Apakah “Shirathal Mustaqim” Itu?

Apakah “Shirathal Mustaqim” Itu?

Tunjukilah kami jalan yang lurus (benar), (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) meraka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yamg sesat.
[QS. Al-Fatihah (1) : 6-7]

Sahabatku ...

Anda mungkin pernah mendengar jika surat Al-Fatihah (1) di sebut juga dengan ummul kitab (induk Al-Quran), yang mengandung seluruh apa yang ada di dalam Al-Quran. Surat Al-Fatihah juga menjadi surat yang wajib di baca dalam setiap rakaat shalat. Tujuh belas kali surat ini di baca setiap hari oleh mereka yang rajin melakukan shalat lima waktu.

Shalat itu adalah doa, karena di dalam shalat ada banyak doa yang di baca, termasuk di dalam surat Al-Fatihah mengandung doa agar kita di tunjuki jalan yang lurus (shirathal mustaqim). Itu berarti setiap hari tujuh belas kali pula Anda berdoa meminta petunjuk akan jalan yang lurus. Pertanyaannya, sudakah Anda ditunjuki jalan yang lurus itu? Sudakah Anda berjalan pada jalan yang lurus itu? Apakah wujud dari jalan yang lurus itu?


Semasa kanak-kanak, penulis atau mungkin juga Anda, pernah disampaikan tentang shirathal mustaqim itu seperti apa. Shirathal mustaqim itu adalah jembatan di akhirat nanti yang harus dilalui oleh setiap orang yang akan menuju surga, namun sangatlah sulit untuk dilalui. Kesulitannya bagai berjalan di atas sehelai rambut di belah tujuh, sangatlah sulit. Hanya amal ibadah manusia yang dapat menolongnya melewati jembatan shirathal mustaqim tersebut. Diperlukan kecepatan tertentu untuk bisa melewatinya. Bagi mereka yang tidak berhasil melewatinya, akan jatuh kedalam neraka (api yang menyala-nyala). Demikian ajaran atau doktrin yang pernah penulis terima kala masih kanak-kanak dahulu.

Mari kita cerdasi dan renungi bersama ajaran tersebut. Bagaimana mungkin shirathal mustaqim itu adanya nanti di akhirat, padahal kita memintanya saat di dunia dan untuk keselamatan hidup di dunia? Bukankah keselamatan di akhirat (kehidupan setelah mati) di tentukan oleh kehidupan di dunia ini? Belum lagi jika bicara soal surga dan neraka yang sesungguhnya seperti apa. Sehingga penulis berkesimpulan bahwa cerita tersebut hanyalah doktrin spritual nenek moyang. Namun satu hal yang dapat menjadi benang merahnya, bahwa berjlan di atas shirathal mustaqim adalah sesuatu yang sulit dan berat. Jika Anda tidak konsisten, Anda akan tergelincir ke dalam neraka (jalan yang sesat; jalan yang penuh murka Allah).

Lalu apa sesungguhnya “shirathal mustaqim“ itu? Bukanlah hal yang sulit untuk menjawabnya dan menentukan wujud dari shirathal mustaqim itu selagi dikembalikan sumbernya yang benar, yakni Al-Quran. Biarlah Allah (Al-Quran) sendiri yang menjawab dan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan di atas. Hilangkan segala prasangka dan tradisi nenek moyang yang ada dalam pemikiran Anda. Fungsikan Al-Quran sebagai kitab Petunjuk dalam mencari kebenaran sejati. Anda tidak akan salah jalan selama konsisten mengikuti petunjuk wahyu Allah sebagai sumber Kebenaran Sejati.

Silahkan cerdasi kembali firman Allah dalam surat Al-Fatihah (1) ayat 6-7 tersebut : 

6 Tunjukilah kami jalan yang lurus (benar), 7(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) merekayang sesat.

Sudah menjad pengetahuan umum bahwa salah satu funsi ayat-ayat Al-Quran adalah kemampuan menafsirkan dirinya sendiri. Dengan kata lain, ayat-ayat Al-Quran menafsirkan ayat-ayat yang lainnya (tafsir al-ayat bi al-ayat). Dalam kasus di atas, Allah sendiri sudah menafsirkan apa yang di maksud dengan shirathal mustaqim itu.

Para penafsir sering menerjemahkan shirathal mustaqim dengan “ jalan yang lurus” sebagai lawan dari “jalan yang menyimpang”. Tentu saja menyimpang dari kebenaran, sehingga shirathal mustaqim lebih tepat jika diartikan “Jalan Kebenaran”, yakni jalan Allah, lawan dari “jalan kesesatan” atau “jalan yang di murkai Allah”.


“Tunjukilah kami jalan Kebenaran” (ayat 6). Apa yang di maksud “Jalan Kebenaran”itu ditafsirkan pada ayat berikutnya, “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) merekayang sesat (ayat 7)”. Jadi, ayat 7 sudah menjelaskan apa yang di maksud dengan shirathal mustaqim itu, jalan yang selama ini di minta oleh miliaran manusia. Hanya saja penjelasan tersebut masih belum konkrit, karena masih menyimpan beberapa pertanyaan lanjutan. Siapa yang di maksud dengan kata “mereka” yang telah diberi ni’mat oleh Allah? Dan apa bentuk ni’mat tersebut?

Mari kita cari tahu penjelasannya! Yang dimaksud dengan kata ganti “mereka” pada ayat di atas dijelaskan atau ditafsirkan dalam surat An-Nisa (4) ayat 68-70 berikut ini :

68 Dan pasti Kami tunjuki kepada mereka jalan yang lurus. 69Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang telah dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman sebaik-baiknya. 70Yang demikaian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui. 

Dari penjelasan (tafsir) di atas, sudah jelas bahwa yang di maksud dengan kata ganti “mereka” yang diberi ni’mat oleh-Nya pada surat Al-Fatihah (1) ayat 7 adalah Nabi, para shiddiqin, para syahid dan orang-orang saleh. Mereka inilah yang telah dikaruniai ni’mat dari Allah, yang menjadi Rabb, Malik dan Ilah ummat manusia. Merekalah yang berjalan pada jalan kebenaran Allah (shirathal mustaqim). Dengan demikian, shirathal mustaqim itu adalah jalan yang ditempuh oleh para Nabi dan Rasul Allah beserta orang-orang beriman di zaman dahulu yang juga harus ditempuh oleh mereka yang beriman saat ini.

Perhatikan juga firman-Nya dalam surat Maryam (19) ayat 57-58:

57 Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi. 58Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni’mat oleh Alllah, yaitu para Nabi dan keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh,dan dari keturunan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.


Lalu apa bentuk ni’mat yang telah Allah anugerahkan kepada mereka? Jika mempelajari sejarah peradaban dunia dan informasi Wahyu yang ada didalam Al-Quran, maka bentuk anugerah atau karunia yang telah Dia berikan kepada Rasul-Nya dan orang-orang beriman adalah “Khilafah”, yakni menjadi penguasa di muka bumi. Inilah tradisi Allah (sunnatullah)yang berlaku bagi mereka yang berjalan di jalan-Nya. Bahkan hal ini sudah menjadi janji Dia yang pasti ditepati bagi mereka yang beriman dan beramal saleh. Secara tegas janji Allah tersebut tertuang dalam surat An-Nur (24) ayat 55 berikut ini :

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriaman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka din yang tlah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap mengabdi kepada-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang fasik.

Sudah menjadi sunnah-Nya, Dia akan menjadikan mereka yang beriman dan beramal saleh, dalam pengertian mereka yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan melaksanakan segala perbuatan baik yang diperintahkan oleh-Nya, sebagai Khilafah (penguasa) dunia, seperti yang telah dianugerahkan kepada para Rasul dan orang-orang beriman di zaman dahulu.

Misalnya, Allah menganugerahkan “Khilafah” (kekuasaan) kepada Rasulullah Nuh as. beserta pengikutnya, seperti tertulis dalam surat Yunus (10) ayat 73 : 

Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.

Khalifah (kekuasaan) juga Allah berikan kepada Rasulullah Musa as. beserta Bani Israel seperti tertulis dalam surat Al-A’raf (7) ayat 137 :

Dan kami pusakakan kepada kaum yang telah tertindas itu, negeri-negeri bahagian Timur bumi dan bahagian Baratnya yang telah Kami beri berkah kepadanya. Dan telah sempurnalah perkataan Rabbmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israel disebabkan kesabaran mereka. Dan kami hancurkan apa yang telah dibuat fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.

Begitupula Dia memeberikan Khilafah (Kerajaan;Kekuasaan) kepada Rasulullah Isa as. beserta pengikutnya setelah melalui kemenangan dalam peperangan, seperti tertuang dalam surat Ash-Shaf (61) ayat 14 :

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (din) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan din) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata : “Kamilah penolong-penolong din Allah”, lalu segolongan dari Bani Israel beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. 


Berkat kekuatan (pertolongan dari Allah, orang-orang beriman dan kaum Anshar di bawah pimpinan Isa as. berhasil memenangi peperangan. Ayat ini sekaligus ingin meluruskan keyakinan sebagian besar atau mayoritas ummat manusia, bahwa Nabi Isa as. bukanlah Nabi yang gagal dalam menggenapi nubuat para Nabi Bani Israel sebelumnya, atau Nabi yang hanya berdakwah selama 3 tahun kemudian di salib, mati dikubur, kemudian pada hari ke-3 naik ke langit duduk disamping Allah di surga. Adalah hal yang tidak logis, jika ada Rasul Allah yang gagal dalam menjalankan tugasnya untuk menegakkan Khilafah Allah di bumi. Bukankah Allah Yang Maha Kuasa senantiasa membimbing mereka, selama mereka taat kepada-Nya? Dan ini juga terbukti pada zaman Rasulullah Isa as. jika bukti sejarah akan kejayaan Nabi Isa as. dan generasinya tidak dapat ditemukan saat ini, bukan berarti mereka tidak punya sejarah dan karya. Adalah hal yang lumrah bagi penguasa kafir-musyrik (Romawi) untuk membumi hanguskan semua peninggalan peradaban Islam di zaman Isa as. demi maksud dan tujuan tertentu. Sebuah orde penguasa akan mampu melenyapkan sejarah orde penguasa sebelumnya.


Bukti bahwa Dia telan menganugerahkan ‘khilafah” kepada Bani Israel di zaman Isa as., secara indah (dalam bahasa alegoris) dinyatakan dalam Al-Quran surat Al-Maidah (5) ayat 112-115 berikut ini :

112(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: "Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Rabbmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?". Isa menjawab: "Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman”. 113Mereka berkata: "Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu". 114Isa putera Maryam berdoa: "Ya Rabb kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rzekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezki Yang Paling Utama". 115Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia".

Bani Israel memohon kepada Nabi Isa agar meminta “hidangan dari langit” kepada Allah. Yang dimaksud dengan “hidangan dari langit” disini bukanlah makanan biologis, karena hal tersebut tidak masuk akal. Tetapi yang diminta adalah hidangan berupa “Kerajaan Allah” atau “Khilafah” di muka bumi seperti yang pernah diberikan kepada nenek moyang mereka di zaman Nabi Musa. Hal ini dapat juga di temukan dalam Alkitab PB Matius 6 ayat 9-10 : 
9Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, 10datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.

Untuk memperoleh “hidangan” tersebut, maka Bani Israel diharuskan untuk iman dan taat kepada-Nya. Mereka sangat berharap dapat menikmati dan menyaksikan datangnya “hidangan” tersebut semasa hidup mereka. Nabi Isa pernah berkata kepada pengikutnya;

Kata-Nya lagi kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa." (Injil Markus 9: 1)

Untuk itulah mereka meminta Nabi Isa untuk berdoa kepada Allah agar diturunkan (dianugerahkan) hidangan dari langit tersebut.

Pada ayat 114 sangat jelas, bahwa “hidangan” (Al-Maidah) yang diminta oleh mereka bukanlah makanan biologis, karena “hidangan” tersebut akan menjadi “Hari Raya” bagi mereka dan bagi orang-orang yang datang kemudian (anak keturunan mereka) dengan memperingati setiap tahun. Menjadi “Hari Id”, karena hari kemenangan ummat Islam Bani Israel adalah hari kembalinya mereka kepada fitrahnya yang sejati, yakni menjadi hamba-hamba Allah yang tunduk patuh kepada sistem hukum-Nya yang ditegakkan oleh penguasa kekuasaan (Kerajaan) Allah atau Yerusalem (Darussalam). Hari dimana mereka telah terbebas dari dosa, yakni merdeka dari perbudakan dan penjajahan Raja bangsa-bangsa yang selama itu menindas Bani Israel. Mereka tidak akan dapat merayakan “Hari Id”, jika mereka tidak dianugerahi kemenangan dan kekuasaan (Khilafah) oleh Allah.

Ayat 115 menegaskan bahwa “hidangan dari langit” yang di tunggu-tunggu oleh Bani Israel dijawab oleh Allah. Dengan kata lain, karena mereka tetap iman dan taat kepada perintah Allah (beramal saleh) –termasuk perintah untuk perang, maka Dia menganugerahkan kemenangan dan kekuasaan (Khilafah) sebagai “hidangan dari langit”; anugerah Kerajaan Allah. Inilah bentuk dari ajran ‘adziman (ganjaran yang amat besar) atau ni’mat dari Allah bagi mereka yang beriman dan beramal saleh.

Janji menjadikan mereka penguasa atau pemimpin dunia juga pernah disampaikan Allah kepada Nabi Ibrahim as. seperti tertera dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 124 :

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Rabbnya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku"[88]. Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".

Begitu pula penegasan Din dalam surat An-Nisa (4) ayat 54 :

Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karuniayang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.

Renungkan juga firman Allah dalam surat At-Tawbah (9) ayat 111 :

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. 

Begitu pula ni’mat kekuasaan yang diberikan oleh Allah Nabi Muhammad, seperti ditegaskan dalam surat Al-Maidah (5) ayat 3 :

Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) din mu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu din mu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi din bagimu.

Perhatikan pula penegasan surat Al-Ahzab (33) ayat 27 :

Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.

Sahabtku...

Demikianlah bentuk ni’mat (anugerah atau karunia) yang telah Allah berikan kepada mereka yang berjalan pada “Jalan Kebenaran-Nya”. Sudah semakin jelas apa yang dimaksud dengan shirathal mustaqim itu. Lalu pertanyaan selanjutnya, apa wujud dari shirathal mustaqim yang mejadi pegangan dan jalan hidup para Nabi dan Rasul Allah tersebut? 

Untuk menjawabnya, mari perhatikan firman Allah dalam surat Al-An’am (6) ayat 161 :

Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Rabb-ku kepada jalan yang lurus, (yaitu) din yang benar, din Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik".

Ayat ini sudah sangat jelas dan tegas menyatakan, bahwa petunjuk shirathal mustaqim yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad adalah din yang benar; yakni Millah Ibrahim yang murni. Ayat ini menegaskan, bahwa din yang dibawa dan diajarkan oleh oleh Nabi Muhammad sesungguhnya bukan din yang baru, melainkan din yang sudah pernah diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim (Abraham), yang juga diikuti oleh para Nabi dan Rasul Allah sesudahnya. Bahkan Nabi Muhammad memproklamirkan dirinya sebagai pengikut Millah Ibrahim yang hanif. Perhatikan juga firman Allah dalam surat An-Nahl (16) ayat 123 berikut ini :

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah Millah Ibrahim seorang yang hanif" dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Al-Quran surat An-Nisa (4) ayat 125 :

Dan siapakah yang lebih baik din-nya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti Millah Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.

Al-Quran surat Ali ‘Imran (3) ayat 95 :

Katakanlah: "Benarlah (apa yang difirmankan) Allah". Maka ikutilah Millah Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.

Al-Quran surat Al-hajj (22) ayat 78 :

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam din suatu kesempitan. (Ikutilah) Millah orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong.

Dengan demikian, semakin jelaslah bagi kita apa yang dimaksud dengan “jalan yang lurus” itu. Shirathal mustaqim itu adalah Millah Abraham, yakni Jalan Kebenaran Allah, Tuan Yang Maha Esa, yang menjadi konsep dan jalan hidup atau sistem hidup para Nabi dan Rasul Allah dalam memperjuangkan tegaknya sistem hukum yang benar dalam suatu Khilafah (kekuasaan) Allah demi terwujudnya kedamaian dan kesejahteraan hidup ummat manusia di muka bumi.

Milllah Abraham adalah konsep atau jalan hidup yang berbeda dengan apa yang ditempuh oleh mereka yang berjalan pada jalan yang dimurkai Allah dan jalan yang sesat. Kenapa mereka mendapat murka Allah? Allah murka karena mereka sesungguhnya ummat atau bangsa yang telah disampaikan misi risalah-Nya dan memahami “Kebenaran Allah” yang sejati, namun mereka lebih memilih jalan hidup yang lain, yang dibuat oleh nenek moyang mereka sendiri (kafir-zalim). Mereka mengafiri (menolak) kebenaran yang disampaikan oleh saksi-saksi Allah hingga pada saatnya tiba, Allah memberikan azab-Nya kepada mereka.

Begitu pun halnya dengan mereka yang berjalan pada jalan kesesatan, yang tidak mendapatkan wahyu Allah atau sinar Allah, sehingga mereka tetap dalam kegelapan. Ketika Nur Allah menghampiri mereka, ada yang menerimanya sehingga mereka keluar dari kehidupan yang gelap menuju kehidupan yang penuh dengan sinar (ilmu) Alllah. Namun tidak sedikit yang menolak Nur Allah tersebut, sehingga mereka tetap bergelimang dalam kegelapan dan kesesatannya hingga datangnya hari penghakiman bagi mereka di dunia ini.

Mengakhiri renugan kali ini, mari sahabat cerdasi firman Allah dalm surat Al-Baqarah (2) ayat 257 berikut ini :

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Akhirnya, jalan apa pun yang menjadi pilihan manusia adalah menjadi hak asasi dan tanggung jawabnya sendiri. Setiap pilihan jalan yang akan ditempuh memiliki proses dan konsekuensi tersendiri. Untuk itu, pahami dan yakini jalan apa yang akan menjadi pilihan Anda. Jadikan Shirathal Mustaqim, Jalan Kebenaran Allah, yakni Jalan Millah Ibrahim; Jalan para Nabi dan Rasul Allah sebagai pilihan jalan hidup Anda untuk mendapat ni’mat dari-Nya. Jika demikian, itu berarti doa Anda telah dijawab oleh-Nya dan shalat Anda pun tidak sia-sia lagi. 

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama