernubuwah tentang jalannya sejarah sampai “akhir zaman”. Kata “akhir zaman” selalu ditafsirkan orang dengan “zaman kehidupan umat manusia“ sampai pada hari kiamat, yaitu hari kehancuran alam dunia.


Jika kita perhatikan pernyataan Yesus tentang “akhir zaman” yang dimaksud bukan dalam makna yang demikian. Kata “zaman” menunjukkan pada sejarah peradaban suatu umat atau bangsa. Tidak ada suatu bangsa yang bersifat abadi. Setiap bangsa atau umat pasti mempunyai “ajal”, yaitu saat kepunahan atau kematiannya. Ini merupakan kodrat atau ketetapan hukum Tuhan. 

Dalam hal umat Tuhan, terbagi atas dua macam umat, yaitu umat yang beriman kepada Tuhan dan umat atau bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan. Kedua macam umat ini silih berganti menguasai dunia. Ketika umat yang bertuhan akan muncul untuk menjadi pemimpin bangsa-bangsa, didahului oleh kehancuran zaman bangsa-bangsa.

Sebaliknya, ketika zaman umat Tuhan akan berakhir pasti diawali dengan bencana yang akan menimpa. Kehadiran Yesus sebagai Mesias berada pada akhir zaman kekuasaan bangsa-bangsa. 

Zaman lama akan berganti dengan zaman baru. Zaman kerajaan bathil akan berganti dengan zaman kerajaan Allah. Atas dasar pemahaman ini, Yesus pernah berkhotbah tentang akhir zaman (Eskatologi). Perhatikan, (Matius 24 ayat 1-8).

Paradigma Alquran Tentang Eskatologi

Berbeda dengan Taurat dan Injil, dalam Alquran, banyak ayat yang bercerita tentang alam, yang sebenarnya merupakan bahasa pengantar dari Allah agar manusia ingin mencermati tentang adanya hukum kehidupan di alam yang terikat dengan dengan diri dan masyarakat manusia dari zaman ke zaman.

Sebagai bahasa pengantar, ayat-ayat alam itu sendiri sesungguhnya menyimpan makna tersirat dibalik tekstual ayatnya. Allah ingin mengantarkan manusia kepada pemahaman sesungguhnya dengan memakai ayat-ayat alam yang inderawi, supaya lebih mudah untuk diingat dan dipahami. 

Seperti kata “Air” sebagai simbol dari “wahyu” yang dapat menghidupkan qalbu manusia, sebagaimana air yang dapat menghidupkan tanah yang tandus. Istilah “langit” (yang berada diatas) sebagai simbol dari “pemimpin” dan istilah Bumi (yang berada dibawah) sebagai lambang dari “umat; rakyat “ yang mesti dilindungi oleh pemimpinnya. 

Mayortitas ahli hanya membahas sunnatullah (Tradisi Tuhan) pada kehidupan alam semesta, tetapi melupakan atau mengabaikan sunnatullah yang berlaku pada kehidupan ummat manusia. Salah satu prinsip dalam sunnatullah tentang penciptaan adalah “prisnsip kesepasangan”. 

Hal ini mestinya dicerdasi bahwa dalam kehidupan manusia dengan prinsip azwaj; kesepasangan, maka terjadi hukum perjalanan kehidupan umat manusia dari zaman ke zaman, seperti halnya hukum pada alam, seperti silih bergantinya malam dan siang secara terus menerus. 

Berdasarkan hukum kehidupan, hidup ini berjalan diatas blue print Allah. Contoh konkrit, tentang nasib kehidupan Bani Israel. Di dalam kitab-kitab Allah diceritakan pula tentang Adam, Nuh, Ibrahim, dan seterusnya. 

Kehidupan ini selalu berkaitan dengan kehidupan bangsa (ummat), bukan dengan individu-individu; sekiranya berkaitan dengan individu, tentu keberadaan individu-individu suatu bangsa akan tercabut secara perorangan, bukan secara komunal dan serempak. 

Alquran mengingatkan, “setiap umat masyarakat akan diseru ke catatan amalnya’’ (Al-Jatsiyah 28). Dari ayat ini kita tahu bahwa bukan hanya individu yang ditentukan oleh catatan tertentu perbuatannya sendiri, tetapi masyarakat bangsa juga ditentukan oleh catatan-catatan perbuatannya sendiri, sebab ia juga seperti hidup yang sadar, bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya, sebab ia bebas berkehendak dan bertindak melalui sebuah sistem kekuasannya. 

Frameperedaran peradaban dunia ini begitu jelas. Di atas dasar prinsip inilah perwujudan dan garis hidup umat manusia seharusnya digambarkan. Garis hidup itu adalah waktu yang terus berjalan dan tidak pernah berhenti atau kembali, sehingga manusia dapat saja merugi dalam perjalanan waktu tersebut. 

Bahasa wahyunya, “Semua manusia merugi, illa (kecuali) orang yang beriman dan beramal shaleh, yaitu orang-orang yang selalu berkumpul bertukar pikiran, berbagi informasi wahyu, dan saling menasehati dalam masalah kesabaran”.

Pandangan Para Cendikiawan Muslim

Setiap generasi memiliki batas waktu (akhir zaman; eskatologi) kehidupannya. Misalnya para ulama menyatakan bahwa umur suksesi suatu generasi 25 sampai 35 tahun. 

Ibnu Khaldun, sosiolog muslim ternama mengatakan, umur sebuah negara itu sama dengan umur seorang manusia, yaitu umumnya seratus dua puluh tahun, yang dibagi kedalam tiga generasi dimana masing-masing generasi berumur 40 tahun. 

Al-Ghazali berpendapat bahwa umur satu masa adalah 23 tahun. Alquran sendiri memberikan banyak informasi seputar berapa lama umur sebuah generasi, mulai dari empat puluh tahun, seratus tahun, tujuh ratus tahun, hingga seribu tahun. 

Akhirnya, bila kita membaca dan mencerdasi beberapa tanda-tanda zaman yang dinubuatkan dalam kitab suci dan dikaitkan dengan kondisi dunia saat ini yang dilanda krisis global dan diperparah dengan wabah Corona serta melihatnya dari frame sunnatullah, semakin menambah keyakinan akan datangnya zaman baru. 

Meminjam bahasa Alquran, “iqtarabati as-sa ah” saat atau hari datangnya ‘’Pembalasan” sudah dekat. Suksesi kekuasaan peradaban dunia sudah dekat. Bilakah datangnya? Hanya Allah saja yang tahu.
Penulis: Andi Zulfitriadi

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama