Kabar Gembira Isa Ibn Maryam: Aksentuasi Sang Pembebas


Kabar Gembira Isa Ibn Maryam
credit foto: titikdua.net

Isa putera Maryam berdoa: "Ya Tuhan Kami turunkanlah kiranya kepada Kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi ‘’Hari Raya’’ bagi Kami Yaitu orang-orang yang bersama Kami dan yang datang sesudah Kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rzekilah Kami, dan Engkaulah pemberi rezki yang paling Utama". (Al-Maidah 114)

Selama kurun waktu keterpurukan, bani Israel menunjukkan penyesalan yang sungguh-sunguh dan bertekad untuk kembali menjadi komunitas yang tauhid. Mereka berjuang dengan pola para nabi dan rasul untuk menegakkan kembali bangunan Tuhan yang sudah runtuh.

Sebagaimana layaknya pasangan pengantin, akhirnya Tuhan mau kembali rujuk dengan bani Israel, Tuhan mau memaafkan mereka. Tetapi sebelumnya umat itu harus berjanji bahwa tidak akan mengambil ilah-ilah lain dan taat kepada aturan Tuhan. Janji itu yang hari ini dikenal dengan Perjanjian Baru.


Mengapa harus ada perjanjian yang baru? Karena perjanjian yang lama sudah dikhianati, sudah dirusak. Seluruh umat dan pemimpin yang telah terkait dengan perjanjian lama bagaikan sebuah baju lama yang sudah usang, tidak layak untuk dipakai lagi. Baju yang lama tidak bisa ditambal dengan kain yang baru, karena baju yang lama akan hancur karenanya.

Semua bentuk organisasi keagamaan yang masih ‘’mengatas namakan Musa’’ sudah tidak relevan lagi bagi pemulihan Yerusalem untuk kedua kalinya. Bani Israel harus membuat perjanjian baru kepada Tuhan untuk mendapatkan kepercayaan-Nya. Barulah nanti bani Israel diangkat kembali dari kehinaan menuju kemuliaan sebagai mandataris Tuhan. 

Caranya adalah, dengan membangkitkan seorang anak manusia yang masih menjaga kebersihan iman dari pengaruh ilah bangsa-bangsa untuk menjadi utusan-Nya. Menjadi juru bicara-Nya kepada umat manusia, karena Tuhan akan ‘’berbicara’’ hanya melalui seorang utusan. 

Ia bernama Yesus Kristus sang juru selamat. Kata Kristus berasal dari bahasa Yunani kristos, merupakan terjemahan dari bahasa Ibrani yaitu Masyiakhatau Mesias. Sedangkan dalam bahasa arab dikenal dengan nama Al-Masih, artinya ‘’yang diurapi Tuhan’’.

Isa Dalam Kaca Mata Alquran

Pribadi Yesus atau yang oleh Alquran disebut dengan Isa Al-Masih, adalah manusia yang begitu banyak dibicarakan orang. Sejak kelahirannya dua ribu tahun yang lalu sampai dengan sekarang ini, pembicaraan tentang dirinya tidak pernah surut. Namanya dimuliakan oleh lebih dari dua milyar orang Nasrani dan satu milyar ummat Islam.

Setiap minggu namanya selalu dikumandangkan dalam nyanyian pujian di gereja-gereja Katholik dan Protestan serta orang-orang yang percaya padanya walaupun dengan visi-misi yang berbeda. Bahkan didalam kitab Taurat Yesus adalah orang yang dinubuahkan oleh Yeremia, Yesaya dan kitab para nabi dimasa itu. 

Didalam Alquran, namanya banyak disebut. Bahkan keluarganya, dijadikan nama tersendiri dari salah satu surat, yaitu surat ke-3; ‘’Ali Imran’’. Demikian pula dengan ibunya, diabadikan sebagai surat ke-19 ‘’Maryam’’.

Isa Al-Masih begitu dimuliakan didalam Alquran; ‘’Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar,’’.(Maryam 34). ‘’Maryam digembirakan dengan kelahiran Isa Al-Masih’’.(Ali Imran 45).’’Dan Allah mengajarkan kepadanya Al-Kitab, hikmah, Taurat dan Injil’’.(Ali Imran 48).

Walaupun kitab suci Alquran memuliakan Yesus, tetapi mayoritas ummat Islam sangat alergi terhadap nama ‘’Yesus’’, yang sesungguhnya dalam dialek Arab disebut dengan ‘’Isa’’. Anehnya lagi walaupun Al-Quran sendiri meyatakan dia, Isa Putra Maryam adalah orang yang mendapat pengajaran langsung dari Allah berupa Al-Kitab, Al-Hikmah dan Injil, tetapi dia tidak dianggap sebagai seorang Muslim dan demikian pula dengan ummat-ummat yang mengikutinya.

Nubuatan Yesaya

Kebangkitan bani Israel yang kedua ini telah dinubuatkan pada kitab Yesaya: "Sebab Tuhan akan menyayangi Yakub dan akan memilih Israel sekali lagi’’, (Yesaya 14: 1).

Yesaya adalah seorang nabi yang hidup setelah zaman Rehabeam, yaitu dikala bani Israel telah memberikan ruang kepada ilah bangsa-bangsa bagi tujuan hidup dengan menerima Yerobeam yang memimpin 10 suku bani Israel sebagai pemimpin tandingan. 


Pada masa itu moralitas bani Israil sudah sedemikian hancurnya, persaingan politik yang jahat sudah sering terjadi, kejujuran sudah menjadi barang langka dengan semakin terbiasanya tradisi suap- menyuap. Kemunafikan adalah tameng bagi tercapainya ambisi materialistik, bahkan ajaran- ajaran para nabi diperalat guna mendapat kepuasan duniawi. 

Begitu hebatnya kehancuran akhlak yang terjadi pada jaman itu. Tetapi nubuat-nubuat yang disampaikan Yesaya tetap memberitahukan akan kedatangan sang Mesiassebagai pembebas bagi bani Israil yang ketika itu sudah tidak mengetahui kemana jalan pulang. 

Nubuat Yesaya mengungkapkan kebangkitan Yerusalem yang kedua dengan sangat tepat dan teliti. Ini menandakan bahwa setiap kemunculan seorang utusan yang meniti tradisi Tuhan pasti telah diberitakan pada masa sebelumnya dan tertulis dalam kitab suci. Oleh karena itu di dalam banyak pekabaran, Yesus sering mengutip kitab-kitab Yesaya yang memang memberitakan kedatangan Mesias yang digenapi oleh dirinya. 

Batu Yang Terungkit

Pada masa pembuangan Babel (setelah jaman Yesaya) yaitu dibawah kekuasaan raja Nebucadnezar, ada seorang nabi yang pandai dalam membaca takwil mimpi raja Nebucadnezar. Raja sedang gelisah karena tidak ada satu ahli nujum-pun yang dapat membaca mimpi dan maknanya. Ia adalah nabi Daniel yang mampu membaca mimpi Nebucadnezar beserta takwilnya. Perhatikan kitab (Daniel Pasal 2 ayat 31-43).

Patung yang diuraikan oleh Daniel adalah empat bangsa yang menjajah bani Israil, dimana kepala dari emas adalah kerajaan Babilonia (Nebucadnezar). Dada dan lengan dari perak adalah kerajaan Media-Persia (Koresh) yaitu dua kerajaan yang bersatu mengalahkan Bablilonia. 
Perut dan pinggang dari tembaga adalah kerajaan Yunani (Alexander The Great) yang mengalahkan Media-Persia. Paha dari besi yang kakinya terbuat dari campuran besi dan tanah liat adalah persekutuan raja-raja Eropa dibawah kendali Romawi kuno (Herodes).

Empat kerajaan ini adalah kekuatan yang pernah menguasai dunia, menjadi pusat kendali dan menjadi pemimpin dunia. Mereka pernah mengendalikan politik, keamanan, perekonomian, gaya hidup seluruh dunia. Tidak ada satu kekuatan lawan yang berani muncul dikala mereka sedang bertengger pada kursi kejayaannya, semua akan ditumpas habis olehnya. 

Oleh karena itu sejarah mencatatnya sebagai kerajaan- kerajaan besar yang memberi pengaruh kuat pada perkembangan dunia. Kemudian ada sebuah batu yang terungkit lepas tanpa campur tangan manusia menggelinding tepat mengenai kaki yang terbuat dari besi dan tanah liat. 

Siapakah batu yang dinubuatkan dalam takwil Daniel itu? Dialah Yesus sang juru selamat yang diutus Tuhan untuk menghancurkan imperium Romawi dengan sekutu raja-raja Eropa yang dilambangkan sebagai kaki dan jari patung itu.

Warta Utama Yesus Tentang “Kerajaan Allah’’

Clayton Sullivan dalam tulisannya , ‘’Selamatkan Yesus dari Orang Kristen “ memaparkan; Dari penyelidikan selama dua ratus tahun tentang sejarah Yesus, para penyelidik menyimpulkan bahwa warta utama Yesus adalah mengenai datangnya Kerajaan Allah yang akan tiba di bumi.

Kemunculannya akan terjadi dalam waktu yang sangat dekat. Sesungguhnya, kedatangan kerajaan yang sebentar lagi itu adalah berita injil yang asli. Oleh sebab itu, injil Markus mengkhususkan warta utama Yesus; “ waktunya telah genap, Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah pada injil” (Markus 1:15). Kata Sullivan.

Para Ahli Biblikal sepakat bahwa warta utama Yesus adalah berita gembira (injil) tentang sudah dekatnya Kerajaan Allah, yakni bangkitnya kembali Yerusalem seperti dinubuatkan oleh para nabi bani Israel. 

Injil adalah suatu turunan dari kata Yunani euanggelion, dan diperkirakan lewat bahasa Ethiopia masuk ke dalam bahasa Arab dan Alquran. Yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan Gospel (the good news).’’Mukhlisin Purnomo’’ (2012).


Orang-orang Kristen awal disebut sebagai kelompok yang pertama kali menggunakan kata benda ‘’injil’’ yang berarti kabar baik; kabar gembira. Hal ini dilakukan Yesus sebagai satu cara untuk menekankan isi pesan dari pewartaannya kepada bangsanya yang tertindas. 

Sesuatu disebut ‘’kabar’’ manakala hal tersebut berkaitan dengan suatu peristiwa baru, peristiwa yang belum lama terjadi, atau peristiwa yang diyakini akan terjadi dalam waktu dekat. Demikian pula, suatu kabar disebut ‘’kabar baik’’ manakala kabar tersebut memberikan asa dan keberanian serta membuat pendengarnya gembira. 

Injil Allah yang diberitakan Yesus adalah dalam rangka memberikan harapan, keberanian, dan kegembiraan kepada bangsa Israel akan datangnya Kerajaan Allah dalam waktu dekat. Kabar baik inilah yang menjadi warta utama dari Yesus.

Jika warta utama nabi Musa adalah tentang penggenapan “Tanah Perjanjian” maka warta utama dari Yesus Kristus adalah penggenapan datangnya Kerajaan Allah, baik secara spiritual maupun politik. 

Artinya, sentral pewartaan wahyu Yesus adalah berita tentang datangnya Kerajaan Allah. Dr. Jhon H.P Reumann, menegaskan bahwa mayoritas ahli Alkitab, baik dari Protestan, Katolik dan non-Kristen sepakat tentang warta utama Yesus ini.

Gerakan Mesianik Yesus

Bagi Yesus, ajaran leluhurnya (Abraham) bukan hanya sekedar ritus-ritus rohani. Sementara masalah politik kekuasaan tunduk kepada raja-raja bangsa yang tidak mengenal hukum Taurat. Yesus menerangkan bahwa, Bangsa Israel akan tetap berada dalam kutuk jika mereka tidak berani melepaskan diri dari kekuasaan kaisar. 

Gerakan politik semacam ini yang bertujuan untuk kemerdekaan Israel sudah dimulai sejak zaman Makabe, dua ratus tahun sebelum kehadiran Yesus. Dari pemberontakan kaum Makabe ini, ribuan orang Israel dibantai dan disalib oleh tentara Romawi?. Sisa gerakan kaum Makabe membentuk faksi-faksi bersenjata seperti kaum Zelot, Eseni, Nazarea dan sebagainya. 

Mereka melakukan pergerakan bawah tanah, dan kamp-kamp mereka tersebar di hutan-hutan dan gurun tanah Yudea. Gerakan mesianik Yesus termasuk salah satunva. Yesus pernah dibujuk untuk bergabung dengan mereka tetapi Yesus menolaknya. 

Penolakan Yesus bukan karena ia berpaham agamis yang hanya mengurusi masalah ritus dan doa-doa semata, tetapi Yesus menghendaki gerakan kemerdekaan Israel itu dimulai dari menyembuhkan aqidah bangsa Israel dari kemusyrikan dalam bentuk bertuhan kepada uang, jabatan dan gengsi. 

Yesus memandang bahwa mental agamis ahli Taurat dan imam-imam agamis semodel Farisi dan Saduki pada dasarnya sama dengan kaum Zelot, yaitu haus kekuasaan, uang dan gengsi. Jika mental atau iman Israel masih seperti ini, maka kekuasaan dalam kerajaan itu akan tetap dijadikan sarana untuk menindas bangsa Israel yang sedang terkutuk. 

Yesus ingin meraih ‘’Kerajaan Allah’’ yang sesuai dengan kehendak Allah, sebagaimana yang diajarkan Allah kepada Abraham, yang bersifat ‘’Pengasih dan Penyayang’’ untuk seluruh ummat manusia, di mana Bangsa Israel menjadi pelopornya. 

Di dalam Kerajaan Allah, semua pemimpin harus sadar bahwa mereka hanyalah “pelayan Allah’’ yang memimpin dan menghakimi sesuai dengan keadilan yang diridhai dan dikehendaki oleh Tuhan. Tidak boleh ada penyembahan, pengagungan dan kepatuhan selain kepada Tuhan Yang Esa.

Prinsip hanya bertuhan kepada Allah semesta alam, harus dijunjung tinggi dan dihormati atas dasar keimanan, bukan formalitas atau keterpaksaan. Inilah yang dikenal dengan Millah (Ajaran) Abraham yang lurus atau hanif yang dianut oleh nabi dan rasul-rasul Israel. Untuk mewujudkan cara hidup yang lurus seperti ini tidak mungkin dapat dilaksanakan tanpa kerajaan atau kekuasaan politik yang merdeka. 

Jika Bangsa Israel ingin hidup seperti di zaman Daud, Israel harus kembali kepada prinsip hidup tauhid yang seperti ini. Hanya dengan kembali kepada tauhid dan perjanjian dengan Allah inilah, bangsa Israel akan dianugerahi kerajaan yang penuh berkat sebagai hadiah ‘’Hari Raya’’ bagi pengikut Isa Ibn Maryam yang setia. 

Penulis: Andi Zulfitriadi (Aktivis Lintas Iman)




Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama